The Chronicles of Nyanyaa

THE CHRONICLES OF NYANYAA
Ini Kisah Nyata - Ini Kisah Nyanyaa

Monday, July 22, 2013

TUGAS (TER-)AKHIR -- part 1

TUGAS (TER-)AKHIR
PART 1

                “LAAAAUUUUUUT!”
                “HERE WE COME, UUUUUT!”
                “KARJAAW, DIEM DI SANA BAEK-BAEK YAAAA, BENTAR LAGI KITA DATEEEENG!”
                “AAAAAAAAAAAKK!”
                Kami, empat mahasiswi Biologi tingkat akhir sedang dengan begitu kampungannya berteriak-teriak di pinggir pelabuhan Kartini, tak sabar menunggu KM Muria merapat dan membawa kami ke sana, Karimun Jawa. Kami berempat adalah teman satu jurusan di salah satu Universitas yang cukup beken di Semarang. Kami berempat begitu akrab, selain karena masing-masing punya sifat yang tidak saling berseberangan, kami pun berkampung halaman sama, Jepara.
                Ini sudah kali ketiga kami liburan bersama ke sana, tapi tak juga menyurutkan excitement kami terhadapnya, ya, Karimun Jawa memang terlalu indah untuk ditanggapi biasa-biasa saja. Perjalanan kali ini memang liburan bagi kami, tapi tidak bagiku, ada misi mulia yang juga cukup tengil di kepala, aku akan melakukan studi awal tugas akhir juga di sana. Tugas akhir ini tentang model budidaya long line Ptilophora pinnatifida atau ganggang merah. Supaya apaaa? Supaya bisa bolak-balik ke sana tentunyaaa, hahahaa. Kebetulan beasiswa yang aku terima juga mencakup pembiayaan penelitian tugas akhir, asik sekali kan?
                Angin meniup wajahku dengan sangat kencang, aku sangat menikmatinya, hingga akhirnya, Rara, teman yang berdiri di samping kiriku berkata, “rambutmu mbok ya dikuncir tho, dari tadi nampar-nampar pipiku ini,” akupun segera mengikat rambut panjangku demi menghilangkan cemberut di wajah manis Rara.
               Wajar angin bertiup sangat kencang, ini Maret, bulan lalu adalah akhir dari musim baratan, begitu warga sekitar menyebut musim angin barat yang menerjang-nerjang laut. Yap, Januari hingga Februari adalah bulan-bulan yang riskan bagi pelayaran Jepara-Karimun Jawa dan sebaliknya, karena curah hujan dan tinggi ombak meningkat di bulan-bulan ini. Segala aktifitas pelayaran dihentikan pada dua bulan tersebut, kecuali kapal-kapal besar, itu pun di waktu tertentu yang merupakan sela dari musim baratan, di mana ombak sedang tidak begitu tinggi. Sela musim baratan biasanya dipakai kapal besar untuk berlayar mengangkut kebutuhan pokok ke Karimun Jawa. Sempat ada ide untuk ikut KM Muria di sela musim baratan tersebut saking tak sabarnya kami menyicipi laut, tapi, buat apaaa, di sana kami tidak akan bisa menikmati pergi ke pulau-pulau sekitarnya.

***

                “Ran, di luar kok agak-agak gelap ya?” Suara Resti menyadarkanku yang sedari tadi duduk terkantuk-kantuk. Kami berada di geladak penumpang, penumpang tidak begitu padat di sini, tapi geladak dasar penuh dengan barang kebutuhan pokok.
                “Iya ya, yaaah, kita tidak disambut ceria nih sama Karjaw, hahaa. Eh, jam berapa nih?”
                “Jam 12 lewat lima belas.”
                “Sholat dulu yuk, kalo kita mati di kapal ini kan setidaknya dalam keadaan udah sholat tuh, hahaa.”
                “RANIAAA, mulai deh....”
                “Eh, bener kan, ahahaa. Yuk ah cus. Ra, yuk, sholat yuk.”
                “Eh? Okeee...,” dengan setengah sadar Rara mengucek matanya, “Ini Kanya gimana?” Rara menunjuk Kanya yang tidur bagai bangkai, tak bergerak, tak terganggu.
                “Tu anak mabok ant*mo ya, pules amat, ya udah tinggalin aja Ra, masih halangan kan dia.”
                “Iya, masih halangan, oh iya, kan dia besok baru beres halangannya, kita ga boleh snorkeling dulu hari ini katanya, kebersamaan.”
                “Wahahaa, males banget, kita sih snorkeling-snorkeling aja, dia suruh jaga penginapan, sambil ngeceng mas-mas yang Mirip  Bruno Mars itu loh.”
                “Oh, si Mars Bruno yang tahun lalu itu?”
                “Iyaaaa, hahahaa. Yuk ah,” bertiga kami menaiki tangga ke main deck kapal, lima kali menaiki kapal ini membuat kami sudah hafal betul tempat-tempat penting di sini, toilet, kantin, tempat duduk, musholla, penyimpanan life jacket juga sekoci.

***

                “Astagfirullahaladzim!” serempak kami berteriak, mukena yang dilipat Resti sempat berhamburan lagi ke lantai saking kagetnya merasakan kapal yang oleng karena terjangan ombak tinggi.
                “Raaa, Raaan, ini kok serem banget yaaa...,” kepanikan mengiasi wajah Resti yang cantik.
                “Tenang-tenang Res, ini Maret, dan lagi, nggak mungkin kan kapal ini boleh jalan kalau bakal ada badai. Senyuuum,” aku yang mantan Ketua Murid memang selalu punya naluri menenangkan orang lain, mengabaikan detak jantung sendiri yang berkejaran, takut. Dari berbagai cara mati yang ada di dunia, aku memang paling tidak ingin mati karena tenggelam, terbayang betapa menyakitkannya, mati perlahan dalam kepanikan. Lalu terbayang wajah ayah di rumah, beliau hanya punya aku, aku bergidik.
                “Global warming changes weather patterns, Ran. Gimana kalo perkiraannya salah, baratan sebenarnya masih berlangsung,” Resti meremas tangan Rara.
                “Sssttt, tadi udah pada berdoa buat keselamatan kita dan semua penumpang di sini kan?” Resti dan Rara mengangguk pelan atas pertanyaanku. “Then, we’ll safe. Yuk balik, Kanya kasian,” senyumku lebar, menggandeng Resti untuk kembali ke geladak penumpang. Tap tap tap.
                “ASTAGFIRULLAHALADZIM!” Kami bertiga berpegangan sambil satu tangan lainnya berpegangan pada pegangan di geladak utama ini. Sebuah ombak tinggi baru saja menerjang kami, tidak main-main, sekitar empat meter lebih, sedangkan ombak paling tinggi yang tercatat saat musim baratan adalah lima meter. Kapal rasanya miring ke kanan.
                Ngiiiiiiiiiiiing.. Suara bising pengeras suara yang baru dinyalakan menggema, aku tau kalimat apa yang akan keluar darinya.
                “Rara, Resti, kalian pakai life jacket ini,” terburu-buru aku mengambil life jacket yang menempel di dinding-dinding geladak utama, dekat dengan kami.
                “Ke.. kenapa Ran?”
                “Yang kencang, lalu jalan hati-hati ke sekoci seberang sana, aku ke bawah, jemput Kanya, sebelum orang-orang berhamburan ke atas sini,” kupakai life jacket-ku. Rara dan Resti untungnya kooperatif jika sudah mendengar kalimat berupa perintah dariku.
                “Jangan nangis,” masih sempat aku menyentuh pipi Resti, sedangkan Rara menggenggam tangannya bersiap jalan ke sekoci.
                “Hati-hati,” kata Rara mengiringiku yang berjalan menuju tangga.
                “Ngiiiiiiiiiiing, ngiiiiiing, perhatian, penumpang yang terhormat, harap mendengar pengumuman ini dengan cermat, jangan panik. Ombak yang baru saja menerjang kapal ini menyebabkan kapal miring ke kanan, penumpang diharap memakai life jacket yang berada di lemari-lemari berwarna orange di samping-samping geladak. Setelah itu, dengan tertib penumpang diharap menuju geladak utama dengan tangga kiri, awak kapal akan membimbing menuji sekoci,” pengumuman dari pengeras suara mengiringi jalanku di tangga yang belum padat, syukurlah. Suara khas kepanikan memenuhi geladak penumpang. Pengumuman setenang apapun memang tak akan mampu membendung kepanikan sekitar 150 orang dalam geladak.
                “Kapal ini akan tenggelam mas? Tenggelam?”
                “Ada kemungkinan seperti itu, Bu.”
                Awak-awak kapal membantu penumpang dengan urusan life jacket­-nya. Beberapa orang berpapasan denganku, “KE ATAS MBAK!” yang kujawab dengan, “jemput teman mas, tidak jauh dengan tangga, sebentar.” Kami sama-sama tergesa, tak ada yang menyeretku ke atas, untunglah.
                Itu dia, Kanya, sudah terbangun dari tidurnya dengan wajah ekstra panik, “KANYA!” Kanya mencari suaraku, melihatku, lalu segera berusaha menujuku. “LIFE JACKET-NYA DULU NYA!” Kanya mengangguk, dalam kerumunan dia menuju awak yang membawa life-jacket, Kanya yang bertubuh kecil belum sampai di hadapan awak tersebut ketika seorang bapak mengambil seluruh jaket tersebut untuk keluarganya. Kanya tenggelam dalam kerumunan, hatiku mencelos. “KANYA! KANYA! KAMU BISA DENGER AKU KAN?!”
                “IYA BISAAA!” cempreng suaranya membuatku lega.
                “KAMU JALAN KE TANGGA KIRI, HATI-HATI, PELAN-PELAN AJA NYA, AKU AMBILIN LIFE JACKET BUAT KAMU!” Kanya di sana terisak, hanya mengangguk. “KANYA! KANYA? KAMU DENGER KAN?”
                “IYA DENGER! IYA, AKU KE TANGGA!” teriakan Kanya bergetar, aku tahu dia menangis.
                Segera aku ke awak lain yang masih membawa life jacket. Tidak sesulit Kanya, tubuhku agak besar. “Mas, satu.”
                “Itu?” ia melihat life jacket yang sudah kukenakan.
                “Untuk temanku!” suaraku meninggi.
                “Teman yang mana? Mungkin dia sudah diberi life jacket oleh awak lain!” telingaku tak dapat lagi membedakan yang mana ketus yang mana tegas.
                “Di sana! Kecil, dia, dia kesulitan!”
                “Life jacket ini jumlahnya pas. Mbak jangan main-main. Ini menyangkut nyawa orang lain!”
                “INI MENYANGKUT NYAWA TEMAN SAYA!” kutatap awak itu, tepat di matanya, lurus, satu detik setelahnya air mata mengaburkan pandanganku. Detik berikutnya, tanganku sudah menyentuh life jacket, awak tadi yang memberi, ditepuknya lenganku, “hati-hati mbak, doaku untukmu.” Kuseka air di mataku, ada senyum di wajah kami berdua.
                Segera aku menuju tangga, Kanya menunggu di sana. Kupeluk tubuh mungilnya, beberapa bulir air jatuh lagi, menuju pundaknya. Kanya sudah mempersiapkan mentalnya dengan baik rupanya, dia tak menyambutku dengan tangis, di tepuknya punggunggu. “Rania, kita akan baik-baik aja.”
                “Iya Nya, pasti,” kulepas pelukanku, menyeka lagi air mata dengan terburu-buru. “Pakai Nya, yang kenceng ya,” Kanya segera memakai life jacket-nya.
                “Yuk Nya.” Kugenggam tangan Kanya, membimbingnya menaiki tangga.
                “Yang lain udah di atas kan?”
                “Iya.”

***

                Tidak ada yang berbicara, sembilan orang dalam sekoci ini hanya mampu memandangi kapal yang semakin turun, tertelan air laut, kapal ternyata benar-benar tenggelam. Isak tangis seorang ibu menghiasi keheningan kami, ada sedikit nada ratapan di sana. Ya, betapapun bersyukurnya beliau atas keselamatannya, tetap saja, separuh hidupnya tertinggal di sana, toko berasnya akan kosong hingga entah berapa lama, seluruh bulirnya tenggelam di sana.
                Tidak ada awak kapal di sekoci kami, dan diantara penumpang sekoci ada kami berempat, berpegangan, terhuyung-huyung dalam ombak. Sedikit saja kata yang mampu kami tukar, tapi ada syukur di dalamnya. Kadang ombak yang agak besar membuat kami melepaskan genggaman masing-masing, untuk kemudian berpegang erat di sekoci.
                “Mm, makasih ya kalian semua...,” aku memulai pembicaraan. “Makasih untuk persahabatan kita selama ini...,” entahlah, kata-kata ini menghambur begitu saja tanpa kendali, begitu juga air di mataku.
                “Raniaaa, jangan bikin suasana jadi melankolis begini deeeh,” Rara menyambut kalimatku juga dengan kalimat yang basah dengan air mata. Jadilah kami berempat bertukar kata terimakasih dan maaf, ada perasaan nyaman setelahnya, lega.
                “ASTAGFIRULLAH, PEGANGAAAN!” aku melihat ombak setinggi 3 meter akan segera menerjang kami.
                Ombak segera menghempas, beberapa sekoci di depan kami sudah masuk dalam gulungan, “JANGAN! JANGAN PEGANGAN KE SEKOCI! ATUR NAPAS! BERSIAP UNTUK LOMPAT!” pikiran pendekku memilih untuk tergulung bebas di ombak lalu menyembul lagi dengan bantuan life jacket yang kami kenakan, daripada diam di sekoci yang pasti akan terbalik, akan lebih sulit menyembul lagi jika terjebak dibalik sekoci. “TARIK NAPAS! LOMPAT!” Semua orang dalam sekociku lompat di saat yang tepat, semua, kecuali aku dan gadis SMP di sebelahku. Kutarik tubuhnya, lompat. Ombak segera menggulung kami, untungnya tidak begitu lama, sehingga masih menyisakan nafas yang masih cukup untuk menyeret tubuh anak ini keluar dari balik badan sekoci. Phuuuuaaah, suaranya mengambil nafas melegakanku. Aku segera menyusulnya, menyembul ke permukaan benar-benar hal yang aku idamkan, nafasku mulai tercekat. Tapi kenapa? Gerakan tanganku tak membuatku maju, taliku, tali life jacket-ku menyangkut di sekoci.

21 comments:

  1. ada rasa bosan di awal,
    secara saya sudah bukan abg yg menikmati masa-masa liburan layaknya sudah kehiangan waktu santai. :(

    tapi bagaimana plot berujung pada sebuah twist yg masih belum bisa ditebak akhirnya,

    terpaksa...
    kita harus bersabar menanti pemirsah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mehehee, kaciaaan.. *pukpuk :3
      Iya nih mang, kalau Raisa mah terjebak nostalgia, aku mah terjebak deskriptif, yaaah sebelas duabelas laaaah kitaaa :P Gimana ya, deskriptif masih jadi pilihan utamaku euy untuk ngawalin cerita, supaya kesananya bisa diterima walau level wajarnya rendah. Deskriptif oh deskriptif :( Nisa oh Nisa :( Geulis oh geulis :(

      HIYAHAHAHAHAAA! Sampai jumpa di part keduaaa :D

      Delete
    2. like paman like ponakan!
      #teamDeskriptif

      hihi
      so far seneng gaya deskriptifnya. nisa bangetlah! :)

      Delete
    3. Yang artinya: suka pamannya mesti suka ponakannya juga
      *kemudian dikeplak*

      Ehehehee.. Makacih mang :3 Eh, baru nginget-nginget cerpenku jaman SMA dulu yang genre-nya komedi, komedi ngawur, ternyata dulu malah ga begitu deskriptif loh aku, kapan-kapan post aaah :3

      Delete
  2. eta deskriptiiiiif... haaa serem juga ngebayangin cerita ini sot... beneran!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini Kumei ya? Aaaaaakkk >< Makasih Kumei udah mampiiiir >< Aslinya, aku seneng banget ini ada yang baca selain mamang yang emang ngedorong aku nulis :D Ga begitu pede sih sama tulisan tema begini, baru sekali-kalinya, hee.. Jadi pas ada yang baca teh bahagia, lalala yeyeyeye!

      Ehehee, baguslah kalo bikin serem :3

      Delete
  3. asik banget mba bisa ngerjain tugas akhir sambil liburan gitu. mahasiswi biologi bisa gitu ya, kalo mahasiswa ilkom bisa gitu gak ya -____

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaa, ngambil datanya sih bisa sambil liburan, tapi tetep aja ngolah datanya nggak bisa sambil liburan, hihii.. Bikin aplikasi untuk travelling! Jadi bisa sambil liburan (dan ngabisin uang -___-) :)))

      Delete
  4. Biologi banget. Cerita yang gak bisa ke tebak. semangat Nisa! maen juga ke inankito.blogspot.com ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehee, masih ada part 2-nya nih Nan :D Semangat juga Naaaaan :D Siaaap :9

      Delete
  5. sepatu (sepakat setuju) sama kembaran sayah... :)
    awalnya ngebosenin... tapi ke tengah dan seterusnya sukses bikin penasaran...
    semacam sudah pernah dalam kondisi ini nis..??
    hmm... teringat aku yg juga pernah pada posisi itu,, syukurnya ombak dan badai tak sampai menenggelamkan kapal yang aku tumpangi..

    dan masih penasaran sama kelanjutannya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, blogku disambangi Adiiin :D Makasih Adin sudah mampir-mampiiir :D

      Huhuu, iya nih, amatir banget di genre ini (genre lain juga sih =="), jadi di awal-awal dipake buat pengkondisian supaya bencananya bisa agak masuk akal, hohoo.. Masih belum bisa menyajikan informasi dalam bentuk yg lebih ciamik dan menggigit nih :(

      Beluuum, pernahnya alhamdulillah cuma bis yang hampir keguling gitu.. Ya ampun Adin kebayang ih serem T,T Tapi alhamdulillah ya kamu masih selamat..

      Asiiik! :D
      *sebenernya sih makin takut bakal mengecewakan T,T

      Delete
    2. tapi kamu paham betul akan seluk beluk kapal itu lho yang buat aku salut.. :D
      udah berapa kali nis naik muria..??

      menulis ala selera penulisnya aja sih... suka ga suka dibaca orang mah urusan kedua...
      bahkan kadang ga disangka tulisan sederhana bs disukai banyak org... eh tulisan yang kalimatnya njelimet malah blm tentu enak dibaca.

      Delete
    3. tulisan yang kalimatnya njelimet >> gue banget. -___-

      Delete
    4. yess.. dan aku ga cukup lulus mengikuti kalimat2 njelimet mu twin... :D
      tapi kurasa itu dulu..
      aku suka passion mu yg sekarang...
      yaaaa... asal jangan dipaksakan saja.. karena justru akan merusak feel yang ingin disampaikan penulis toh...
      mari terus belajar menulis ^_^

      Delete
    5. Hehee, sekali, tapi waktu naik Muria itu Nisa emang niat mau nulis jurnal perjalanan gitu, jadi diapalin :3 *yang nyatanya ga jadi*

      "menulis ala selera penulisnya aja sih... suka ga suka dibaca orang mah urusan kedua...," --> couldn't agree more! Setujuuu! >< Iya betul, senyamannya kita dulu aja ya, sambil terus perbaikan diri :D

      Delete
    6. Eeeh, salaaah, dua kaliii, pulang pergi Karjaw :3

      Delete
    7. wooohh... krn niat nulis ya makanya diapalin.. pantes...
      aku yo tidur sepanjang perjalanan... ahahah... payah.. mabuk lautan sih :D
      taunya cuma di depan t4 duduk ku ada selemari pelampung.. siap2 klo kejadian kyk critamu ini kejadian, tau hrs lari kemana.. ehehe,,,
      tapi amit2 sih... >.<

      Delete
    8. Aku juga mabuk lauuuuuut >,< Tapi inget sih isi kapalnya sedikit2, hihii..
      Huaaaaaa, iya, amit-amiiiit >,<

      Delete
  6. iya ya serem ngebayangin ke karimun jawa kaya gitu hiiiiiii...deskriptif betul sekali, detail nisot menceritakan penokohannya, latar....

    ReplyDelete

Monday, July 22, 2013

TUGAS (TER-)AKHIR -- part 1

TUGAS (TER-)AKHIR
PART 1

                “LAAAAUUUUUUT!”
                “HERE WE COME, UUUUUT!”
                “KARJAAW, DIEM DI SANA BAEK-BAEK YAAAA, BENTAR LAGI KITA DATEEEENG!”
                “AAAAAAAAAAAKK!”
                Kami, empat mahasiswi Biologi tingkat akhir sedang dengan begitu kampungannya berteriak-teriak di pinggir pelabuhan Kartini, tak sabar menunggu KM Muria merapat dan membawa kami ke sana, Karimun Jawa. Kami berempat adalah teman satu jurusan di salah satu Universitas yang cukup beken di Semarang. Kami berempat begitu akrab, selain karena masing-masing punya sifat yang tidak saling berseberangan, kami pun berkampung halaman sama, Jepara.
                Ini sudah kali ketiga kami liburan bersama ke sana, tapi tak juga menyurutkan excitement kami terhadapnya, ya, Karimun Jawa memang terlalu indah untuk ditanggapi biasa-biasa saja. Perjalanan kali ini memang liburan bagi kami, tapi tidak bagiku, ada misi mulia yang juga cukup tengil di kepala, aku akan melakukan studi awal tugas akhir juga di sana. Tugas akhir ini tentang model budidaya long line Ptilophora pinnatifida atau ganggang merah. Supaya apaaa? Supaya bisa bolak-balik ke sana tentunyaaa, hahahaa. Kebetulan beasiswa yang aku terima juga mencakup pembiayaan penelitian tugas akhir, asik sekali kan?
                Angin meniup wajahku dengan sangat kencang, aku sangat menikmatinya, hingga akhirnya, Rara, teman yang berdiri di samping kiriku berkata, “rambutmu mbok ya dikuncir tho, dari tadi nampar-nampar pipiku ini,” akupun segera mengikat rambut panjangku demi menghilangkan cemberut di wajah manis Rara.
               Wajar angin bertiup sangat kencang, ini Maret, bulan lalu adalah akhir dari musim baratan, begitu warga sekitar menyebut musim angin barat yang menerjang-nerjang laut. Yap, Januari hingga Februari adalah bulan-bulan yang riskan bagi pelayaran Jepara-Karimun Jawa dan sebaliknya, karena curah hujan dan tinggi ombak meningkat di bulan-bulan ini. Segala aktifitas pelayaran dihentikan pada dua bulan tersebut, kecuali kapal-kapal besar, itu pun di waktu tertentu yang merupakan sela dari musim baratan, di mana ombak sedang tidak begitu tinggi. Sela musim baratan biasanya dipakai kapal besar untuk berlayar mengangkut kebutuhan pokok ke Karimun Jawa. Sempat ada ide untuk ikut KM Muria di sela musim baratan tersebut saking tak sabarnya kami menyicipi laut, tapi, buat apaaa, di sana kami tidak akan bisa menikmati pergi ke pulau-pulau sekitarnya.

***

                “Ran, di luar kok agak-agak gelap ya?” Suara Resti menyadarkanku yang sedari tadi duduk terkantuk-kantuk. Kami berada di geladak penumpang, penumpang tidak begitu padat di sini, tapi geladak dasar penuh dengan barang kebutuhan pokok.
                “Iya ya, yaaah, kita tidak disambut ceria nih sama Karjaw, hahaa. Eh, jam berapa nih?”
                “Jam 12 lewat lima belas.”
                “Sholat dulu yuk, kalo kita mati di kapal ini kan setidaknya dalam keadaan udah sholat tuh, hahaa.”
                “RANIAAA, mulai deh....”
                “Eh, bener kan, ahahaa. Yuk ah cus. Ra, yuk, sholat yuk.”
                “Eh? Okeee...,” dengan setengah sadar Rara mengucek matanya, “Ini Kanya gimana?” Rara menunjuk Kanya yang tidur bagai bangkai, tak bergerak, tak terganggu.
                “Tu anak mabok ant*mo ya, pules amat, ya udah tinggalin aja Ra, masih halangan kan dia.”
                “Iya, masih halangan, oh iya, kan dia besok baru beres halangannya, kita ga boleh snorkeling dulu hari ini katanya, kebersamaan.”
                “Wahahaa, males banget, kita sih snorkeling-snorkeling aja, dia suruh jaga penginapan, sambil ngeceng mas-mas yang Mirip  Bruno Mars itu loh.”
                “Oh, si Mars Bruno yang tahun lalu itu?”
                “Iyaaaa, hahahaa. Yuk ah,” bertiga kami menaiki tangga ke main deck kapal, lima kali menaiki kapal ini membuat kami sudah hafal betul tempat-tempat penting di sini, toilet, kantin, tempat duduk, musholla, penyimpanan life jacket juga sekoci.

***

                “Astagfirullahaladzim!” serempak kami berteriak, mukena yang dilipat Resti sempat berhamburan lagi ke lantai saking kagetnya merasakan kapal yang oleng karena terjangan ombak tinggi.
                “Raaa, Raaan, ini kok serem banget yaaa...,” kepanikan mengiasi wajah Resti yang cantik.
                “Tenang-tenang Res, ini Maret, dan lagi, nggak mungkin kan kapal ini boleh jalan kalau bakal ada badai. Senyuuum,” aku yang mantan Ketua Murid memang selalu punya naluri menenangkan orang lain, mengabaikan detak jantung sendiri yang berkejaran, takut. Dari berbagai cara mati yang ada di dunia, aku memang paling tidak ingin mati karena tenggelam, terbayang betapa menyakitkannya, mati perlahan dalam kepanikan. Lalu terbayang wajah ayah di rumah, beliau hanya punya aku, aku bergidik.
                “Global warming changes weather patterns, Ran. Gimana kalo perkiraannya salah, baratan sebenarnya masih berlangsung,” Resti meremas tangan Rara.
                “Sssttt, tadi udah pada berdoa buat keselamatan kita dan semua penumpang di sini kan?” Resti dan Rara mengangguk pelan atas pertanyaanku. “Then, we’ll safe. Yuk balik, Kanya kasian,” senyumku lebar, menggandeng Resti untuk kembali ke geladak penumpang. Tap tap tap.
                “ASTAGFIRULLAHALADZIM!” Kami bertiga berpegangan sambil satu tangan lainnya berpegangan pada pegangan di geladak utama ini. Sebuah ombak tinggi baru saja menerjang kami, tidak main-main, sekitar empat meter lebih, sedangkan ombak paling tinggi yang tercatat saat musim baratan adalah lima meter. Kapal rasanya miring ke kanan.
                Ngiiiiiiiiiiiing.. Suara bising pengeras suara yang baru dinyalakan menggema, aku tau kalimat apa yang akan keluar darinya.
                “Rara, Resti, kalian pakai life jacket ini,” terburu-buru aku mengambil life jacket yang menempel di dinding-dinding geladak utama, dekat dengan kami.
                “Ke.. kenapa Ran?”
                “Yang kencang, lalu jalan hati-hati ke sekoci seberang sana, aku ke bawah, jemput Kanya, sebelum orang-orang berhamburan ke atas sini,” kupakai life jacket-ku. Rara dan Resti untungnya kooperatif jika sudah mendengar kalimat berupa perintah dariku.
                “Jangan nangis,” masih sempat aku menyentuh pipi Resti, sedangkan Rara menggenggam tangannya bersiap jalan ke sekoci.
                “Hati-hati,” kata Rara mengiringiku yang berjalan menuju tangga.
                “Ngiiiiiiiiiiing, ngiiiiiing, perhatian, penumpang yang terhormat, harap mendengar pengumuman ini dengan cermat, jangan panik. Ombak yang baru saja menerjang kapal ini menyebabkan kapal miring ke kanan, penumpang diharap memakai life jacket yang berada di lemari-lemari berwarna orange di samping-samping geladak. Setelah itu, dengan tertib penumpang diharap menuju geladak utama dengan tangga kiri, awak kapal akan membimbing menuji sekoci,” pengumuman dari pengeras suara mengiringi jalanku di tangga yang belum padat, syukurlah. Suara khas kepanikan memenuhi geladak penumpang. Pengumuman setenang apapun memang tak akan mampu membendung kepanikan sekitar 150 orang dalam geladak.
                “Kapal ini akan tenggelam mas? Tenggelam?”
                “Ada kemungkinan seperti itu, Bu.”
                Awak-awak kapal membantu penumpang dengan urusan life jacket­-nya. Beberapa orang berpapasan denganku, “KE ATAS MBAK!” yang kujawab dengan, “jemput teman mas, tidak jauh dengan tangga, sebentar.” Kami sama-sama tergesa, tak ada yang menyeretku ke atas, untunglah.
                Itu dia, Kanya, sudah terbangun dari tidurnya dengan wajah ekstra panik, “KANYA!” Kanya mencari suaraku, melihatku, lalu segera berusaha menujuku. “LIFE JACKET-NYA DULU NYA!” Kanya mengangguk, dalam kerumunan dia menuju awak yang membawa life-jacket, Kanya yang bertubuh kecil belum sampai di hadapan awak tersebut ketika seorang bapak mengambil seluruh jaket tersebut untuk keluarganya. Kanya tenggelam dalam kerumunan, hatiku mencelos. “KANYA! KANYA! KAMU BISA DENGER AKU KAN?!”
                “IYA BISAAA!” cempreng suaranya membuatku lega.
                “KAMU JALAN KE TANGGA KIRI, HATI-HATI, PELAN-PELAN AJA NYA, AKU AMBILIN LIFE JACKET BUAT KAMU!” Kanya di sana terisak, hanya mengangguk. “KANYA! KANYA? KAMU DENGER KAN?”
                “IYA DENGER! IYA, AKU KE TANGGA!” teriakan Kanya bergetar, aku tahu dia menangis.
                Segera aku ke awak lain yang masih membawa life jacket. Tidak sesulit Kanya, tubuhku agak besar. “Mas, satu.”
                “Itu?” ia melihat life jacket yang sudah kukenakan.
                “Untuk temanku!” suaraku meninggi.
                “Teman yang mana? Mungkin dia sudah diberi life jacket oleh awak lain!” telingaku tak dapat lagi membedakan yang mana ketus yang mana tegas.
                “Di sana! Kecil, dia, dia kesulitan!”
                “Life jacket ini jumlahnya pas. Mbak jangan main-main. Ini menyangkut nyawa orang lain!”
                “INI MENYANGKUT NYAWA TEMAN SAYA!” kutatap awak itu, tepat di matanya, lurus, satu detik setelahnya air mata mengaburkan pandanganku. Detik berikutnya, tanganku sudah menyentuh life jacket, awak tadi yang memberi, ditepuknya lenganku, “hati-hati mbak, doaku untukmu.” Kuseka air di mataku, ada senyum di wajah kami berdua.
                Segera aku menuju tangga, Kanya menunggu di sana. Kupeluk tubuh mungilnya, beberapa bulir air jatuh lagi, menuju pundaknya. Kanya sudah mempersiapkan mentalnya dengan baik rupanya, dia tak menyambutku dengan tangis, di tepuknya punggunggu. “Rania, kita akan baik-baik aja.”
                “Iya Nya, pasti,” kulepas pelukanku, menyeka lagi air mata dengan terburu-buru. “Pakai Nya, yang kenceng ya,” Kanya segera memakai life jacket-nya.
                “Yuk Nya.” Kugenggam tangan Kanya, membimbingnya menaiki tangga.
                “Yang lain udah di atas kan?”
                “Iya.”

***

                Tidak ada yang berbicara, sembilan orang dalam sekoci ini hanya mampu memandangi kapal yang semakin turun, tertelan air laut, kapal ternyata benar-benar tenggelam. Isak tangis seorang ibu menghiasi keheningan kami, ada sedikit nada ratapan di sana. Ya, betapapun bersyukurnya beliau atas keselamatannya, tetap saja, separuh hidupnya tertinggal di sana, toko berasnya akan kosong hingga entah berapa lama, seluruh bulirnya tenggelam di sana.
                Tidak ada awak kapal di sekoci kami, dan diantara penumpang sekoci ada kami berempat, berpegangan, terhuyung-huyung dalam ombak. Sedikit saja kata yang mampu kami tukar, tapi ada syukur di dalamnya. Kadang ombak yang agak besar membuat kami melepaskan genggaman masing-masing, untuk kemudian berpegang erat di sekoci.
                “Mm, makasih ya kalian semua...,” aku memulai pembicaraan. “Makasih untuk persahabatan kita selama ini...,” entahlah, kata-kata ini menghambur begitu saja tanpa kendali, begitu juga air di mataku.
                “Raniaaa, jangan bikin suasana jadi melankolis begini deeeh,” Rara menyambut kalimatku juga dengan kalimat yang basah dengan air mata. Jadilah kami berempat bertukar kata terimakasih dan maaf, ada perasaan nyaman setelahnya, lega.
                “ASTAGFIRULLAH, PEGANGAAAN!” aku melihat ombak setinggi 3 meter akan segera menerjang kami.
                Ombak segera menghempas, beberapa sekoci di depan kami sudah masuk dalam gulungan, “JANGAN! JANGAN PEGANGAN KE SEKOCI! ATUR NAPAS! BERSIAP UNTUK LOMPAT!” pikiran pendekku memilih untuk tergulung bebas di ombak lalu menyembul lagi dengan bantuan life jacket yang kami kenakan, daripada diam di sekoci yang pasti akan terbalik, akan lebih sulit menyembul lagi jika terjebak dibalik sekoci. “TARIK NAPAS! LOMPAT!” Semua orang dalam sekociku lompat di saat yang tepat, semua, kecuali aku dan gadis SMP di sebelahku. Kutarik tubuhnya, lompat. Ombak segera menggulung kami, untungnya tidak begitu lama, sehingga masih menyisakan nafas yang masih cukup untuk menyeret tubuh anak ini keluar dari balik badan sekoci. Phuuuuaaah, suaranya mengambil nafas melegakanku. Aku segera menyusulnya, menyembul ke permukaan benar-benar hal yang aku idamkan, nafasku mulai tercekat. Tapi kenapa? Gerakan tanganku tak membuatku maju, taliku, tali life jacket-ku menyangkut di sekoci.

21 comments:

  1. ada rasa bosan di awal,
    secara saya sudah bukan abg yg menikmati masa-masa liburan layaknya sudah kehiangan waktu santai. :(

    tapi bagaimana plot berujung pada sebuah twist yg masih belum bisa ditebak akhirnya,

    terpaksa...
    kita harus bersabar menanti pemirsah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mehehee, kaciaaan.. *pukpuk :3
      Iya nih mang, kalau Raisa mah terjebak nostalgia, aku mah terjebak deskriptif, yaaah sebelas duabelas laaaah kitaaa :P Gimana ya, deskriptif masih jadi pilihan utamaku euy untuk ngawalin cerita, supaya kesananya bisa diterima walau level wajarnya rendah. Deskriptif oh deskriptif :( Nisa oh Nisa :( Geulis oh geulis :(

      HIYAHAHAHAHAAA! Sampai jumpa di part keduaaa :D

      Delete
    2. like paman like ponakan!
      #teamDeskriptif

      hihi
      so far seneng gaya deskriptifnya. nisa bangetlah! :)

      Delete
    3. Yang artinya: suka pamannya mesti suka ponakannya juga
      *kemudian dikeplak*

      Ehehehee.. Makacih mang :3 Eh, baru nginget-nginget cerpenku jaman SMA dulu yang genre-nya komedi, komedi ngawur, ternyata dulu malah ga begitu deskriptif loh aku, kapan-kapan post aaah :3

      Delete
  2. eta deskriptiiiiif... haaa serem juga ngebayangin cerita ini sot... beneran!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini Kumei ya? Aaaaaakkk >< Makasih Kumei udah mampiiiir >< Aslinya, aku seneng banget ini ada yang baca selain mamang yang emang ngedorong aku nulis :D Ga begitu pede sih sama tulisan tema begini, baru sekali-kalinya, hee.. Jadi pas ada yang baca teh bahagia, lalala yeyeyeye!

      Ehehee, baguslah kalo bikin serem :3

      Delete
  3. asik banget mba bisa ngerjain tugas akhir sambil liburan gitu. mahasiswi biologi bisa gitu ya, kalo mahasiswa ilkom bisa gitu gak ya -____

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaa, ngambil datanya sih bisa sambil liburan, tapi tetep aja ngolah datanya nggak bisa sambil liburan, hihii.. Bikin aplikasi untuk travelling! Jadi bisa sambil liburan (dan ngabisin uang -___-) :)))

      Delete
  4. Biologi banget. Cerita yang gak bisa ke tebak. semangat Nisa! maen juga ke inankito.blogspot.com ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehee, masih ada part 2-nya nih Nan :D Semangat juga Naaaaan :D Siaaap :9

      Delete
  5. sepatu (sepakat setuju) sama kembaran sayah... :)
    awalnya ngebosenin... tapi ke tengah dan seterusnya sukses bikin penasaran...
    semacam sudah pernah dalam kondisi ini nis..??
    hmm... teringat aku yg juga pernah pada posisi itu,, syukurnya ombak dan badai tak sampai menenggelamkan kapal yang aku tumpangi..

    dan masih penasaran sama kelanjutannya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, blogku disambangi Adiiin :D Makasih Adin sudah mampir-mampiiir :D

      Huhuu, iya nih, amatir banget di genre ini (genre lain juga sih =="), jadi di awal-awal dipake buat pengkondisian supaya bencananya bisa agak masuk akal, hohoo.. Masih belum bisa menyajikan informasi dalam bentuk yg lebih ciamik dan menggigit nih :(

      Beluuum, pernahnya alhamdulillah cuma bis yang hampir keguling gitu.. Ya ampun Adin kebayang ih serem T,T Tapi alhamdulillah ya kamu masih selamat..

      Asiiik! :D
      *sebenernya sih makin takut bakal mengecewakan T,T

      Delete
    2. tapi kamu paham betul akan seluk beluk kapal itu lho yang buat aku salut.. :D
      udah berapa kali nis naik muria..??

      menulis ala selera penulisnya aja sih... suka ga suka dibaca orang mah urusan kedua...
      bahkan kadang ga disangka tulisan sederhana bs disukai banyak org... eh tulisan yang kalimatnya njelimet malah blm tentu enak dibaca.

      Delete
    3. tulisan yang kalimatnya njelimet >> gue banget. -___-

      Delete
    4. yess.. dan aku ga cukup lulus mengikuti kalimat2 njelimet mu twin... :D
      tapi kurasa itu dulu..
      aku suka passion mu yg sekarang...
      yaaaa... asal jangan dipaksakan saja.. karena justru akan merusak feel yang ingin disampaikan penulis toh...
      mari terus belajar menulis ^_^

      Delete
    5. Hehee, sekali, tapi waktu naik Muria itu Nisa emang niat mau nulis jurnal perjalanan gitu, jadi diapalin :3 *yang nyatanya ga jadi*

      "menulis ala selera penulisnya aja sih... suka ga suka dibaca orang mah urusan kedua...," --> couldn't agree more! Setujuuu! >< Iya betul, senyamannya kita dulu aja ya, sambil terus perbaikan diri :D

      Delete
    6. Eeeh, salaaah, dua kaliii, pulang pergi Karjaw :3

      Delete
    7. wooohh... krn niat nulis ya makanya diapalin.. pantes...
      aku yo tidur sepanjang perjalanan... ahahah... payah.. mabuk lautan sih :D
      taunya cuma di depan t4 duduk ku ada selemari pelampung.. siap2 klo kejadian kyk critamu ini kejadian, tau hrs lari kemana.. ehehe,,,
      tapi amit2 sih... >.<

      Delete
    8. Aku juga mabuk lauuuuuut >,< Tapi inget sih isi kapalnya sedikit2, hihii..
      Huaaaaaa, iya, amit-amiiiit >,<

      Delete
  6. iya ya serem ngebayangin ke karimun jawa kaya gitu hiiiiiii...deskriptif betul sekali, detail nisot menceritakan penokohannya, latar....

    ReplyDelete