The Chronicles of Nyanyaa

THE CHRONICLES OF NYANYAA
Ini Kisah Nyata - Ini Kisah Nyanyaa

Monday, April 8, 2013

Nisa Bicara Hijab


                Hijab. Saat SMA dulu yang saya tahu tentang hijab itu adalah hijab yang berarti tirai pemisah, yang biasa dipakai di mesjid untuk keperluan memisahkan jamaah perempuan dan laki-laki. Memasuki masa kuliah di lingkungan yang agamis (alhamdulillah), saya jadi tahu kalau hijab juga bisa mengacu pada penutup kepala wanita muslim, yang digunakan setelah akil baligh di hadapan laki-laki yang bukan mahram-nya. Di awal tahun 2011, mulai marak di telinga saya (entah kapan pastinya di telinga orang lain) istilah 'hijabers,' yang kalau diartikan langsung, semestinya menjadi 'para pemakai hijab'. Yang ternyata, tidak begitu adanya. Hijabers lebih mengarah ke 'para pemakai hijab yang gaya'. Ada yang mendukung, karena terbukti, dengan opsi pemakaian jilbab yang tidak begitu-begitu saja, lebih banyak perempuan muslim yang tertarik untuk lebih menutupi auratnya, taking one step closer is much better than taking no step forward, kan? Yap. Tapi, ada juga yang menentang, karena fenomena ini terbukti juga banyak memunculkan pemakai hijab gaya yang tidak syar'i.
                Kalau kamu Nisa, kamu termasuk yang mendukung trend hijabers ini atau nggak? Saya termasuk yang mendukung, dan mendukung juga teman-teman yang terus berjuang mengingatkan kisi-kisi pemakaian hijab yang syar'i. Kalau sudah banyak yang berkomitmen pakai hijab, kan lebih gampang juga buat teman-teman pejuang penegak syar'i untuk 'membawa' kami-kami yang belum benar supaya jalan bareng ke jalan yang benar, kan? :D
                Saya, sebagai pemakai hijab dari tahun 2004, jauh sebelum trend hijabers (dan yap, belum syar'i) awalnya menganggap kerudung 'di-gaya-gaya-in' itu 'kece tapi ribet'. Sempet coba kerudung 'di-gaya-gaya-in', cuma karena alasan 'keren-kerenan', dan berakhir menyerah karena susah. Semakin kesini, trend hijabers semakin merajalela, ini membuat saya kesulitan mencari dalaman kerudung bertopi yang biasa saya pakai sehari-hari di pasaran. Alasan ini membuat saya mulai coba-coba cara memakai hijab yang ‘masa kini’, jaga-jaga, kalau-kalau dalaman kerudung bertopi memang akan hilang selamanya di pasaran, hehee (yang mana sebelum menjadi langka pun, mencari dalaman kerudung bertopi yang pas dan enak dipakai itu sama seperti mencari jodoh, susah). Dari mencoba-coba itu, saya mulai merasa, pakai ‘hijab masa kini’ itu nggak harus ribet kok. Dari sini, mulailah saya mencoba hijab macam-macam.
                Perjalanan memakai hijab ini berlanjut, saat saya mulai sering melihat teman-teman sholeh di media social facebook dan twitter banyak yang mengingatkan tentang kisi-kisi pemakaian hijab yang syar’i. Saya jadi berpikir, gimana ya, supaya saya bisa pakai kerudung yang panjang menutup dada, tapi dengan percaya diri. Setelah coba, coba, dan coba, yeah, I found the way to wear it, simply-confidently-(hopefully) syar'i. Sekarang, dengan hijab yang kata orang ‘hijab gaya’ atau ‘hijab macem-macem’ atau lainnya, saya justru bisa dengan percaya diri memakai hijab yang menutupi dada, juga tanpa sanggul tinggi. Yang mana dengan gaya memakai hijab terdahulu yang ‘tidak macam-macam’ malah tidak bisa saya lakukan. Saya pun jadi semakin cinta berhijab :)
                Jadi, untuk teman-teman yang berjuang mengingatkan ke arah syar’i, jangan pernah berhenti, semoga selalu diridhoi, diberi kekuatan dan keteguhan hati. Untuk teman-teman yang mengenalkan berbagai model-model berhijab, semoga selalu memberi inspirasi positif, baik untuk yang belum berhijab jadi mau berhijab, juga untuk yang berhijab jadi punya referensi baru berhijab supaya semakin cinta berhijab (seperti yang saya rasakan sekarang). Terimakasih untuk kedua pihak di atas yang berkontribusi membawa saya jadi (sepertinya) berhijab dengan lebih baik, love you :D

Tuesday, April 2, 2013

Simple Hijab Tutorial #2


Assalamualaikum :D


Bertemu lagi dengan saya dan hijab tutorial sok-sok-an saya, hmahahahaa..
Udah tau sok-sok-an tapi kok bikin lagi?
Soalnya ada temen yang minta dikasih tau cara saya pake kerudung di profile picture facebook saya :3 Iya, mungkin karena di situ saya terlihat menawan :3

Langkah pertama!
1. Pakailah ciput ninja
Aih, bukan yang iniii T.T
Nah iya, yang ini..

Langkah kedua!
Hup hup!
2. Pakai pashmina/shawl persegi panjang di atas kepala, sama panjang kanan dan kiri

Langkah selanjutnya!
3. Ambil kedua ujung shawl, kanan dan kiri.
Di sini saya ambil ujung depannya, supaya hasil akhir lebih panjang menutupi dada. Kalau yang diambil ujung belakangnya, hasil akhirnya tidak terlalu panjang menutupi dada. Kalau shawl-nya kurang dari 2m, bagusnya sih ambil ujung bagian depannya, yaaa, sesuai kebutuhan aja lah ya..
Apa? Butuhnya uang buat DP motor?
Rrrr =="

Langkah selanjutnyaaa..
4. Silangkan kedua ujung yang diambil tadi
Sip!

Lalu..
6. Bawa ke belakang leher, ujung kanan ke kiri, ujung kiri ke kanan (silang)
Okeee :D

Lanjut yaa..
7. Terus tarik ujungnya ke belakang leher
Teruuus, teruuus, sampe..
sampe secukupnya ajaaa, bukan sampe kecekek =="

Oke, lanjut..
8. Ikat ujung shawl tadi di belakang leher
Voila, ..
.. jadi begini deh. Tapi, masih keliatan ga rapi kan ya..

Makanya, harus lanjut ke langkah berikutnya..
9. Rapikan bagian kanan, sematkan jarum pentul.
Yap, rapi sebelah..

Lanjut..
10. Rapikan bagian kiri, sematkan juga jarum pentul.
Selasaaaaaaai :D
Tapi, masa cuma begitu aja, ga asik kan ya..
Naaah, kerudung semacam ini bisa juga ditambah aksesoris semacam pin kembang-kembang imut lucu gitu.
Ah, iya, kayak gitu boleh..

Pasang di salah satu sisi.
Apa? Mau dipasang di kedua sisi? Sok aja sih, paling keliatan kayak pegangan katel.

Ihiy, selesyai :3
Kece kan? Kece kan? Kece kan?:3

Eh, apa? Aneh? Kayak kotoran telinga? Rrrr =="

Iya, iya, ini dibuka lagi :/

Tadaaa, udah tah, udah dibuka..

Eh, tapi, sebenernya, kerudung kayak gini bagus juga loh dipakein headband. Headband buat hijab ya, bukan headband 80's.

Kayak gini..
Pake headband yang bahan metal, yang gold atau silver atau yang dikombinasi feather gitu juga lucu kok. Cuma, kalo untuk sehari-hari, pake yang simple2 aja, yang cuma tali gitu, kayak yang di atas. Lucu kan? Lucu kan?
Eh, apa? Aneh?
Iya sih, itu pake kabel charger laptop, headband saya ada di kamar bawah, males ambilnya, ahahahahaa..

Sekian aja deh hijab tutorial saya kali ini..
Assalamualaikum :3






















Saturday, March 9, 2013

Heart Trip

     Bandung-Surabaya, aku duduk bersandar di kursi nyaman kereta Turangga sambil memandangi tiket yang baru saja dilubangi oleh petugas. Tidak biasanya pergi ke Stasiun Gubeng dengan kereta ini, kereta ber-gerbong eksekutif yang tiketnya dibelikan patungan oleh teman-teman komunitas fotografi yang lebih sering melakukan kegiatan nonton bareng atau makan siang bareng ketimbang hunting bareng atau serius berdiskusi foto. Baik sekali mereka, tertera nilai tiga ratus sembilan puluh lima ribu rupiah di tiket ini, yang jika dikonversi menjadi nilai mata uang anak kosan akan berharga empat puluh kali makan siang di Warung Tegal Bahari cabang mana saja di seluruh kota Bandung. Ah, bersyukur sekali aku punya mereka. Belum lagi tiket Mutiara Timur Malam dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru yang tersimpan rapi di tempat khusus dalam tas travel biru tuaku yang kalau tidak salah ingat, harganya seratus lima puluh lima ribu rupiah. Bukan itu saja, masih ada buku panduan wisata Lombok sebagai bekal ketiga dari mereka. Aih, curhat-curhatan tolol dua minggu yang lalu tentang impian menjelajahi tiga Gili di Lombok ternyata ditanggapi serius oleh mereka dengan tiket kereta dan buku itu, wuw. Dua tiket kereta ini memang yang paling mahal dalam budget perjalan Bandung-Lombok-ku. Harga tiket-tiket selanjutnya, seperti tiket feri dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk Bali, tiket bus Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Padang Bai, dan lainnya sampai tiba di Lombok benar-benar tak ada apa-apanya dibanding harga tiket kereta ini, hahaa, mereka membiayai lebih dari lima puluh persen biaya perjalanan pergi. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat ekspresi mereka kemarin siang, memberikan tiket dalam amplop merah muda sambil mengolok-ngolokku yang akhirnya bisa melaksanakan impian seumur hidup ini.



-------------------------------------------------------------------------



     “Eh, apa nih? Surat cinta?”
     “Ya, anggap aja begitu, buka gih.”
    “Bandung-Gubeng, Gubeng-Banyuwangi Baru,” kataku sambil mengernyit memandang tiket-tiket itu, masih bingung, “mm, ini.. ini.. YA AMPUN, AAAH, INI.. INIII..?” mereka berlima mengangguk cengengesan.
     “Nih,” salah satu dari mereka memberikan buku.
    “YA AMPUN, BENEEER, LOMBOOOK! AAAH!” air mata seketika menggenangi wajahku, satu-persatu mereka aku peluk erat sambil berucap terima kasih, dandanan hebohku hari itu hancur dalam 10 detik saja.
     “Liat dulu tanggalnya Ran, hahaa.”
  “Mm, 23 Juni, yang ini 22 Juni” gumamku sambil melihat tanggal keberangkatan di tiket atas nama Maharani Senja, “GILAK, BESOK MALEM! Ah, gila, kalian hobi ya ngerjain orang.”
     “Hahaa, packing yang bener ya, jangan ketiduran malem ini.”
     “Gilaaa, hari ini kan cape bangeeet, ini sih nyiksaaa...."
     "Oh, jadi nggak mau nih? Ambil lagi nih ya tiketnya?"
     "Eh, jangaaan, nggak kok nggak, ini hadiah paling keren se-Nusantara!"
    “Hahaa, semangat packing-nya ya Raniii!” beberapa dari mereka menepuk-nepuk pundakku untuk menyemangati.
    “Eh, tapi, keluargaku kan lagi banyak yang dateng ke Bandung nih, masa ditinggal, mereka sedih dong nanti ga ada yang bisa ngajak jalan-jalan....”
    “Udah diatuuur, Revi udah minta izin ke orang tua kamu, cuti kantor aja udah diurusin Gita, keren kan kita.”
    “Banget, kalian keren, banget...,” speechless, tak ada kata lagi yang tertutur dari mulutku, hanya bisa mengusap lelehan air mata bercampur maskara yang ternyata tak teruji ke-waterproof-annya.
    “Cieee, yang terharu...,” Revi, yang paling dekat denganku, menggodaiku sambil memberikan tisu wajah yang, duh, mbok ya dari tadi toh ngasih tisu-nya, berbagai cairan wajah ini sudah terlanjur diusap dengan ujung lengan baju nih, huu....
    "Iya nih, kalian bisa banget bikin terharu gini, by the way, kok ngasihnya tiket kereta sih, pesawat kek...."
     "Ish, ni anak emang keterlaluan ya, dikasih hati minta dendeng balado. Kan biar berasa perjalanannya Ran, naik pesawat, yaaah, merem dikit udah nyampe, apa bedanya coba sama naik jin?"
     "Nggak tau sih ya bedanya apa, belum pernah naik jin soalnya, ahahahaa."
     "Ya... gitu deh Ran, kita emang cuma mampu beliin itu sih...."
   "Iya sayangkuuu, ya ampun, ini tuh udah yang paling hebat yang bisa seorang Maharani terima dari teman-temannya yang super perhatian dan baik hati tau," air mata meleleh lagi, "tuh kan aaah, jadi nangis lagiii, huaaa, kaliaaan," aku peluk yang berdiri paling dekat denganku, Gita.
     "Udah, udah Ran, itu maskara kemana-mana, mata kamu liat, sembab gitu, kayak mahasiswa baru nggak kuat begadang."
   "Iya, hee," aku mengusap lagi mataku, lalu memberikan senyum manis untuk kelima sahabat terbaik itu, "maskara kalian juga leleh tuh, eh, by the way, tiket pulangnya mana nih? Kok perginya doang?"
    "Ih, bener-bener anak gak tau diri ya, itu tiketnya udah double combo gitu, masih minta buat pulang, ngeselin ya, yuk ah tinggalin."
   "Huahahahaa...," mereka pun berlalu seiring tawa bahagiaku untuk memburu makanan-makanan yang tersaji di acara kemarin siang.



-------------------------------------------------------------------------


   Ah, harusnya aku sudah tidur dari tadi, perjalanan masih panjang, dan punggung masih terasa pegal akibat acara packing yang tiba-tiba. Tapi, selelah apapun, aku memang belum mampu tertidur, entahlah mengapa, mungkin karena terlalu dingin. Aku menaikkan ritsleting jaketku sambil tersenyum melihat orang di sampingku, hm, selimut dan bantal hijau kereta api terlihat sangat mampu membuatnya tertidur nyenyak. Wajahnya yang terbalut lelah dan nyaman sungguh damai dilihat, ah, tapi ini juga tidak akan bisa membuatku tertidur. Aku mulai mengotak-atik music player di tangan kananku yang berisi tujuh ratusan lagu, memasang neckband earphone di telinga, dan mulai memandang jendela. Jika tidak sedang masuk terowongan kereta atau melewati pesawahan, hutan, dan tebing, akan ada pemandangan kerlap-kerlip lampu yang sangat aku suka. Berpendar lembut di kejauhan, kadang aku dengan sengaja menyipitkan mata supaya cahayanya semakin buram dan menampilkan ilusi depht of field yang menarik.

     Raindrops on roses and whiskers on kittens
     Bright copper kettles and warm woolen mittens
     Brown paper packages tied up with strings
     These are a few of my favorite things

     Deg, lagu ini menerbangkan khayal pada hari itu....

-------------------------------------------------------------------------

    “Tebak, tebak, ini siapa,” sepasang tangan menutupi mataku dari belakang, mm, lebih tepatnya, menutupi wajahku.
     “Ya kamuuu, siapa lagi.”
    “Kamu siapaaa?” suara berat itu menggodaiku, kalau sekarang dipikir-pikir lagi, cara menggodai yang satu ini so last decade banget ya, hahaa.
   “Renooo, siapa lagi yang punya tangan sebesar dan sekasar kamuuu, kayaknya kalo waktu SD orang lain main benteng-bentengan, kamu mah main tepokan tazoz sama banteng ya,” kataku sambil berusaha melepaskan tangan besar itu dari wajahku.
    “AHAHAHAAA! Ini kan tangan seniman, mesti kuat dan kokoh, hahahaa,” tawanya yang serenyah potato-chips-mahal-yang-tetap-saja-sering-kubeli-walaupun-sadar-perbandingan-antara-udara-dan-potato-chips-nya-semakin-timpang-setiap-tahunnya menghiasi halaman Fakultas Seni Rupa dan Desain sore itu.
    “Cih, kecuali pekerjaan senimanmu nanti membutuhkan kemampuan ngaduk semen yang handal, kamu ga butuh-butuh amat tangan kuat dan kokoh tau, mleee,” kataku sambil melepas earphone yang tadi sedang memainkan lagu untuk mengobati bosan.
     “Hahaa, iya deh iya, udah lama nunggu?”
   “Lamaaa bangeeet,” kataku pura-pura kesal sambil memanyunkan bibirku, yang saat itu aku pikir akan terlihat imut, yang nyatanya, setelah baru-baru ini aku praktikkan di depan cermin, terlihat sama mengerikan seperti Ronald Mc Don*ld dipaksa nyengir.
     “Duuuh, ngambek, jangan manyun gitu dong, nanti cantiknya ilang.”
     “Cantiknya aku itu long lasting kayak lipstik mahal tau, ga akan pudar cuma karena manyun doang, huh,” kataku sambil memanyunkan bibir lebih lagi, nggak peduli apa kata Reno, yang belakangan baru aku sadar kalau apa yang dia bilang benar adanya, ahahaa.
    “Iya, percayaaa, maafin dong maafin, nih, nih, chupa ch*ps stoberi,” Reno mengeluarkan lolipop dari saku jaketnya, lolipop yang sudah beberapa tahun ini tak pernah lagi menjadi kesukaanku.
     “Hehee,” cengirku lebar menerima lolipop itu.
   “Lagi dengerin apa tuh?” Reno menunjuk kabel earphone dengan lirikan matanya. 
     “Oh, tadi lagi denger My Favorite Things, lagi suka banget nih sama lagu ini, hihii.”
     “Gimana, gimana, lagunya?”
     “Nih,” aku menyodorkan earphone itu.
   “Nggak, nggak, bukan denger pake ini, coba, coba, gimana, mau denger,” Reno menunjukku.
     “Eh? Aku? Aku yang lalalalalala-nya?”
     “Iya, kamu yang lalalalalala-nya” senyum Reno.
    “Oke, ehm, ehm, raindrops on roses and whiskers on kittens, bright copper kettles and warm woolen mittens, brown paper packages tied up with strings, these are a few of my favorite things.... Udah ya, malu, hehee," dengan suara sangat seadanya, aku menyanyikan lagu itu untuknya.
     "Hehee, bagus, bagus. Eh, tadi terakhirnya gimana kalimatnya?"
     "Terakhirnya? Mm, these are a few of my favorite things...."
   “Ah, and this...,” Reno menepuk pundakku sambil tersenyum, “...is my favorite thing.”
 “Ish...,” aku meninju lengannya, kemudian menunduk, untuk menyembunyikan sebulir air mata yang meleleh. Tapi Reno juga menunduk, mencari wajahku.
     “Cieee, ada yang terharuuu....”
   “Ngeseliiin, ahahahaa,” aku mengejarnya yang berlari pelan ke tempat parkir.

-------------------------------------------------------------------------

     Reno, satu nama yang pernah membuatku mengkhayalkan betapa cocoknya jika Rani-Reno tertera dalam sebuah undangan pernikahan warna biru laut, hahaa, absurd. Di mana dia sekarang? Sedang bersama pacarnya yang hitam manis berambut indah itu? Atau pacarnya yang semampai bergingsul manis? Atau kedua pacarnya itu berakhir sama sepertiku, melihatnya sedang berpacaran dengan dua gadis lain dan kemudian dua gadis itu juga melihatnya berpacaran lagi dengan dua gadis lainnya? Lalu dua gadis lainnya itu... ah, kusut. Mengingat ini, bisa membuatku membayangkan betapa sesak dan menyakitkannya udara Bandung untuk dihirup saat itu, saat dimana menjalani hidup sama susah dan tak mungkinnya seperti halnya membalikkan telapak tangan, tangan gorilla. Bukan cuma sakit karena dikhianati saja, tapi juga harus menjalani hidup penuh kegilaan akan penghargaan diri, hidup sambil melawan arus rendah diri yang parah. Aku kurang apa? Kurang apa? Kurang apa? Oh iya, kurang cantik, kurang baik, kurang menyenangkan, kurang dewasa, kurang pintar dan kurang lain-lain. Pontang-panting berusaha menunjukkan pada dunia kalau aku tak layak dikhianati, huuuh, berat. Untungnya, yang tersisa sekarang hanya bayangannya saja, tidak ada lagi sensasi sakit mengingat masa sulit itu.
    Rani, skip that song. Tangan kananku meraih music player dan menekan salah satu tombolnya, mencoba fokus lagi pada pemandangan yang menyejukkan mata, bahkan fokus pada dinginnya udara, dengan harapan bisa membekukan kenangan yang tak layak dikenang. Brrr, malam ini, aku menyadari satu hal, bahwa tubuh ini, sebagaimana layaknya lebih cocok dengan makanan warung tegal, juga lebih cocok dengan gerbong bisnis. Aku pun menarik lagi tudung jaketku, juga membawa kedua tanganku masuk lebih dalam ke lengan jaket, baru kali ini aku mensyukuri panjang tungkai depan yang pendek ini.

     Nobody gonna love me better
     I must stick with you forever
     Nobody gonna take me higher
     I must stick with you

    Lirik ini, hahaa, aku baru sadar music player sedang memainkan lagu ini saat kereta tiba-tiba memasuki terowongan kereta, yang membuat pemandangan indah pendar-pendar lampu di kejauhan hilang seketika. Ingatanku melayang lagi ke sana.

-------------------------------------------------------------------------

     “Ran, enak ya lagunya.”
     “HAH?”
     “LAGUNYA, ENAK,” ucap orang di sebelahku sekali lagi, di tengah riuh suara pentas seni kecil-kecilan sekolahku.
   “Oh, hehee, iya, asik ya, sebenernya baru kemarin sih denger lagu ini di radio, langsung suka,” kataku bertatapan dengan Fariz, lebih mengeluarkan bentuk-bentuk bibir dan gerakan tangan ketimbang suara, percuma soalnya, agak sulit terdengar.
     “Hehee, beli minum yuk,” Fariz menunjuk booth minuman yang berjarak tak jauh dari kami.
    “Nggak ah, tadi udah jajan, duitnya nyisa buat ngangkot aja,” cengirku polos.
   “Aku jajanin deh, yuk,” tangan Fariz menarik tanganku menuju tempat membeli minum. Menit-menit berikutnya, entah mengapa aku begitu fokus dengan cup minuman di hadapanku, kecanggungan dan kegugupan ini membuatku sangat tertarik memperhatikan sedotan putih berulir merah ini ketimbang ngobrol sambil menatap muka Fariz. Ini memang pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan lawan jenis.

-------------------------------------------------------------------------

    “Rani,” Fariz menghampiriku di kantin sekolah sambil mencubit pipiku, lalu duduk di depanku. Oh Rani muda, betapa polosnya dirimu saat itu, kok ya mau-maunya dicubit-cubit pipi begitu aja, pikirku sekarang.
    “Eh, Riz, kenapa?” ujarku sambil memasang senyum paling manis yang bisa aku tampilkan kepadanya.
     “Mm....”
   “Eh, suram gitu, kamu nggak lulus? Aku aja lulus, cum laude,” kataku mencontek kata cum laude dari tayangan wawancara Putri Indonesia, yang kalau diingat lagi sekarang, dan kalau Fariz juga mengingatnya sekarang, pasti akan bisa tertawa kecil seperti yang aku lakukan sekarang.
     “Hahaa, lulus kok, hee.”
     “Nah terus kenapa?”
     “Mm, kamu nerusin kuliahnya tetep di Bandung sini kan ya?"
     "Iya Riz, malah aku udah daftar ujian-ujian masuk gitu, siapa tau SPMB-nya nggak lulus, hee. Kalo kamu?"
     "Mm, orang tua nyuruh aku kuliah di luar.”
     “Luar? Negeri?”
     “Iya,” Fariz mengangguk.
   “Wah, keren dong, dimana?” kataku seadanya, yang sudah tertular kesuraman Fariz, biar bagaimana pun, Fariz sudah punya tempat tersendiri di hati saat itu, setelah satu cup minuman yang dibelikannya di pentas seni, oh Rani muda, kavling hatimu murah sekali.
     “Keren sih, tapi kan jadi nggak bisa ketemu kamu lagi. Di Ostrali.”
   “Oh, ya udah, Fariz liat aja bule-bule Aussie cantik di sana, nggak jauh bedanya kok sama aku,” aku menunduk, berharap getaran dalam suaraku tidak terdengar.
    “Hee, iya, Rani baca ini ya nanti di rumah,” Fariz menyodorkan lipatan kertas hvs, yang aku terima sambil mengangguk, sebuah surat.

-------------------------------------------------------------------------

Maharani Senja,
Aku mau ngaku beberapa hal ke kamu. Pertama, sejak kamu lari-lari nyusul aku yang lupa ambil uang kembalian dari kantin, aku pikir kamu imut banget. Kedua, aku nggak suka lagu Stick With You, kurang laki-laki untuk telingaku, hee. Ketiga, aku bilang lagu itu enak, supaya di PenSi waktu itu bisa ngajak ngobrol kamu yang ditinggal temen-temen kamu ke toilet. Sampai sekarang, aku masih nyesel, kenapa temen-temen kamu nggak kebelet pipis waktu Pas Band atau Nine Ball yang naik panggung, jadi pilihan lagu aku nggak terlalu feminin, hahaa. Keempat, aku suka kamu. Kelima, kayak kata lagu, I must stick with you forever. Keenam, kalau kamu suka aku juga, dan setuju sama lirik lagu itu, kamu tungguin aku pulang ya, soalnya, yang ketujuh, mm, aku suka kamu, hee, banget. Tenang aja, aku nggak akan kuliah sampe tujuh tahun. Aku bakal lulus kuliah 4 tahun dan pulang untuk kamu.
Fariz Rizki Ramdhani

-------------------------------------------------------------------------

     Fariz, sudah lebih dari tujuh tahun dan kamu belum juga menemuiku. Tanpa telepon, tanpa pesan, tanpa email, tanpa testimonial di friendster, tanpa tanda-tanda keberadaan apa pun. Kamu hilang. Satu setengah tahun berlalu, aku menemukan akun facebook-mu dengan status in relationship with perempuan Asia Timur cantik. Dasar (cinta)monyet! Kamu lah cikal bakal istilah PHP di dunia.
    Ah, dingin ini, nyatanya, ingatan tentang Fariz sang cinta monyet saat SMA yang menyebalkan pun tak mampu membuat tubuhku hangat. Dingin ini membuatku menyerah, selimut hijau kereta api yang diniatkan untuk aku pakai ketika dingin sudah memuncak akhirnya aku bentangkan juga di tubuhku. Ah, sudah lebih hangat dan nyaman sekarang. Aku lebih menghenyakkan diri lagi di sandaran kursi empuk kereta berwarna biru tua ini.
   Tapi, duh, perutku terasa kembung sekarang. Duhai masuk angin, mengapa kau harus datang di acara perjalanan impian ini sih? Untungnya, walaupun dengan packing yang terburu-buru, aku sempat menyiapkan obat masuk angin untuk dibawa. Aku mulai mencari obat masuk angin kemasan sachet di tas kecilku, tidak ada. Oh iya, ada di kantong depan tas yang disimpan di kabin. Susah payah aku berdiri dan berusaha mengambil obat masuk angin itu, ah, dapat juga akhirnya.
    “Dari tadi belum tidur?” sambil memeriksa jam, orang di sebelahku berkata.
  “Eh, kebangun ya? Maaaaf. Hee, iya, belum bisa tidur,” kataku sambil membuka lalu menyeruput obat masuk angin itu.
     “Itu kenapa? Masuk angin?” Dia melihat ke arah obat masuk anginku.
     “Iya, hee.”
  “Kedinginan ya?” senyum hangat menghiasi wajahnya, senyum yang membuat wajahnya semakin tampan.
    “Iya,” aku mengangguk.
     “Kamu kayaknya mesti diangetin deh.”
     "Di...angetin...?"
     "Iya," dibukanya kaca mata coklat tua yang memperlihatkan mata tajamnya, lalu wajah itu mendekat ke wajahku yang masih menyeruput obat masuk angin, memegang kedua pundakku, lalu mengucapkan satu-persatu kata dengan tegas, “Rani-aku-cinta-kamu.”   
   Deg, rangkaian kata itu, suara itu, dan tatapan mata itu, seketika membuatku meleleh dan tak bisa berkata banyak.
     "Udah jadi anget kan?"
     "Mm...."
     "Ah..., terpesona ya?”
  “Ng..., nggak kok, nggak,” tangan kananku mengambil kacamata dari tangannya, “kamu..., kalo ngomongnya deket-deket begitu..., matanya jadi juling...,” aku sudahi kalimat sembarangku dengan memasangkan kembali kacamata coklat tua itu di wajahnya.
     “Hahaa, juling juga tetep ganteng kan."
     "Mm, biasa aja tuh," yap, bohong.
    "Hehee. Oh iya, maaf ya tadi langsung ketiduran gitu aja, makasih juga udah diselimutin,” katanya sambil tersenyum, ya, senyum itu lagi, menyebalkan, kenapa masih saja jantung ini berdebar keras tiap kali senyum itu merekah.
   “Iya,” kataku sambil membalas senyumnya.
   “Kamu manis ya kalo senyum, hee.”
  “Ish, udah setua ini kamu baru sadar aku manis? Sungguh puluhan tahun dalam kesia-siaan ya hidupmu selama ini.”
     “Hahaa, nggak kok, udah nyadar sejak..., mm....”
     “Sejaaak?”
     “Sejak barusan, hahaa....”
     “Ih, nyebeliiin,” aku tinju-tinju kecil lengannya.
     “Hee, sini manis, sini, tidur senderan sini, biar anget.”
    “Iya.” Aku pun segera bersandar di sana, di tempat untuk tidur yang paling nyaman sejagat raya, di lengan pria yang kemarin pagi mengucapkan ijab qabul dengan lantang bagiku.
     “I love you, honey,” bisiknya.
   “I love you too,” kalimatku dan debaran jantung yang bisa ia rasakan ini sepertinya sudah sangat cukup untuk membuatnya yakin, bahwa aku pun mencintainya, sepenuh hati.

-------------------------------------------------------------------------

   Subuh keesokan harinya, aku terbangun, terdiam beberapa saat, lalu menulis di jurnal pribadiku, “heart trip, hati ini, mungkin sudah berkelana dan singgah ke banyak dermaga yang salah, tapi, akan tiba saat di mana hati ini berhenti, menemukan kembaran rasa, lalu melaju lagi bersama-sama.”

TAMAT

Wednesday, February 6, 2013

Terimakasih Papah


Sore ini saya baru menyelesaikan nonton Kita Vs Korupsi, 4 film pendek yang dibuat sebagai penyuluhan korupsi bagi masyarakat. Menurut saya, film yang paling ngena itu justru film yang paling sederhana diantara keempatnya, film ke-4, soalnya dekat dengan keseharian, judulnya, "Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa." Film ini bercerita tentang korupsi kecil-kecilan yang dilakukan oleh anak SMA. Waktu masih sekolah dulu, saya juga sering mendengar istilahnya; nyoceng. Buat yang belum tau, nyoceng itu adalah perbuatan me-markup anggaran yang pelakunya anak sekolahan, mau itu buku pelajaran, uang les, sumbangan sekolah, seragam, apapun. Misalnya gini nih, buku Biologi itu harga sebenarnya Rp 38.000, tapi, supaya bisa nraktir pacar jajan mie ayam, pelaku nyoceng akan meminta uang Rp 50.000 kepada orangtuanya, dan berkata sebesar itulah harga buku sebenarnya. Yah, nyoceng, dari perbuatan sekecil inilah korupsi yang lebih besar skalanya bisa jadi bermula, ini inti ceritanya. Aaah, untung saja saya tidak pernah jadi bagian di dalamnya, ahiy, saya memang anak yang baik :3 Cantik juga sih, tapi, sudahlah, kita tidak sedang membicarakan kecantikan saya di sini. 

Selain film tadi, ada lagi yang ngena di hati saya, yaitu film ke-3, judulnya; "Selamat Siang, Risa!" Tentang bagaimana Risa menolak untuk diberi suap, sebagaimana ayahnya dulu yang bekerja sebagai penjaga gudang menolak untuk mengalihfungsikan gudang yang ia jaga untuk menimbun beras, walaupun sebenarnya, uang yang ayah Risa bisa dapat akan sangat berharga untuk pengobatan adik Risa yang sedang sakit saat itu. Ayah saya bukanlah seorang penjaga gudang, ibu saya pun bukanlah penjahit, dan saya tidak pernah sakit-sakitan saat tak ada beras yang bisa dimasak di dapur, tapi film ini mengingatkan saya pada ayah saya, pada papah. Baru-baru ini mamah cerita tentang papah, tentang bagaimana beliau bekerja, tentang kesempatan-kesempatan yang beliau lewatkan supaya tetap lurus dijalannya, tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa keluarga kita bisa lebih 'sejahtera' daripada sekarang jika papah tak teguh pendirian, tentang mengapa saat itu jabatan papah saya segitu-segitu saja. Hm... :) Terimakasih pah, untuk bersihnya rizki yang kau upayakan untuk kami, untuk segala lelah yang kau lalui tanpa memperlihatkan susah, untuk segala sukar yang kau lalui tanpa gentar. Aku bangga padamu, selalu :') T.T 

Wednesday, January 16, 2013

Tutorial Berkerudung Untuk Pemula

Assalamualaikum, salam sejahtera dan salam hangat-hangat kuku dari saya.
Pada blog post kali ini, saya akan menunjukkan langkah demi langkah pemakaian kerudung 'Neno Warisman' yang saya kenakan untuk profile picture facebook saya baru-baru ini:
yap, yap, yang ini.
Iyaa..., yang itu.
Udah dong ah, jangan diliatin terus gitu :3


Oke, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah:
1. Memakai ciput ninja.
Ciput ninja itu yang kayak gimana?
Itu loh kayak yang saya pake di atas, yang warnanya biru.
Ciput ninjanya yang biasa-biasa aja ya, ga usah yang ada tambahan bulatan di belakang/atas kepala. Soalnya, nanti mirip punuk onta, nah, dari yang saya baca, berjilbab yang mirip punuk onta atau camel-hump-hijab, menurut hadist ga dibolehin :) *belajar sedikit-sedikit, hihii


Oke, lanjut ke langkah kedua.
Eh, apa? Ada yang ga punya ciput ninja?
Mm, beli dulu gih ke Pasar Baru.
Eh, males?
Oke, kamu punya ayah, bapak kos, atau saudara laki-laki? Sip.
Kalau begitu, di tempat tinggal kamu pasti ada ini:
Yap, sarung.
Sarung bisa kita jadikan alternatif cerdas pengganti ciput ninja, seperti yang anak-anak generasi 90-an lakukan saat ninja turtles sedang berjaya, inget kan? Lingkarkan ujung bukaan sarung di atas hidung, ikatkan di belakang kepala. Buka ujung bukaan sarung yang satunya lagi, satu ditarik menuju pucuk kepala, satu lagi ditarik ke bawah, sreeet...
VOILA!
Pinter kan, kan, kan? B-)
Apa? Jelek? Ya iya sih, siapa suruh males ke Pasar Baru :/


Oke, kita lanjutin aja, yang belum punya ciput ninja, nanti nyusul ya....
Nah, yang lain, yang udah pada dipake ciput ninjanya..
Eh, eh, lagi pada ngapain itu?
Aaak, nooo, oh, nooo..
There's no need to put spiral-like-blush on your cheeks like the way Ninja Hattori does, haduuuh, hapus, hapus, ngewa ah..


Lanjut ya, serius nih ah....
Setelah ciput ninja, ada satu lagi yang penting kita punya dalam berkerudung ala-ala Nisa Warisman ini, yaitu:
Shawl bahan kaos.
Ga punya juga? Atuhlah..., jadi kamu punyanya apa? Cinta? Cinta mah ga bisa dikumpulin terus dituker sama bimoli pouch di indomaret terdekat kayak kupon belanja.
Kalo shawl bahan chiffon punya ga?
Ga punya juga?
Sok atuh beli dulu di temen saya ya, di Permata Hijab Store.


Oke, sudah siap dengan step selanjutnya? Sip.
Langkah kedua adalah:
2. Kenakan shawl-nya di kepala.
Kepala? Kepala siapa?
Ya kamu, masa iya Obama.


3. Atur supaya bagian kanan lebih panjang dari bagian kiri.
Atau kalau kamu kidal dan lebih gampang melakukan sebaliknya, lakukanlah sebaliknya.
Atau kalau kamu begitu mencintai keseimbangan dan keadilan, buatlah yang kanan sama dengan yang kiri, lalu, klik-lah tanda silang di pojok kanan atas, selamat tinggal.... Ngeyel sih :/


4. Angkat bagian yang lebih pendek (dalam gambar, yang kiri), lalu selusup-kan bagian yang lebih panjang ke bawahnya.
Pinter...


5. Angkat bagian yang panjang tadi untuk melingkari lagi kepalamu.
Jadi, akan ada dua lapis shawl di atas kepala.
Mau tiga lapis? Boleh...
Mau tujuh lapis soalnya takut masuk angin? Boleh, tiap lapis beda warna ya sekalian, atasnya kasih cream cheese sama almond nougat.


Masuk ke langkah yang paling asik.
6. Rapikan


6. Rapikan


6. Rapikan
Mm, oke, stop, muka sih ya gitu aja, ga usah dirapi-in, nggak ngaruh.


Lanjuuut.
Uuuh, agak susah nih bagian ini. 
Bukan, bukan lagi mites anak-anak kutu.
Itu lagi melakukan langkah selanjutnya:
7. Sematkan jarum pentul di atas kepala.
Tujuannya?
Supaya kerudungnya menempel kokoh di kepala, seperti holcim membangun rumah anda.
Jadi mesti ditusuk gitu jarumnya ke ubun-ubunan?
Ya nggak laaah..., unless you're sundel-bolong-like-creature yang kalo ubun-ubunnya ga ada pakunya bakal bisa terbang nembus tembok, JA-NGAN.
Boleh pake jarum-jarum lain selain jarum pentul? Yang lucu-lucu gitu loh..
Boleh, itu mah terserah aja :) Tapi tips aja ini mah, kalo kamu suka pergi-pergi pake motor, mata jarumnya jangan yang gede-gede, nanti keteken helm, sakit, it surely makes you dizzy, iya, jarum pasak tenda juga jangan.




Maka, selesaaai :D


Eh, eh, iya, tunggu dulu.
Kamu masih bisa lebih mempercantik kerudungmu.
Caranya:
 
8. Pelintirlah sisa shawl yang bagian pendek tadi ke samping telingamu, beri pin kembang-kembang lucu di sana.
Eh tapi saya juga kan ga punya pin kembang-kembang lucunya, ah, ya sudahlah....


Maka,
selesai beneran :D


Kini, kamu yang cantik berkerudung sudah siap berkeliling kota dengan delman istimewa.


Akhir kata, salam cinta semuanya, semoga agak-agak bermanfaat, assalamualaikum :)




Sunday, January 13, 2013

Teteh Sayang Lulu, Selalu


Pernah punya kucing yang begitu menggemaskan? Kucing yang sampai-sampai hampir setiap kamu melihatnya, you’ll whisper unwittingly, “you’re the cutest creature I’ve ever seen.” Pernah punya kucing yang membuat kamu merasa paling istimewa? Kucing yang jutek hampir pada setiap orang, tapi begitu manis kepadamu. Pernah punya kucing yang hampir selalu tau saat-saat berat dalam hidup kamu? Kucing yang seolah bisa merasa kesedihanmu, lalu menemanimu sambil memijit lenganmu. Pernah punya kucing yang sangat terganggu melihat kamu menangis? Kucing yang dengan panik mengeong-ngeong seolah memohon padamu untuk berhenti menangis. Pernah punya kucing yang akan mencarimu kemana pun saat mendengar suara tangis palsumu? Kucing yang berlarian ke tempat kamu berada ketika kamu mengeluarkan suara tangis palsu, seolah-olah kamu adalah anaknya yang harus dia rawat. Pernah punya kucing yang dengan mendengar suara dengkurannya akan membuat kamu merasa sangat nyaman? Kucing yang dengan rela perutnya dijadikan bantal nyaman hanya supaya kamu bisa mendengar suara dengkurnya yang lembut. Pernah punya kucing yang tidak pernah mau menggunakan cakarnya kepadamu? Kucing yang ketika diganggu bagaimana pun olehmu hanya akan menggertak dengan mengayunkan cakarnya kepadamu, lalu memasukkan kukunya tepat sebelum mengenai kulitmu. Pernah punya kucing yang membuatmu merasa penting? Kucing yang menggulung-gulung diri di pakaian kotormu ketika kamu tidak ada di rumah, kucing yang hanya mau disuapi makan olehmu ketika sakit. Pernah punya kucing yang bisa memijit lengan dan kaki? Kucing yang memijit dengan hebat, dengan dua kaki belakangnya, bukan dengan kaki depan, jadi pegal-pegal di lenganmu bisa hilang, dan cara memanggilnya untuk memiijit cukup dengan pura-pura menangis, hee.

Saya punya kucing yang seperti itu, ‘pernah’ punya, namany Lulu, dibeli di sebuah cat breeder sembilan tahun lalu dengan sepenuh usaha dan air mata. Saat itu saya masih SMP, uang jajan masih seadanya, demi mengumpulkan uang untuk membeli kucing yang (bagi saya)keterlaluan mahalnya, saya harus benar-benar berhemat, makan makanan bekal dari rumah, atau berlapar-lapar kalau perlu, demi mengadopsi kucing lucu yang kemudian saya namai Lulu (walaupun akhirnya, saya hanya berhasil menyumbangkan 1/6 dari harga Lulu, hee).

Sembilan tahun lalu, saya pernah menangis malam-malam, agak frustasi saat itu, 2 bulan usaha menabung, hanya menghasilkan uang dua ratus ribu lebih sedikit, harga kucing idaman saya saat itu rata-rata 1,2 juta, aduh, there’s still a long long long way to go through. Malam-malam di sembilan tahun setelah itu, yang saya tangisi adalah kucing yang sama, menyuapinya sambil berkata, “kamu harus sembuh Lulu.” Sekarang, drama-drama air mata untuk mendapatkan dan mempertahankan Lulu sudah berakhir, ya, Lulu sudah pergi selama-lamanya dari hidup saya.

Lulu mulai malas makan seminggu yang lalu, berlanjut terus sampai akhirnya dia pergi siang ini. Sakitnya Lulu kali ini beda, rasanya seperti sudah punya firasat bakal ditinggal selamanya. Salah satunya karena Lulu sempat menghilang dua kali selama sakitnya, mengurung diri di gudang atas yang susah dijangkau manusia, cuma bisa diakses dengan membuka genting atap rumah. Entah kenapa, semua kucing yang pernah saya pelihara selalu menghilang tiba-tiba saat akan pergi selamanya, tidak pernah mau sakit dan meninggal di depan saya, mungkin memang begitu kelakuan kucing peliharaan. Jadi ketika Lulu hilang saat sakit, saya sudah frustasi dan merasa janggal. Susah payah saya buang semua pikiran buruk, karena memang begitu kan, siapapun di dunia tidak ada yang bisa mengira-ngira tentang kematian. Maka setiap hari saya menyemangati (atau mungkin membebani) Lulu dengan berkata, “Lulu, ayo cepet sembuh,” “Lulu, kamu harus sembuh,” “Lulu, ayo dong sembuh, Lulu kan janji ga akan ninggalin teteh sebelum teteh nikah,” “Lulu, sembuh dong, inget ya, Lulu ga boleh ninggalin teteh,” “Luluuu, sembuh, kalo Lulu ga ada, teteh sama siapaaa,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya. Sampai akhirnya, malam kemarin, entah kenapa, saya ungkapkan semua yang menurut saya harus saya sampaikan ke Lulu, hal-hal yang saya ingin Lulu dengar. Bukan lagi kalimat memintanya untuk sehat, tapi kalimat-kalimat terima kasih, maaf, dan sayang. Lulu harus mendengar betapa saya berterima kasih atas keberadaan dan segala yang dia lakukan dalam hidup saya, Lulu harus mendengar betapa saya menyesal atas segala kelalaian saya dalam merawatnya selama sembilan tahun ini, Lulu harus mendengar betapa saya sangat menyayanginya, betapa dia sangat berharga dalam hidup saya. Dan entah kenapa saat itu saya juga berkata, “Lulu, kalau emang Lulu mau pergi, jangan terlalu sakit ya (sakaratul mautnya).” Sambil mendengar semuanya, Lulu sedikit-sedikit mengibaskan ekornya dengan lemah, membuat suara dengkuran pelan yang membuat hati nyaman, hal yang pastinya dilakukan Lulu dengan sisa tenaganya dan susah payah. Saya yang sudah bergelimang air mata lalu meninggalkan Lulu sebentar untuk mengambil tisu. Ketika kembali, Lulu saya dapati sudah hilang. Saya yang mengira Lulu kabur ke gudang atas lagi lalu marah, “Lulu, kamu jahat, makan ga mau, tapi bisa kabur ke atas.” Begitulah, saya merasa ditinggal olehnya. Karena begadang, saya tidur setelah subuh, tidur begitu saja tanpa tahu, Lulu tersayang sebenarnya sedang tidur tepat di bawah saya, di kolong tempat tidur. Entahlah, Lulu semacam tidak mau dilihat bagaimana dia meninggal tapi ingin ada di dekat saya. Kalau saja saya tau sebelumnya kalau Lulu tidur di bawah saya, saya mungkin akan mengangkatnya dan membuatnya tidur di samping saya, dan saya tidak perlu memanggil-manggilnya untuk turun dari gudang sambil memarahinya. Saya terbangun saat masih pagi karena mendengar sesuatu di bawah kasur, setelah memanggil-manggil, “Lulu? Lulu?” dan tidak ada reaksi lagi, saya yang setengah sadar pun tidur lagi, yep, tolol. Terbangun lagi agak siang, karena mendengar nafas tersengal di bawah kasur, langsung benar-benar bangun dan berdiri kali ini. “Lulu? Lulu?” tidak ada reaksi lagi, tapi saya yakin Lulu ada di sana. Langsung saja saya bongkar tempat tidur itu, agak lama, karena kasurnya besar dan tipikal spring bed lama, berat, belum lagi kamar yang sempit oleh barang-barang membuatnya susah untuk bergerak. Setelah lama berkutat dengan kasur, akhirnya saya melihat gumpalan bulu putih abu itu, tergeletak di bawah sana, saya raba flesh pad-nya yang lembut, dingin, Lulu sudah pergi, selama-lamanya. Saya terus terpaku di sana sampai akhirnya kakak laki-laki saya datang, menghampiri, memeluk dan menenangkan saya, membantu saya menerima kepergiannya. Iya, Lulu sudah pergi, apa lagi yang kita bisa lalukan selain menerima.

Selamat jalan Lulu, terima kasih untuk segalanya, teteh sayang Lulu, selalu.

Monday, April 8, 2013

Nisa Bicara Hijab


                Hijab. Saat SMA dulu yang saya tahu tentang hijab itu adalah hijab yang berarti tirai pemisah, yang biasa dipakai di mesjid untuk keperluan memisahkan jamaah perempuan dan laki-laki. Memasuki masa kuliah di lingkungan yang agamis (alhamdulillah), saya jadi tahu kalau hijab juga bisa mengacu pada penutup kepala wanita muslim, yang digunakan setelah akil baligh di hadapan laki-laki yang bukan mahram-nya. Di awal tahun 2011, mulai marak di telinga saya (entah kapan pastinya di telinga orang lain) istilah 'hijabers,' yang kalau diartikan langsung, semestinya menjadi 'para pemakai hijab'. Yang ternyata, tidak begitu adanya. Hijabers lebih mengarah ke 'para pemakai hijab yang gaya'. Ada yang mendukung, karena terbukti, dengan opsi pemakaian jilbab yang tidak begitu-begitu saja, lebih banyak perempuan muslim yang tertarik untuk lebih menutupi auratnya, taking one step closer is much better than taking no step forward, kan? Yap. Tapi, ada juga yang menentang, karena fenomena ini terbukti juga banyak memunculkan pemakai hijab gaya yang tidak syar'i.
                Kalau kamu Nisa, kamu termasuk yang mendukung trend hijabers ini atau nggak? Saya termasuk yang mendukung, dan mendukung juga teman-teman yang terus berjuang mengingatkan kisi-kisi pemakaian hijab yang syar'i. Kalau sudah banyak yang berkomitmen pakai hijab, kan lebih gampang juga buat teman-teman pejuang penegak syar'i untuk 'membawa' kami-kami yang belum benar supaya jalan bareng ke jalan yang benar, kan? :D
                Saya, sebagai pemakai hijab dari tahun 2004, jauh sebelum trend hijabers (dan yap, belum syar'i) awalnya menganggap kerudung 'di-gaya-gaya-in' itu 'kece tapi ribet'. Sempet coba kerudung 'di-gaya-gaya-in', cuma karena alasan 'keren-kerenan', dan berakhir menyerah karena susah. Semakin kesini, trend hijabers semakin merajalela, ini membuat saya kesulitan mencari dalaman kerudung bertopi yang biasa saya pakai sehari-hari di pasaran. Alasan ini membuat saya mulai coba-coba cara memakai hijab yang ‘masa kini’, jaga-jaga, kalau-kalau dalaman kerudung bertopi memang akan hilang selamanya di pasaran, hehee (yang mana sebelum menjadi langka pun, mencari dalaman kerudung bertopi yang pas dan enak dipakai itu sama seperti mencari jodoh, susah). Dari mencoba-coba itu, saya mulai merasa, pakai ‘hijab masa kini’ itu nggak harus ribet kok. Dari sini, mulailah saya mencoba hijab macam-macam.
                Perjalanan memakai hijab ini berlanjut, saat saya mulai sering melihat teman-teman sholeh di media social facebook dan twitter banyak yang mengingatkan tentang kisi-kisi pemakaian hijab yang syar’i. Saya jadi berpikir, gimana ya, supaya saya bisa pakai kerudung yang panjang menutup dada, tapi dengan percaya diri. Setelah coba, coba, dan coba, yeah, I found the way to wear it, simply-confidently-(hopefully) syar'i. Sekarang, dengan hijab yang kata orang ‘hijab gaya’ atau ‘hijab macem-macem’ atau lainnya, saya justru bisa dengan percaya diri memakai hijab yang menutupi dada, juga tanpa sanggul tinggi. Yang mana dengan gaya memakai hijab terdahulu yang ‘tidak macam-macam’ malah tidak bisa saya lakukan. Saya pun jadi semakin cinta berhijab :)
                Jadi, untuk teman-teman yang berjuang mengingatkan ke arah syar’i, jangan pernah berhenti, semoga selalu diridhoi, diberi kekuatan dan keteguhan hati. Untuk teman-teman yang mengenalkan berbagai model-model berhijab, semoga selalu memberi inspirasi positif, baik untuk yang belum berhijab jadi mau berhijab, juga untuk yang berhijab jadi punya referensi baru berhijab supaya semakin cinta berhijab (seperti yang saya rasakan sekarang). Terimakasih untuk kedua pihak di atas yang berkontribusi membawa saya jadi (sepertinya) berhijab dengan lebih baik, love you :D

Tuesday, April 2, 2013

Simple Hijab Tutorial #2


Assalamualaikum :D


Bertemu lagi dengan saya dan hijab tutorial sok-sok-an saya, hmahahahaa..
Udah tau sok-sok-an tapi kok bikin lagi?
Soalnya ada temen yang minta dikasih tau cara saya pake kerudung di profile picture facebook saya :3 Iya, mungkin karena di situ saya terlihat menawan :3

Langkah pertama!
1. Pakailah ciput ninja
Aih, bukan yang iniii T.T
Nah iya, yang ini..

Langkah kedua!
Hup hup!
2. Pakai pashmina/shawl persegi panjang di atas kepala, sama panjang kanan dan kiri

Langkah selanjutnya!
3. Ambil kedua ujung shawl, kanan dan kiri.
Di sini saya ambil ujung depannya, supaya hasil akhir lebih panjang menutupi dada. Kalau yang diambil ujung belakangnya, hasil akhirnya tidak terlalu panjang menutupi dada. Kalau shawl-nya kurang dari 2m, bagusnya sih ambil ujung bagian depannya, yaaa, sesuai kebutuhan aja lah ya..
Apa? Butuhnya uang buat DP motor?
Rrrr =="

Langkah selanjutnyaaa..
4. Silangkan kedua ujung yang diambil tadi
Sip!

Lalu..
6. Bawa ke belakang leher, ujung kanan ke kiri, ujung kiri ke kanan (silang)
Okeee :D

Lanjut yaa..
7. Terus tarik ujungnya ke belakang leher
Teruuus, teruuus, sampe..
sampe secukupnya ajaaa, bukan sampe kecekek =="

Oke, lanjut..
8. Ikat ujung shawl tadi di belakang leher
Voila, ..
.. jadi begini deh. Tapi, masih keliatan ga rapi kan ya..

Makanya, harus lanjut ke langkah berikutnya..
9. Rapikan bagian kanan, sematkan jarum pentul.
Yap, rapi sebelah..

Lanjut..
10. Rapikan bagian kiri, sematkan juga jarum pentul.
Selasaaaaaaai :D
Tapi, masa cuma begitu aja, ga asik kan ya..
Naaah, kerudung semacam ini bisa juga ditambah aksesoris semacam pin kembang-kembang imut lucu gitu.
Ah, iya, kayak gitu boleh..

Pasang di salah satu sisi.
Apa? Mau dipasang di kedua sisi? Sok aja sih, paling keliatan kayak pegangan katel.

Ihiy, selesyai :3
Kece kan? Kece kan? Kece kan?:3

Eh, apa? Aneh? Kayak kotoran telinga? Rrrr =="

Iya, iya, ini dibuka lagi :/

Tadaaa, udah tah, udah dibuka..

Eh, tapi, sebenernya, kerudung kayak gini bagus juga loh dipakein headband. Headband buat hijab ya, bukan headband 80's.

Kayak gini..
Pake headband yang bahan metal, yang gold atau silver atau yang dikombinasi feather gitu juga lucu kok. Cuma, kalo untuk sehari-hari, pake yang simple2 aja, yang cuma tali gitu, kayak yang di atas. Lucu kan? Lucu kan?
Eh, apa? Aneh?
Iya sih, itu pake kabel charger laptop, headband saya ada di kamar bawah, males ambilnya, ahahahahaa..

Sekian aja deh hijab tutorial saya kali ini..
Assalamualaikum :3






















Saturday, March 9, 2013

Heart Trip

     Bandung-Surabaya, aku duduk bersandar di kursi nyaman kereta Turangga sambil memandangi tiket yang baru saja dilubangi oleh petugas. Tidak biasanya pergi ke Stasiun Gubeng dengan kereta ini, kereta ber-gerbong eksekutif yang tiketnya dibelikan patungan oleh teman-teman komunitas fotografi yang lebih sering melakukan kegiatan nonton bareng atau makan siang bareng ketimbang hunting bareng atau serius berdiskusi foto. Baik sekali mereka, tertera nilai tiga ratus sembilan puluh lima ribu rupiah di tiket ini, yang jika dikonversi menjadi nilai mata uang anak kosan akan berharga empat puluh kali makan siang di Warung Tegal Bahari cabang mana saja di seluruh kota Bandung. Ah, bersyukur sekali aku punya mereka. Belum lagi tiket Mutiara Timur Malam dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru yang tersimpan rapi di tempat khusus dalam tas travel biru tuaku yang kalau tidak salah ingat, harganya seratus lima puluh lima ribu rupiah. Bukan itu saja, masih ada buku panduan wisata Lombok sebagai bekal ketiga dari mereka. Aih, curhat-curhatan tolol dua minggu yang lalu tentang impian menjelajahi tiga Gili di Lombok ternyata ditanggapi serius oleh mereka dengan tiket kereta dan buku itu, wuw. Dua tiket kereta ini memang yang paling mahal dalam budget perjalan Bandung-Lombok-ku. Harga tiket-tiket selanjutnya, seperti tiket feri dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk Bali, tiket bus Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Padang Bai, dan lainnya sampai tiba di Lombok benar-benar tak ada apa-apanya dibanding harga tiket kereta ini, hahaa, mereka membiayai lebih dari lima puluh persen biaya perjalanan pergi. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat ekspresi mereka kemarin siang, memberikan tiket dalam amplop merah muda sambil mengolok-ngolokku yang akhirnya bisa melaksanakan impian seumur hidup ini.



-------------------------------------------------------------------------



     “Eh, apa nih? Surat cinta?”
     “Ya, anggap aja begitu, buka gih.”
    “Bandung-Gubeng, Gubeng-Banyuwangi Baru,” kataku sambil mengernyit memandang tiket-tiket itu, masih bingung, “mm, ini.. ini.. YA AMPUN, AAAH, INI.. INIII..?” mereka berlima mengangguk cengengesan.
     “Nih,” salah satu dari mereka memberikan buku.
    “YA AMPUN, BENEEER, LOMBOOOK! AAAH!” air mata seketika menggenangi wajahku, satu-persatu mereka aku peluk erat sambil berucap terima kasih, dandanan hebohku hari itu hancur dalam 10 detik saja.
     “Liat dulu tanggalnya Ran, hahaa.”
  “Mm, 23 Juni, yang ini 22 Juni” gumamku sambil melihat tanggal keberangkatan di tiket atas nama Maharani Senja, “GILAK, BESOK MALEM! Ah, gila, kalian hobi ya ngerjain orang.”
     “Hahaa, packing yang bener ya, jangan ketiduran malem ini.”
     “Gilaaa, hari ini kan cape bangeeet, ini sih nyiksaaa...."
     "Oh, jadi nggak mau nih? Ambil lagi nih ya tiketnya?"
     "Eh, jangaaan, nggak kok nggak, ini hadiah paling keren se-Nusantara!"
    “Hahaa, semangat packing-nya ya Raniii!” beberapa dari mereka menepuk-nepuk pundakku untuk menyemangati.
    “Eh, tapi, keluargaku kan lagi banyak yang dateng ke Bandung nih, masa ditinggal, mereka sedih dong nanti ga ada yang bisa ngajak jalan-jalan....”
    “Udah diatuuur, Revi udah minta izin ke orang tua kamu, cuti kantor aja udah diurusin Gita, keren kan kita.”
    “Banget, kalian keren, banget...,” speechless, tak ada kata lagi yang tertutur dari mulutku, hanya bisa mengusap lelehan air mata bercampur maskara yang ternyata tak teruji ke-waterproof-annya.
    “Cieee, yang terharu...,” Revi, yang paling dekat denganku, menggodaiku sambil memberikan tisu wajah yang, duh, mbok ya dari tadi toh ngasih tisu-nya, berbagai cairan wajah ini sudah terlanjur diusap dengan ujung lengan baju nih, huu....
    "Iya nih, kalian bisa banget bikin terharu gini, by the way, kok ngasihnya tiket kereta sih, pesawat kek...."
     "Ish, ni anak emang keterlaluan ya, dikasih hati minta dendeng balado. Kan biar berasa perjalanannya Ran, naik pesawat, yaaah, merem dikit udah nyampe, apa bedanya coba sama naik jin?"
     "Nggak tau sih ya bedanya apa, belum pernah naik jin soalnya, ahahahaa."
     "Ya... gitu deh Ran, kita emang cuma mampu beliin itu sih...."
   "Iya sayangkuuu, ya ampun, ini tuh udah yang paling hebat yang bisa seorang Maharani terima dari teman-temannya yang super perhatian dan baik hati tau," air mata meleleh lagi, "tuh kan aaah, jadi nangis lagiii, huaaa, kaliaaan," aku peluk yang berdiri paling dekat denganku, Gita.
     "Udah, udah Ran, itu maskara kemana-mana, mata kamu liat, sembab gitu, kayak mahasiswa baru nggak kuat begadang."
   "Iya, hee," aku mengusap lagi mataku, lalu memberikan senyum manis untuk kelima sahabat terbaik itu, "maskara kalian juga leleh tuh, eh, by the way, tiket pulangnya mana nih? Kok perginya doang?"
    "Ih, bener-bener anak gak tau diri ya, itu tiketnya udah double combo gitu, masih minta buat pulang, ngeselin ya, yuk ah tinggalin."
   "Huahahahaa...," mereka pun berlalu seiring tawa bahagiaku untuk memburu makanan-makanan yang tersaji di acara kemarin siang.



-------------------------------------------------------------------------


   Ah, harusnya aku sudah tidur dari tadi, perjalanan masih panjang, dan punggung masih terasa pegal akibat acara packing yang tiba-tiba. Tapi, selelah apapun, aku memang belum mampu tertidur, entahlah mengapa, mungkin karena terlalu dingin. Aku menaikkan ritsleting jaketku sambil tersenyum melihat orang di sampingku, hm, selimut dan bantal hijau kereta api terlihat sangat mampu membuatnya tertidur nyenyak. Wajahnya yang terbalut lelah dan nyaman sungguh damai dilihat, ah, tapi ini juga tidak akan bisa membuatku tertidur. Aku mulai mengotak-atik music player di tangan kananku yang berisi tujuh ratusan lagu, memasang neckband earphone di telinga, dan mulai memandang jendela. Jika tidak sedang masuk terowongan kereta atau melewati pesawahan, hutan, dan tebing, akan ada pemandangan kerlap-kerlip lampu yang sangat aku suka. Berpendar lembut di kejauhan, kadang aku dengan sengaja menyipitkan mata supaya cahayanya semakin buram dan menampilkan ilusi depht of field yang menarik.

     Raindrops on roses and whiskers on kittens
     Bright copper kettles and warm woolen mittens
     Brown paper packages tied up with strings
     These are a few of my favorite things

     Deg, lagu ini menerbangkan khayal pada hari itu....

-------------------------------------------------------------------------

    “Tebak, tebak, ini siapa,” sepasang tangan menutupi mataku dari belakang, mm, lebih tepatnya, menutupi wajahku.
     “Ya kamuuu, siapa lagi.”
    “Kamu siapaaa?” suara berat itu menggodaiku, kalau sekarang dipikir-pikir lagi, cara menggodai yang satu ini so last decade banget ya, hahaa.
   “Renooo, siapa lagi yang punya tangan sebesar dan sekasar kamuuu, kayaknya kalo waktu SD orang lain main benteng-bentengan, kamu mah main tepokan tazoz sama banteng ya,” kataku sambil berusaha melepaskan tangan besar itu dari wajahku.
    “AHAHAHAAA! Ini kan tangan seniman, mesti kuat dan kokoh, hahahaa,” tawanya yang serenyah potato-chips-mahal-yang-tetap-saja-sering-kubeli-walaupun-sadar-perbandingan-antara-udara-dan-potato-chips-nya-semakin-timpang-setiap-tahunnya menghiasi halaman Fakultas Seni Rupa dan Desain sore itu.
    “Cih, kecuali pekerjaan senimanmu nanti membutuhkan kemampuan ngaduk semen yang handal, kamu ga butuh-butuh amat tangan kuat dan kokoh tau, mleee,” kataku sambil melepas earphone yang tadi sedang memainkan lagu untuk mengobati bosan.
     “Hahaa, iya deh iya, udah lama nunggu?”
   “Lamaaa bangeeet,” kataku pura-pura kesal sambil memanyunkan bibirku, yang saat itu aku pikir akan terlihat imut, yang nyatanya, setelah baru-baru ini aku praktikkan di depan cermin, terlihat sama mengerikan seperti Ronald Mc Don*ld dipaksa nyengir.
     “Duuuh, ngambek, jangan manyun gitu dong, nanti cantiknya ilang.”
     “Cantiknya aku itu long lasting kayak lipstik mahal tau, ga akan pudar cuma karena manyun doang, huh,” kataku sambil memanyunkan bibir lebih lagi, nggak peduli apa kata Reno, yang belakangan baru aku sadar kalau apa yang dia bilang benar adanya, ahahaa.
    “Iya, percayaaa, maafin dong maafin, nih, nih, chupa ch*ps stoberi,” Reno mengeluarkan lolipop dari saku jaketnya, lolipop yang sudah beberapa tahun ini tak pernah lagi menjadi kesukaanku.
     “Hehee,” cengirku lebar menerima lolipop itu.
   “Lagi dengerin apa tuh?” Reno menunjuk kabel earphone dengan lirikan matanya. 
     “Oh, tadi lagi denger My Favorite Things, lagi suka banget nih sama lagu ini, hihii.”
     “Gimana, gimana, lagunya?”
     “Nih,” aku menyodorkan earphone itu.
   “Nggak, nggak, bukan denger pake ini, coba, coba, gimana, mau denger,” Reno menunjukku.
     “Eh? Aku? Aku yang lalalalalala-nya?”
     “Iya, kamu yang lalalalalala-nya” senyum Reno.
    “Oke, ehm, ehm, raindrops on roses and whiskers on kittens, bright copper kettles and warm woolen mittens, brown paper packages tied up with strings, these are a few of my favorite things.... Udah ya, malu, hehee," dengan suara sangat seadanya, aku menyanyikan lagu itu untuknya.
     "Hehee, bagus, bagus. Eh, tadi terakhirnya gimana kalimatnya?"
     "Terakhirnya? Mm, these are a few of my favorite things...."
   “Ah, and this...,” Reno menepuk pundakku sambil tersenyum, “...is my favorite thing.”
 “Ish...,” aku meninju lengannya, kemudian menunduk, untuk menyembunyikan sebulir air mata yang meleleh. Tapi Reno juga menunduk, mencari wajahku.
     “Cieee, ada yang terharuuu....”
   “Ngeseliiin, ahahahaa,” aku mengejarnya yang berlari pelan ke tempat parkir.

-------------------------------------------------------------------------

     Reno, satu nama yang pernah membuatku mengkhayalkan betapa cocoknya jika Rani-Reno tertera dalam sebuah undangan pernikahan warna biru laut, hahaa, absurd. Di mana dia sekarang? Sedang bersama pacarnya yang hitam manis berambut indah itu? Atau pacarnya yang semampai bergingsul manis? Atau kedua pacarnya itu berakhir sama sepertiku, melihatnya sedang berpacaran dengan dua gadis lain dan kemudian dua gadis itu juga melihatnya berpacaran lagi dengan dua gadis lainnya? Lalu dua gadis lainnya itu... ah, kusut. Mengingat ini, bisa membuatku membayangkan betapa sesak dan menyakitkannya udara Bandung untuk dihirup saat itu, saat dimana menjalani hidup sama susah dan tak mungkinnya seperti halnya membalikkan telapak tangan, tangan gorilla. Bukan cuma sakit karena dikhianati saja, tapi juga harus menjalani hidup penuh kegilaan akan penghargaan diri, hidup sambil melawan arus rendah diri yang parah. Aku kurang apa? Kurang apa? Kurang apa? Oh iya, kurang cantik, kurang baik, kurang menyenangkan, kurang dewasa, kurang pintar dan kurang lain-lain. Pontang-panting berusaha menunjukkan pada dunia kalau aku tak layak dikhianati, huuuh, berat. Untungnya, yang tersisa sekarang hanya bayangannya saja, tidak ada lagi sensasi sakit mengingat masa sulit itu.
    Rani, skip that song. Tangan kananku meraih music player dan menekan salah satu tombolnya, mencoba fokus lagi pada pemandangan yang menyejukkan mata, bahkan fokus pada dinginnya udara, dengan harapan bisa membekukan kenangan yang tak layak dikenang. Brrr, malam ini, aku menyadari satu hal, bahwa tubuh ini, sebagaimana layaknya lebih cocok dengan makanan warung tegal, juga lebih cocok dengan gerbong bisnis. Aku pun menarik lagi tudung jaketku, juga membawa kedua tanganku masuk lebih dalam ke lengan jaket, baru kali ini aku mensyukuri panjang tungkai depan yang pendek ini.

     Nobody gonna love me better
     I must stick with you forever
     Nobody gonna take me higher
     I must stick with you

    Lirik ini, hahaa, aku baru sadar music player sedang memainkan lagu ini saat kereta tiba-tiba memasuki terowongan kereta, yang membuat pemandangan indah pendar-pendar lampu di kejauhan hilang seketika. Ingatanku melayang lagi ke sana.

-------------------------------------------------------------------------

     “Ran, enak ya lagunya.”
     “HAH?”
     “LAGUNYA, ENAK,” ucap orang di sebelahku sekali lagi, di tengah riuh suara pentas seni kecil-kecilan sekolahku.
   “Oh, hehee, iya, asik ya, sebenernya baru kemarin sih denger lagu ini di radio, langsung suka,” kataku bertatapan dengan Fariz, lebih mengeluarkan bentuk-bentuk bibir dan gerakan tangan ketimbang suara, percuma soalnya, agak sulit terdengar.
     “Hehee, beli minum yuk,” Fariz menunjuk booth minuman yang berjarak tak jauh dari kami.
    “Nggak ah, tadi udah jajan, duitnya nyisa buat ngangkot aja,” cengirku polos.
   “Aku jajanin deh, yuk,” tangan Fariz menarik tanganku menuju tempat membeli minum. Menit-menit berikutnya, entah mengapa aku begitu fokus dengan cup minuman di hadapanku, kecanggungan dan kegugupan ini membuatku sangat tertarik memperhatikan sedotan putih berulir merah ini ketimbang ngobrol sambil menatap muka Fariz. Ini memang pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan lawan jenis.

-------------------------------------------------------------------------

    “Rani,” Fariz menghampiriku di kantin sekolah sambil mencubit pipiku, lalu duduk di depanku. Oh Rani muda, betapa polosnya dirimu saat itu, kok ya mau-maunya dicubit-cubit pipi begitu aja, pikirku sekarang.
    “Eh, Riz, kenapa?” ujarku sambil memasang senyum paling manis yang bisa aku tampilkan kepadanya.
     “Mm....”
   “Eh, suram gitu, kamu nggak lulus? Aku aja lulus, cum laude,” kataku mencontek kata cum laude dari tayangan wawancara Putri Indonesia, yang kalau diingat lagi sekarang, dan kalau Fariz juga mengingatnya sekarang, pasti akan bisa tertawa kecil seperti yang aku lakukan sekarang.
     “Hahaa, lulus kok, hee.”
     “Nah terus kenapa?”
     “Mm, kamu nerusin kuliahnya tetep di Bandung sini kan ya?"
     "Iya Riz, malah aku udah daftar ujian-ujian masuk gitu, siapa tau SPMB-nya nggak lulus, hee. Kalo kamu?"
     "Mm, orang tua nyuruh aku kuliah di luar.”
     “Luar? Negeri?”
     “Iya,” Fariz mengangguk.
   “Wah, keren dong, dimana?” kataku seadanya, yang sudah tertular kesuraman Fariz, biar bagaimana pun, Fariz sudah punya tempat tersendiri di hati saat itu, setelah satu cup minuman yang dibelikannya di pentas seni, oh Rani muda, kavling hatimu murah sekali.
     “Keren sih, tapi kan jadi nggak bisa ketemu kamu lagi. Di Ostrali.”
   “Oh, ya udah, Fariz liat aja bule-bule Aussie cantik di sana, nggak jauh bedanya kok sama aku,” aku menunduk, berharap getaran dalam suaraku tidak terdengar.
    “Hee, iya, Rani baca ini ya nanti di rumah,” Fariz menyodorkan lipatan kertas hvs, yang aku terima sambil mengangguk, sebuah surat.

-------------------------------------------------------------------------

Maharani Senja,
Aku mau ngaku beberapa hal ke kamu. Pertama, sejak kamu lari-lari nyusul aku yang lupa ambil uang kembalian dari kantin, aku pikir kamu imut banget. Kedua, aku nggak suka lagu Stick With You, kurang laki-laki untuk telingaku, hee. Ketiga, aku bilang lagu itu enak, supaya di PenSi waktu itu bisa ngajak ngobrol kamu yang ditinggal temen-temen kamu ke toilet. Sampai sekarang, aku masih nyesel, kenapa temen-temen kamu nggak kebelet pipis waktu Pas Band atau Nine Ball yang naik panggung, jadi pilihan lagu aku nggak terlalu feminin, hahaa. Keempat, aku suka kamu. Kelima, kayak kata lagu, I must stick with you forever. Keenam, kalau kamu suka aku juga, dan setuju sama lirik lagu itu, kamu tungguin aku pulang ya, soalnya, yang ketujuh, mm, aku suka kamu, hee, banget. Tenang aja, aku nggak akan kuliah sampe tujuh tahun. Aku bakal lulus kuliah 4 tahun dan pulang untuk kamu.
Fariz Rizki Ramdhani

-------------------------------------------------------------------------

     Fariz, sudah lebih dari tujuh tahun dan kamu belum juga menemuiku. Tanpa telepon, tanpa pesan, tanpa email, tanpa testimonial di friendster, tanpa tanda-tanda keberadaan apa pun. Kamu hilang. Satu setengah tahun berlalu, aku menemukan akun facebook-mu dengan status in relationship with perempuan Asia Timur cantik. Dasar (cinta)monyet! Kamu lah cikal bakal istilah PHP di dunia.
    Ah, dingin ini, nyatanya, ingatan tentang Fariz sang cinta monyet saat SMA yang menyebalkan pun tak mampu membuat tubuhku hangat. Dingin ini membuatku menyerah, selimut hijau kereta api yang diniatkan untuk aku pakai ketika dingin sudah memuncak akhirnya aku bentangkan juga di tubuhku. Ah, sudah lebih hangat dan nyaman sekarang. Aku lebih menghenyakkan diri lagi di sandaran kursi empuk kereta berwarna biru tua ini.
   Tapi, duh, perutku terasa kembung sekarang. Duhai masuk angin, mengapa kau harus datang di acara perjalanan impian ini sih? Untungnya, walaupun dengan packing yang terburu-buru, aku sempat menyiapkan obat masuk angin untuk dibawa. Aku mulai mencari obat masuk angin kemasan sachet di tas kecilku, tidak ada. Oh iya, ada di kantong depan tas yang disimpan di kabin. Susah payah aku berdiri dan berusaha mengambil obat masuk angin itu, ah, dapat juga akhirnya.
    “Dari tadi belum tidur?” sambil memeriksa jam, orang di sebelahku berkata.
  “Eh, kebangun ya? Maaaaf. Hee, iya, belum bisa tidur,” kataku sambil membuka lalu menyeruput obat masuk angin itu.
     “Itu kenapa? Masuk angin?” Dia melihat ke arah obat masuk anginku.
     “Iya, hee.”
  “Kedinginan ya?” senyum hangat menghiasi wajahnya, senyum yang membuat wajahnya semakin tampan.
    “Iya,” aku mengangguk.
     “Kamu kayaknya mesti diangetin deh.”
     "Di...angetin...?"
     "Iya," dibukanya kaca mata coklat tua yang memperlihatkan mata tajamnya, lalu wajah itu mendekat ke wajahku yang masih menyeruput obat masuk angin, memegang kedua pundakku, lalu mengucapkan satu-persatu kata dengan tegas, “Rani-aku-cinta-kamu.”   
   Deg, rangkaian kata itu, suara itu, dan tatapan mata itu, seketika membuatku meleleh dan tak bisa berkata banyak.
     "Udah jadi anget kan?"
     "Mm...."
     "Ah..., terpesona ya?”
  “Ng..., nggak kok, nggak,” tangan kananku mengambil kacamata dari tangannya, “kamu..., kalo ngomongnya deket-deket begitu..., matanya jadi juling...,” aku sudahi kalimat sembarangku dengan memasangkan kembali kacamata coklat tua itu di wajahnya.
     “Hahaa, juling juga tetep ganteng kan."
     "Mm, biasa aja tuh," yap, bohong.
    "Hehee. Oh iya, maaf ya tadi langsung ketiduran gitu aja, makasih juga udah diselimutin,” katanya sambil tersenyum, ya, senyum itu lagi, menyebalkan, kenapa masih saja jantung ini berdebar keras tiap kali senyum itu merekah.
   “Iya,” kataku sambil membalas senyumnya.
   “Kamu manis ya kalo senyum, hee.”
  “Ish, udah setua ini kamu baru sadar aku manis? Sungguh puluhan tahun dalam kesia-siaan ya hidupmu selama ini.”
     “Hahaa, nggak kok, udah nyadar sejak..., mm....”
     “Sejaaak?”
     “Sejak barusan, hahaa....”
     “Ih, nyebeliiin,” aku tinju-tinju kecil lengannya.
     “Hee, sini manis, sini, tidur senderan sini, biar anget.”
    “Iya.” Aku pun segera bersandar di sana, di tempat untuk tidur yang paling nyaman sejagat raya, di lengan pria yang kemarin pagi mengucapkan ijab qabul dengan lantang bagiku.
     “I love you, honey,” bisiknya.
   “I love you too,” kalimatku dan debaran jantung yang bisa ia rasakan ini sepertinya sudah sangat cukup untuk membuatnya yakin, bahwa aku pun mencintainya, sepenuh hati.

-------------------------------------------------------------------------

   Subuh keesokan harinya, aku terbangun, terdiam beberapa saat, lalu menulis di jurnal pribadiku, “heart trip, hati ini, mungkin sudah berkelana dan singgah ke banyak dermaga yang salah, tapi, akan tiba saat di mana hati ini berhenti, menemukan kembaran rasa, lalu melaju lagi bersama-sama.”

TAMAT

Wednesday, February 6, 2013

Terimakasih Papah


Sore ini saya baru menyelesaikan nonton Kita Vs Korupsi, 4 film pendek yang dibuat sebagai penyuluhan korupsi bagi masyarakat. Menurut saya, film yang paling ngena itu justru film yang paling sederhana diantara keempatnya, film ke-4, soalnya dekat dengan keseharian, judulnya, "Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa." Film ini bercerita tentang korupsi kecil-kecilan yang dilakukan oleh anak SMA. Waktu masih sekolah dulu, saya juga sering mendengar istilahnya; nyoceng. Buat yang belum tau, nyoceng itu adalah perbuatan me-markup anggaran yang pelakunya anak sekolahan, mau itu buku pelajaran, uang les, sumbangan sekolah, seragam, apapun. Misalnya gini nih, buku Biologi itu harga sebenarnya Rp 38.000, tapi, supaya bisa nraktir pacar jajan mie ayam, pelaku nyoceng akan meminta uang Rp 50.000 kepada orangtuanya, dan berkata sebesar itulah harga buku sebenarnya. Yah, nyoceng, dari perbuatan sekecil inilah korupsi yang lebih besar skalanya bisa jadi bermula, ini inti ceritanya. Aaah, untung saja saya tidak pernah jadi bagian di dalamnya, ahiy, saya memang anak yang baik :3 Cantik juga sih, tapi, sudahlah, kita tidak sedang membicarakan kecantikan saya di sini. 

Selain film tadi, ada lagi yang ngena di hati saya, yaitu film ke-3, judulnya; "Selamat Siang, Risa!" Tentang bagaimana Risa menolak untuk diberi suap, sebagaimana ayahnya dulu yang bekerja sebagai penjaga gudang menolak untuk mengalihfungsikan gudang yang ia jaga untuk menimbun beras, walaupun sebenarnya, uang yang ayah Risa bisa dapat akan sangat berharga untuk pengobatan adik Risa yang sedang sakit saat itu. Ayah saya bukanlah seorang penjaga gudang, ibu saya pun bukanlah penjahit, dan saya tidak pernah sakit-sakitan saat tak ada beras yang bisa dimasak di dapur, tapi film ini mengingatkan saya pada ayah saya, pada papah. Baru-baru ini mamah cerita tentang papah, tentang bagaimana beliau bekerja, tentang kesempatan-kesempatan yang beliau lewatkan supaya tetap lurus dijalannya, tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa keluarga kita bisa lebih 'sejahtera' daripada sekarang jika papah tak teguh pendirian, tentang mengapa saat itu jabatan papah saya segitu-segitu saja. Hm... :) Terimakasih pah, untuk bersihnya rizki yang kau upayakan untuk kami, untuk segala lelah yang kau lalui tanpa memperlihatkan susah, untuk segala sukar yang kau lalui tanpa gentar. Aku bangga padamu, selalu :') T.T 

Wednesday, January 16, 2013

Tutorial Berkerudung Untuk Pemula

Assalamualaikum, salam sejahtera dan salam hangat-hangat kuku dari saya.
Pada blog post kali ini, saya akan menunjukkan langkah demi langkah pemakaian kerudung 'Neno Warisman' yang saya kenakan untuk profile picture facebook saya baru-baru ini:
yap, yap, yang ini.
Iyaa..., yang itu.
Udah dong ah, jangan diliatin terus gitu :3


Oke, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah:
1. Memakai ciput ninja.
Ciput ninja itu yang kayak gimana?
Itu loh kayak yang saya pake di atas, yang warnanya biru.
Ciput ninjanya yang biasa-biasa aja ya, ga usah yang ada tambahan bulatan di belakang/atas kepala. Soalnya, nanti mirip punuk onta, nah, dari yang saya baca, berjilbab yang mirip punuk onta atau camel-hump-hijab, menurut hadist ga dibolehin :) *belajar sedikit-sedikit, hihii


Oke, lanjut ke langkah kedua.
Eh, apa? Ada yang ga punya ciput ninja?
Mm, beli dulu gih ke Pasar Baru.
Eh, males?
Oke, kamu punya ayah, bapak kos, atau saudara laki-laki? Sip.
Kalau begitu, di tempat tinggal kamu pasti ada ini:
Yap, sarung.
Sarung bisa kita jadikan alternatif cerdas pengganti ciput ninja, seperti yang anak-anak generasi 90-an lakukan saat ninja turtles sedang berjaya, inget kan? Lingkarkan ujung bukaan sarung di atas hidung, ikatkan di belakang kepala. Buka ujung bukaan sarung yang satunya lagi, satu ditarik menuju pucuk kepala, satu lagi ditarik ke bawah, sreeet...
VOILA!
Pinter kan, kan, kan? B-)
Apa? Jelek? Ya iya sih, siapa suruh males ke Pasar Baru :/


Oke, kita lanjutin aja, yang belum punya ciput ninja, nanti nyusul ya....
Nah, yang lain, yang udah pada dipake ciput ninjanya..
Eh, eh, lagi pada ngapain itu?
Aaak, nooo, oh, nooo..
There's no need to put spiral-like-blush on your cheeks like the way Ninja Hattori does, haduuuh, hapus, hapus, ngewa ah..


Lanjut ya, serius nih ah....
Setelah ciput ninja, ada satu lagi yang penting kita punya dalam berkerudung ala-ala Nisa Warisman ini, yaitu:
Shawl bahan kaos.
Ga punya juga? Atuhlah..., jadi kamu punyanya apa? Cinta? Cinta mah ga bisa dikumpulin terus dituker sama bimoli pouch di indomaret terdekat kayak kupon belanja.
Kalo shawl bahan chiffon punya ga?
Ga punya juga?
Sok atuh beli dulu di temen saya ya, di Permata Hijab Store.


Oke, sudah siap dengan step selanjutnya? Sip.
Langkah kedua adalah:
2. Kenakan shawl-nya di kepala.
Kepala? Kepala siapa?
Ya kamu, masa iya Obama.


3. Atur supaya bagian kanan lebih panjang dari bagian kiri.
Atau kalau kamu kidal dan lebih gampang melakukan sebaliknya, lakukanlah sebaliknya.
Atau kalau kamu begitu mencintai keseimbangan dan keadilan, buatlah yang kanan sama dengan yang kiri, lalu, klik-lah tanda silang di pojok kanan atas, selamat tinggal.... Ngeyel sih :/


4. Angkat bagian yang lebih pendek (dalam gambar, yang kiri), lalu selusup-kan bagian yang lebih panjang ke bawahnya.
Pinter...


5. Angkat bagian yang panjang tadi untuk melingkari lagi kepalamu.
Jadi, akan ada dua lapis shawl di atas kepala.
Mau tiga lapis? Boleh...
Mau tujuh lapis soalnya takut masuk angin? Boleh, tiap lapis beda warna ya sekalian, atasnya kasih cream cheese sama almond nougat.


Masuk ke langkah yang paling asik.
6. Rapikan


6. Rapikan


6. Rapikan
Mm, oke, stop, muka sih ya gitu aja, ga usah dirapi-in, nggak ngaruh.


Lanjuuut.
Uuuh, agak susah nih bagian ini. 
Bukan, bukan lagi mites anak-anak kutu.
Itu lagi melakukan langkah selanjutnya:
7. Sematkan jarum pentul di atas kepala.
Tujuannya?
Supaya kerudungnya menempel kokoh di kepala, seperti holcim membangun rumah anda.
Jadi mesti ditusuk gitu jarumnya ke ubun-ubunan?
Ya nggak laaah..., unless you're sundel-bolong-like-creature yang kalo ubun-ubunnya ga ada pakunya bakal bisa terbang nembus tembok, JA-NGAN.
Boleh pake jarum-jarum lain selain jarum pentul? Yang lucu-lucu gitu loh..
Boleh, itu mah terserah aja :) Tapi tips aja ini mah, kalo kamu suka pergi-pergi pake motor, mata jarumnya jangan yang gede-gede, nanti keteken helm, sakit, it surely makes you dizzy, iya, jarum pasak tenda juga jangan.




Maka, selesaaai :D


Eh, eh, iya, tunggu dulu.
Kamu masih bisa lebih mempercantik kerudungmu.
Caranya:
 
8. Pelintirlah sisa shawl yang bagian pendek tadi ke samping telingamu, beri pin kembang-kembang lucu di sana.
Eh tapi saya juga kan ga punya pin kembang-kembang lucunya, ah, ya sudahlah....


Maka,
selesai beneran :D


Kini, kamu yang cantik berkerudung sudah siap berkeliling kota dengan delman istimewa.


Akhir kata, salam cinta semuanya, semoga agak-agak bermanfaat, assalamualaikum :)




Sunday, January 13, 2013

Teteh Sayang Lulu, Selalu


Pernah punya kucing yang begitu menggemaskan? Kucing yang sampai-sampai hampir setiap kamu melihatnya, you’ll whisper unwittingly, “you’re the cutest creature I’ve ever seen.” Pernah punya kucing yang membuat kamu merasa paling istimewa? Kucing yang jutek hampir pada setiap orang, tapi begitu manis kepadamu. Pernah punya kucing yang hampir selalu tau saat-saat berat dalam hidup kamu? Kucing yang seolah bisa merasa kesedihanmu, lalu menemanimu sambil memijit lenganmu. Pernah punya kucing yang sangat terganggu melihat kamu menangis? Kucing yang dengan panik mengeong-ngeong seolah memohon padamu untuk berhenti menangis. Pernah punya kucing yang akan mencarimu kemana pun saat mendengar suara tangis palsumu? Kucing yang berlarian ke tempat kamu berada ketika kamu mengeluarkan suara tangis palsu, seolah-olah kamu adalah anaknya yang harus dia rawat. Pernah punya kucing yang dengan mendengar suara dengkurannya akan membuat kamu merasa sangat nyaman? Kucing yang dengan rela perutnya dijadikan bantal nyaman hanya supaya kamu bisa mendengar suara dengkurnya yang lembut. Pernah punya kucing yang tidak pernah mau menggunakan cakarnya kepadamu? Kucing yang ketika diganggu bagaimana pun olehmu hanya akan menggertak dengan mengayunkan cakarnya kepadamu, lalu memasukkan kukunya tepat sebelum mengenai kulitmu. Pernah punya kucing yang membuatmu merasa penting? Kucing yang menggulung-gulung diri di pakaian kotormu ketika kamu tidak ada di rumah, kucing yang hanya mau disuapi makan olehmu ketika sakit. Pernah punya kucing yang bisa memijit lengan dan kaki? Kucing yang memijit dengan hebat, dengan dua kaki belakangnya, bukan dengan kaki depan, jadi pegal-pegal di lenganmu bisa hilang, dan cara memanggilnya untuk memiijit cukup dengan pura-pura menangis, hee.

Saya punya kucing yang seperti itu, ‘pernah’ punya, namany Lulu, dibeli di sebuah cat breeder sembilan tahun lalu dengan sepenuh usaha dan air mata. Saat itu saya masih SMP, uang jajan masih seadanya, demi mengumpulkan uang untuk membeli kucing yang (bagi saya)keterlaluan mahalnya, saya harus benar-benar berhemat, makan makanan bekal dari rumah, atau berlapar-lapar kalau perlu, demi mengadopsi kucing lucu yang kemudian saya namai Lulu (walaupun akhirnya, saya hanya berhasil menyumbangkan 1/6 dari harga Lulu, hee).

Sembilan tahun lalu, saya pernah menangis malam-malam, agak frustasi saat itu, 2 bulan usaha menabung, hanya menghasilkan uang dua ratus ribu lebih sedikit, harga kucing idaman saya saat itu rata-rata 1,2 juta, aduh, there’s still a long long long way to go through. Malam-malam di sembilan tahun setelah itu, yang saya tangisi adalah kucing yang sama, menyuapinya sambil berkata, “kamu harus sembuh Lulu.” Sekarang, drama-drama air mata untuk mendapatkan dan mempertahankan Lulu sudah berakhir, ya, Lulu sudah pergi selama-lamanya dari hidup saya.

Lulu mulai malas makan seminggu yang lalu, berlanjut terus sampai akhirnya dia pergi siang ini. Sakitnya Lulu kali ini beda, rasanya seperti sudah punya firasat bakal ditinggal selamanya. Salah satunya karena Lulu sempat menghilang dua kali selama sakitnya, mengurung diri di gudang atas yang susah dijangkau manusia, cuma bisa diakses dengan membuka genting atap rumah. Entah kenapa, semua kucing yang pernah saya pelihara selalu menghilang tiba-tiba saat akan pergi selamanya, tidak pernah mau sakit dan meninggal di depan saya, mungkin memang begitu kelakuan kucing peliharaan. Jadi ketika Lulu hilang saat sakit, saya sudah frustasi dan merasa janggal. Susah payah saya buang semua pikiran buruk, karena memang begitu kan, siapapun di dunia tidak ada yang bisa mengira-ngira tentang kematian. Maka setiap hari saya menyemangati (atau mungkin membebani) Lulu dengan berkata, “Lulu, ayo cepet sembuh,” “Lulu, kamu harus sembuh,” “Lulu, ayo dong sembuh, Lulu kan janji ga akan ninggalin teteh sebelum teteh nikah,” “Lulu, sembuh dong, inget ya, Lulu ga boleh ninggalin teteh,” “Luluuu, sembuh, kalo Lulu ga ada, teteh sama siapaaa,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya. Sampai akhirnya, malam kemarin, entah kenapa, saya ungkapkan semua yang menurut saya harus saya sampaikan ke Lulu, hal-hal yang saya ingin Lulu dengar. Bukan lagi kalimat memintanya untuk sehat, tapi kalimat-kalimat terima kasih, maaf, dan sayang. Lulu harus mendengar betapa saya berterima kasih atas keberadaan dan segala yang dia lakukan dalam hidup saya, Lulu harus mendengar betapa saya menyesal atas segala kelalaian saya dalam merawatnya selama sembilan tahun ini, Lulu harus mendengar betapa saya sangat menyayanginya, betapa dia sangat berharga dalam hidup saya. Dan entah kenapa saat itu saya juga berkata, “Lulu, kalau emang Lulu mau pergi, jangan terlalu sakit ya (sakaratul mautnya).” Sambil mendengar semuanya, Lulu sedikit-sedikit mengibaskan ekornya dengan lemah, membuat suara dengkuran pelan yang membuat hati nyaman, hal yang pastinya dilakukan Lulu dengan sisa tenaganya dan susah payah. Saya yang sudah bergelimang air mata lalu meninggalkan Lulu sebentar untuk mengambil tisu. Ketika kembali, Lulu saya dapati sudah hilang. Saya yang mengira Lulu kabur ke gudang atas lagi lalu marah, “Lulu, kamu jahat, makan ga mau, tapi bisa kabur ke atas.” Begitulah, saya merasa ditinggal olehnya. Karena begadang, saya tidur setelah subuh, tidur begitu saja tanpa tahu, Lulu tersayang sebenarnya sedang tidur tepat di bawah saya, di kolong tempat tidur. Entahlah, Lulu semacam tidak mau dilihat bagaimana dia meninggal tapi ingin ada di dekat saya. Kalau saja saya tau sebelumnya kalau Lulu tidur di bawah saya, saya mungkin akan mengangkatnya dan membuatnya tidur di samping saya, dan saya tidak perlu memanggil-manggilnya untuk turun dari gudang sambil memarahinya. Saya terbangun saat masih pagi karena mendengar sesuatu di bawah kasur, setelah memanggil-manggil, “Lulu? Lulu?” dan tidak ada reaksi lagi, saya yang setengah sadar pun tidur lagi, yep, tolol. Terbangun lagi agak siang, karena mendengar nafas tersengal di bawah kasur, langsung benar-benar bangun dan berdiri kali ini. “Lulu? Lulu?” tidak ada reaksi lagi, tapi saya yakin Lulu ada di sana. Langsung saja saya bongkar tempat tidur itu, agak lama, karena kasurnya besar dan tipikal spring bed lama, berat, belum lagi kamar yang sempit oleh barang-barang membuatnya susah untuk bergerak. Setelah lama berkutat dengan kasur, akhirnya saya melihat gumpalan bulu putih abu itu, tergeletak di bawah sana, saya raba flesh pad-nya yang lembut, dingin, Lulu sudah pergi, selama-lamanya. Saya terus terpaku di sana sampai akhirnya kakak laki-laki saya datang, menghampiri, memeluk dan menenangkan saya, membantu saya menerima kepergiannya. Iya, Lulu sudah pergi, apa lagi yang kita bisa lalukan selain menerima.

Selamat jalan Lulu, terima kasih untuk segalanya, teteh sayang Lulu, selalu.