The Chronicles of Nyanyaa

THE CHRONICLES OF NYANYAA
Ini Kisah Nyata - Ini Kisah Nyanyaa

Wednesday, June 30, 2010

I'm Super


Menyukai orang secara diam diam itu dongo.
Saya termasuk orang yang dongo.
Menyukai orang-yang-menyukai-orang-lain secara diam diam itu super dongo.
Maka saya termasuk kedalam golongan super.
YEAH! I'M SUPER!

gambar: http://ashk4nn.files.wordpress.com/2009/09/superman.jpg

Tuesday, June 29, 2010

Sweets, Caramel Chocolates, and a Wooden Swing


Seperti anak kecil yang menyesal telah memberi tahu dokter gigi bahwa ia memiliki banyak permen dan coklat karamel di saku kiri bajunya. Ya, itu aku, menyesal karena telah memberi tahu dan diberi tahu. Itu aku, yang lebih suka duduk di ayunan kayu yang nyaman, melanjutkan mengunyah permen yang manis.

Bodoh memang, menolak untuk percaya hal-hal yang tak ingin aku percaya. Tapi, bolehkah aku meneruskan mengunyah permen dan coklat karamel? Sampai tak ada lagi permen yang tersisa. Sampai ayunan kayu yang retak benar-benar rusak.

ditulis tanggal: 26 Juni 2010

Tuesday, June 8, 2010

A Loser.. am I?

Memang bukan soal kalah atau menang, tapi, jika dia, aku kalah....
"So, are you a loser?"
"Yes," I whispered.

Sunday, May 23, 2010

The Story of Two Chess Pawns


Aku, kamu, seperti dua pion catur yang berlawanan warna, di jalur yang sama.
Aku, kamu, kita adalah pion prajurit yang berseberangan, namun tepat berhadapan.
Begitukah? Begitukah aku dan kamu? Dua pion prajurit yang hanya dibedakan oleh warna? Ya, jika memang hanya itu, aku tak akan menyangkalnya.

Aku, kamu, pion prajurit yang saling bergerak maju.
Aku, kamu, kita sudah saling bertemu, sudah berhadapan, sudah berdekatan, tapi aku masih di kotakku, kamu masih di kotakmu.
Begitukah? Begitukah aku dan kamu? Pion prajurit di jalur yang sama? Yang hanya bisa saling bertemu? Aku tak bisa ke kotakmu, kamu tak bisa ke kotakku.
Begitukah? Begitukah aku dan kamu? Pion prajurit yang memang tak bisa bergerak maju lagi ketika berhadapan. Tak bisa saling menjemput, karena justru harus berjalan miring untuk bisa masuk ke kotak pion lain.

Aku tak mau begitu, aku bisa gila jika mengetahui kau dijemput oleh pion lain dari kaumku, sementara aku hanya bisa melihat dan menunggu. Aku terlalu menyukaimu. Aku menyukaimu walau kau tidak. Maka aku harap kita bukanlah pion prajurit itu. Aku butuh perumpamaan lain.

Bagaimana jika kita adalah pion menteri dengan warna berbeda? Kita akan tetap bersifat sama dan dapat berjalan dengan cara apapun yang kita mau, lalu saling menemukan. Yang satu bisa menjemput yang lainnya dan menaklukkan sang pemilik kerajaan. Bagaimana? Apa kau suka dengan perumpamaan yang baru? Aku benar-benar menyukainya!
Ya, semoga aku dan kamu berakhir begitu. Amin.

Saturday, May 15, 2010

Hey Boy, Did You Know?

Apa kamu tahu,
betapa aku tak tenang sepanjang hari menunggu saat itu?
betapa senangnya aku duduk di sampingmu?
betapa aku bersyukur dengan titik butaku yang proporsional?
betapa aku ingin menawarimu minum setelah kamu selesai makan?
betapa aku menyesal karena dia lebih dulu menawarimu?
betapa aku senang "dijemput" olehmu?
betapa aku ingin memegang kemejamu diantara orang-orang itu, takut berpisah darimu?

Apa kamu tahu,
bahwa tatapan matamu mampu membuat detak jantungku berkejaran?
bahwa senyummu membuatku meleleh?
bahwa suaramu selalu ingin aku dengar?
bahwa leluconmu benar-benar membuatku bahagia?
bahwa aku merasa kehilangan saat kau tidak disampingku?
bahwa mataku liar mencari-cari keberadaanmu dari atas sana?
bahwa aku melompat-lompat di tangga, mengikutimu dari belakang dengan perasaan luar biasa senang?
bahwa bukan dia yang bernyanyi di atas sana yang membuat senyumku berkembang tak terkendali?
bahwa aku tak ingin hari itu berakhir?

Apa kamu tahu,
berapa sering aku mencuri pandang kearahmu?
berapa banyak kata yang kutelan tanpa bisa kuucap padamu?
berapa banyak hal yang ingin kusampaikan padamu?
berapa banyak kisah yang ingin kuceritakan padamu?
berapa banyak lagu yang ingin aku nyanyikan hanya untukmu?

Apa kamu tahu,
bahwa kamu pertama dan satu-satunya dihatiku?
Tentu saja kamu tidak tahu, karena aku takkan mampu memberitahumu.

Sides of Me


Sisi pesimisku berkata:
aku akan segera terdiskualifikasi,
terbuang dari daftarnya,
terhapus dari memorinya,
semudah menekan Ctrl+Z,
semudah menggulung permen karet bekas dengan kertas dan melemparnya ke tong sampah.

Sisi jujur dalam diriku meratap:
aku tak bisa tanpanya,
dia urutan pertama dan satu-satunya,
dia tak terganti,
tidak setelah semua mimpi yang kubangun tinggi,
tidak setelah semua rasa yang terlanjur hinggap dan mencengkram erat hati.

Sisi pesimisku menimpali:
aku tak pantas,
aku nyata dan dia mimpi indah,
bersama denganku sama saja dengan memaksa dia menyiksa diri.

Sisi jujur diriku menangis dan menjerit:
aku masih ingin bertahan,
berusaha agar pantas,
tunggulah beberapa saat lagi,
aku butuh waktu untuk menyesuaikan segala kesempurnaannya.
Aku ingin dia menunggu selama yang ia bisa,
hingga tak sanggup lagi dia tatapkan mata kearahku,
hingga muak dia disampingku.

Aku lah si pesimis.
Aku lah si egois.

Lalu kemana sisi optimisku?
Apakah kau tak ingin berkata-kata?
Mungkin seluruh sisi dalam diriku akan bungkam jika kau angkat bicara.
Oh tentu saja kau diam, kau memang tak pernah ada.

Tuesday, April 28, 2009

Malu Bertanya; Pipis di Celana (based on true story)

Jumat, 21 des 2007

Perjalanan ciamis-bandung memang menyenangkan. Bukit-bukit, sawah, sungai, jembatan, juga jamban. Oh, indah pemandangan. Yap, selalu menyenangkan kecuali hari ini. Dua setengah jam nisa duduk di kursi sebuah elf sambil menahan pipis. Oh tidak oh iyah, apa yang harus nisa lakukan?

Perjalanan sampai rumah tercinta yang letaknya di cimahi selatan itu mungkin masih memakan waktu 2 sampai 3 jam lagi. Dan elep jahanam ini tidak akan berhenti lama, kecuali abang sopirnya ingin berhajat (baca: ee’). Poor me, abang sopir tidak pernah mengeluarkan gejala-gejala akan berhajat, itu artinya tak akan ada kesempatan bagi nisa untuk turun dan pipis. Nisa yang diberkahi otak cerdas ini pun segera berpikir keras dan muncul-lah ide brilliant untuk mendoakan abang sopir supaya lekas ee’. Nyahahahahaha, aku memang pintar. Akan tetapi, sebelum sempat menyelesaikan doa, otak cerdas ini berpikir kembali, “kalaupun abang sopir ingin ee’ di tengah perjalanan, pastilah beliau akan berhenti dimana saja, asalkan tempat itu bisa di-ee’-i, mungkin saja di sawah, atau di empang orang. Kalau abang sopir itu berhenti di pesawahan, nisa harus pipis dimana? Haruskah nisa yang cantik ini pipis di sawah tempat abang sopir yang sedang berhajat itu berada?” Oh tidak oh iyah, nisa berhenti membayangkan, dan berhenti juga berdoa yang tidak-tidak.

Perjalanan masi jauh, perasaan ingin pipis tak juga hilang. Pingin tidur, nggak bisa. Pingin cepet sampe, nggak mungkin. Pingin cepet kaya, amiiin.

Mobil elep ini tiba-tiba berhenti, ya angpun, dosa apa aku selama di bumi sampai harus ketemu macet disaat seperti ini? Nisa mulai menyiapkan mental untuk menanggung malu kalau saja pipis di celana sudah menjadi garis takdir hidupku. Penderitaan tak sampai disana, ditengah macet ini hujan pun turun. Sedap. Keadaan jadi semakin dingin. Jadi inget kata pak biologi, semakin rendah suhu lingkungan, semakin banyak pipis terbentuk. Ingiiin sekali rasanya, membejek-bejek guru biologi yang tidak bersalah itu.

Akhirnya nisa dan mobil elep ini sampai di leuwi panjang, sudah semakin dekat dengan tujuan, pipis ini pun sudah semakin tak bisa ditahan. Otak cerdas nisa kembali bekerja dengan baik, dan terpikirkanlah cara yang sangat bijak: menangis. Mungkin saja menangis dan mengeluarkan air mata akan dapat mengurangi kuota pipis. Nisa pun mulai memikirkan hal-hal sedih, dan nisa pun bener-bener nangis. Luar biasa.

Tapi, oh tidak oh iyah, perasaan ingin pipis ini sama sekali tidak terpengaruh. Nisa pun tersadar bahwa saluran air mata dan saluran pipis begitu jauh jaraknya. Nisa berhenti menangis, tapi oh, bapak-bapak yang duduk di depan nisa merokok dengan biadapnya. Si cantik nisa tidak tahan dengan asap rokok dan harus batuk-batuk agar tenggorokan tidak gatal. Hwaaaaaa…, nisa bingung memilih antara tenggorokan gatel atau pipis dicelana. Nisa pun menghadap ke jendela dan bernapas dari sana. Hhh, nisa bisa bernapas lega (ternyata gerakan refleksku lebih cerdas daripada otak yang selama ini aku promosikan).

Setelah beberapa jam hidup dalam derita akhirnya SAMPAI JUGA! Nisa pun turun dan melihat sekeliling, oh tidak, ternyata ini bukan tempat yang biasa aku turuni. Kami salah tempat turun. Bagus, pipis dicelana bukan lagi impian. Haruskah nisa pipis sekarang, tapi, ah masa ah iya gengsi dong.

Tapi saat ini, Nisa nggak peduli kita turun dimana, yang penting pipis. Nisa pun mulai mencari tempat yang bisa ditumpangi pipis. Tempat yang terdekat adalah bengkel. Mamah mulai bertanya, “bisa numpang pipis?”

“Di situ, Bu,” Abang bengkel menjawab sambil menunjuk sebuah kotak kecil.

Yap, kotak kecil terbuat dari triplek setinggi dada yang diletakkan persis di depan mereka. Oh tidak, haruskah aku pipis disana. Tapi nisa yakin bahwa hanya gorilla jantan yang sanggup pipis disana, di sebuah kotak dimana ada dua abang bengkel didepannya. Nisa pun langsung kabur, bukan kabur sebenarnya, tapi jalan ngegang dengan cepat. Ya, nisa udah nggak bisa jalan selayaknya manusia. Nisa lalu menemukan sebuah wartel yang ada warungnya. Nisa pun masuk dan mencari pemiliknya, lalu bertanya, “a’, bisa numpang ke belakang?”

“Oh disana, tapi cuma bisa buat buang air kecil.”

“Iyah,” nisa menjawab. Sial, emang muka nisa keliatan lagi tahan ee’ ya?

Nisa pun segera ke sana dan pipis. Hhh, senangnya. Percaya atau tidak pipisnya orang yang sudah menahan diri selama 5 jam bisa mencapai 30 hitungan loh. Luar biasa.

Nyaaaaaaaaa, begitulah pengalaman pahitku yang tidak akan terlupakan. Karena itulah, teman-temanku sebangsa dan setanah air, jangan pernah malu bertanya untuk menumpang pipis, atau meminta apapun, karena malu bertanya: pipis dicelana. Nisa yang selama ini malas bertanya pada orang asing saja jadi pintar bertanya, aku sebut ini pee power. Semoga cerita ini bisa menjadi teladan. (apanya?). Dadah. Sampai jumpa minggu depan.

Wednesday, June 30, 2010

I'm Super


Menyukai orang secara diam diam itu dongo.
Saya termasuk orang yang dongo.
Menyukai orang-yang-menyukai-orang-lain secara diam diam itu super dongo.
Maka saya termasuk kedalam golongan super.
YEAH! I'M SUPER!

gambar: http://ashk4nn.files.wordpress.com/2009/09/superman.jpg

Tuesday, June 29, 2010

Sweets, Caramel Chocolates, and a Wooden Swing


Seperti anak kecil yang menyesal telah memberi tahu dokter gigi bahwa ia memiliki banyak permen dan coklat karamel di saku kiri bajunya. Ya, itu aku, menyesal karena telah memberi tahu dan diberi tahu. Itu aku, yang lebih suka duduk di ayunan kayu yang nyaman, melanjutkan mengunyah permen yang manis.

Bodoh memang, menolak untuk percaya hal-hal yang tak ingin aku percaya. Tapi, bolehkah aku meneruskan mengunyah permen dan coklat karamel? Sampai tak ada lagi permen yang tersisa. Sampai ayunan kayu yang retak benar-benar rusak.

ditulis tanggal: 26 Juni 2010

Tuesday, June 8, 2010

A Loser.. am I?

Memang bukan soal kalah atau menang, tapi, jika dia, aku kalah....
"So, are you a loser?"
"Yes," I whispered.

Sunday, May 23, 2010

The Story of Two Chess Pawns


Aku, kamu, seperti dua pion catur yang berlawanan warna, di jalur yang sama.
Aku, kamu, kita adalah pion prajurit yang berseberangan, namun tepat berhadapan.
Begitukah? Begitukah aku dan kamu? Dua pion prajurit yang hanya dibedakan oleh warna? Ya, jika memang hanya itu, aku tak akan menyangkalnya.

Aku, kamu, pion prajurit yang saling bergerak maju.
Aku, kamu, kita sudah saling bertemu, sudah berhadapan, sudah berdekatan, tapi aku masih di kotakku, kamu masih di kotakmu.
Begitukah? Begitukah aku dan kamu? Pion prajurit di jalur yang sama? Yang hanya bisa saling bertemu? Aku tak bisa ke kotakmu, kamu tak bisa ke kotakku.
Begitukah? Begitukah aku dan kamu? Pion prajurit yang memang tak bisa bergerak maju lagi ketika berhadapan. Tak bisa saling menjemput, karena justru harus berjalan miring untuk bisa masuk ke kotak pion lain.

Aku tak mau begitu, aku bisa gila jika mengetahui kau dijemput oleh pion lain dari kaumku, sementara aku hanya bisa melihat dan menunggu. Aku terlalu menyukaimu. Aku menyukaimu walau kau tidak. Maka aku harap kita bukanlah pion prajurit itu. Aku butuh perumpamaan lain.

Bagaimana jika kita adalah pion menteri dengan warna berbeda? Kita akan tetap bersifat sama dan dapat berjalan dengan cara apapun yang kita mau, lalu saling menemukan. Yang satu bisa menjemput yang lainnya dan menaklukkan sang pemilik kerajaan. Bagaimana? Apa kau suka dengan perumpamaan yang baru? Aku benar-benar menyukainya!
Ya, semoga aku dan kamu berakhir begitu. Amin.

Saturday, May 15, 2010

Hey Boy, Did You Know?

Apa kamu tahu,
betapa aku tak tenang sepanjang hari menunggu saat itu?
betapa senangnya aku duduk di sampingmu?
betapa aku bersyukur dengan titik butaku yang proporsional?
betapa aku ingin menawarimu minum setelah kamu selesai makan?
betapa aku menyesal karena dia lebih dulu menawarimu?
betapa aku senang "dijemput" olehmu?
betapa aku ingin memegang kemejamu diantara orang-orang itu, takut berpisah darimu?

Apa kamu tahu,
bahwa tatapan matamu mampu membuat detak jantungku berkejaran?
bahwa senyummu membuatku meleleh?
bahwa suaramu selalu ingin aku dengar?
bahwa leluconmu benar-benar membuatku bahagia?
bahwa aku merasa kehilangan saat kau tidak disampingku?
bahwa mataku liar mencari-cari keberadaanmu dari atas sana?
bahwa aku melompat-lompat di tangga, mengikutimu dari belakang dengan perasaan luar biasa senang?
bahwa bukan dia yang bernyanyi di atas sana yang membuat senyumku berkembang tak terkendali?
bahwa aku tak ingin hari itu berakhir?

Apa kamu tahu,
berapa sering aku mencuri pandang kearahmu?
berapa banyak kata yang kutelan tanpa bisa kuucap padamu?
berapa banyak hal yang ingin kusampaikan padamu?
berapa banyak kisah yang ingin kuceritakan padamu?
berapa banyak lagu yang ingin aku nyanyikan hanya untukmu?

Apa kamu tahu,
bahwa kamu pertama dan satu-satunya dihatiku?
Tentu saja kamu tidak tahu, karena aku takkan mampu memberitahumu.

Sides of Me


Sisi pesimisku berkata:
aku akan segera terdiskualifikasi,
terbuang dari daftarnya,
terhapus dari memorinya,
semudah menekan Ctrl+Z,
semudah menggulung permen karet bekas dengan kertas dan melemparnya ke tong sampah.

Sisi jujur dalam diriku meratap:
aku tak bisa tanpanya,
dia urutan pertama dan satu-satunya,
dia tak terganti,
tidak setelah semua mimpi yang kubangun tinggi,
tidak setelah semua rasa yang terlanjur hinggap dan mencengkram erat hati.

Sisi pesimisku menimpali:
aku tak pantas,
aku nyata dan dia mimpi indah,
bersama denganku sama saja dengan memaksa dia menyiksa diri.

Sisi jujur diriku menangis dan menjerit:
aku masih ingin bertahan,
berusaha agar pantas,
tunggulah beberapa saat lagi,
aku butuh waktu untuk menyesuaikan segala kesempurnaannya.
Aku ingin dia menunggu selama yang ia bisa,
hingga tak sanggup lagi dia tatapkan mata kearahku,
hingga muak dia disampingku.

Aku lah si pesimis.
Aku lah si egois.

Lalu kemana sisi optimisku?
Apakah kau tak ingin berkata-kata?
Mungkin seluruh sisi dalam diriku akan bungkam jika kau angkat bicara.
Oh tentu saja kau diam, kau memang tak pernah ada.

Tuesday, April 28, 2009

Malu Bertanya; Pipis di Celana (based on true story)

Jumat, 21 des 2007

Perjalanan ciamis-bandung memang menyenangkan. Bukit-bukit, sawah, sungai, jembatan, juga jamban. Oh, indah pemandangan. Yap, selalu menyenangkan kecuali hari ini. Dua setengah jam nisa duduk di kursi sebuah elf sambil menahan pipis. Oh tidak oh iyah, apa yang harus nisa lakukan?

Perjalanan sampai rumah tercinta yang letaknya di cimahi selatan itu mungkin masih memakan waktu 2 sampai 3 jam lagi. Dan elep jahanam ini tidak akan berhenti lama, kecuali abang sopirnya ingin berhajat (baca: ee’). Poor me, abang sopir tidak pernah mengeluarkan gejala-gejala akan berhajat, itu artinya tak akan ada kesempatan bagi nisa untuk turun dan pipis. Nisa yang diberkahi otak cerdas ini pun segera berpikir keras dan muncul-lah ide brilliant untuk mendoakan abang sopir supaya lekas ee’. Nyahahahahaha, aku memang pintar. Akan tetapi, sebelum sempat menyelesaikan doa, otak cerdas ini berpikir kembali, “kalaupun abang sopir ingin ee’ di tengah perjalanan, pastilah beliau akan berhenti dimana saja, asalkan tempat itu bisa di-ee’-i, mungkin saja di sawah, atau di empang orang. Kalau abang sopir itu berhenti di pesawahan, nisa harus pipis dimana? Haruskah nisa yang cantik ini pipis di sawah tempat abang sopir yang sedang berhajat itu berada?” Oh tidak oh iyah, nisa berhenti membayangkan, dan berhenti juga berdoa yang tidak-tidak.

Perjalanan masi jauh, perasaan ingin pipis tak juga hilang. Pingin tidur, nggak bisa. Pingin cepet sampe, nggak mungkin. Pingin cepet kaya, amiiin.

Mobil elep ini tiba-tiba berhenti, ya angpun, dosa apa aku selama di bumi sampai harus ketemu macet disaat seperti ini? Nisa mulai menyiapkan mental untuk menanggung malu kalau saja pipis di celana sudah menjadi garis takdir hidupku. Penderitaan tak sampai disana, ditengah macet ini hujan pun turun. Sedap. Keadaan jadi semakin dingin. Jadi inget kata pak biologi, semakin rendah suhu lingkungan, semakin banyak pipis terbentuk. Ingiiin sekali rasanya, membejek-bejek guru biologi yang tidak bersalah itu.

Akhirnya nisa dan mobil elep ini sampai di leuwi panjang, sudah semakin dekat dengan tujuan, pipis ini pun sudah semakin tak bisa ditahan. Otak cerdas nisa kembali bekerja dengan baik, dan terpikirkanlah cara yang sangat bijak: menangis. Mungkin saja menangis dan mengeluarkan air mata akan dapat mengurangi kuota pipis. Nisa pun mulai memikirkan hal-hal sedih, dan nisa pun bener-bener nangis. Luar biasa.

Tapi, oh tidak oh iyah, perasaan ingin pipis ini sama sekali tidak terpengaruh. Nisa pun tersadar bahwa saluran air mata dan saluran pipis begitu jauh jaraknya. Nisa berhenti menangis, tapi oh, bapak-bapak yang duduk di depan nisa merokok dengan biadapnya. Si cantik nisa tidak tahan dengan asap rokok dan harus batuk-batuk agar tenggorokan tidak gatal. Hwaaaaaa…, nisa bingung memilih antara tenggorokan gatel atau pipis dicelana. Nisa pun menghadap ke jendela dan bernapas dari sana. Hhh, nisa bisa bernapas lega (ternyata gerakan refleksku lebih cerdas daripada otak yang selama ini aku promosikan).

Setelah beberapa jam hidup dalam derita akhirnya SAMPAI JUGA! Nisa pun turun dan melihat sekeliling, oh tidak, ternyata ini bukan tempat yang biasa aku turuni. Kami salah tempat turun. Bagus, pipis dicelana bukan lagi impian. Haruskah nisa pipis sekarang, tapi, ah masa ah iya gengsi dong.

Tapi saat ini, Nisa nggak peduli kita turun dimana, yang penting pipis. Nisa pun mulai mencari tempat yang bisa ditumpangi pipis. Tempat yang terdekat adalah bengkel. Mamah mulai bertanya, “bisa numpang pipis?”

“Di situ, Bu,” Abang bengkel menjawab sambil menunjuk sebuah kotak kecil.

Yap, kotak kecil terbuat dari triplek setinggi dada yang diletakkan persis di depan mereka. Oh tidak, haruskah aku pipis disana. Tapi nisa yakin bahwa hanya gorilla jantan yang sanggup pipis disana, di sebuah kotak dimana ada dua abang bengkel didepannya. Nisa pun langsung kabur, bukan kabur sebenarnya, tapi jalan ngegang dengan cepat. Ya, nisa udah nggak bisa jalan selayaknya manusia. Nisa lalu menemukan sebuah wartel yang ada warungnya. Nisa pun masuk dan mencari pemiliknya, lalu bertanya, “a’, bisa numpang ke belakang?”

“Oh disana, tapi cuma bisa buat buang air kecil.”

“Iyah,” nisa menjawab. Sial, emang muka nisa keliatan lagi tahan ee’ ya?

Nisa pun segera ke sana dan pipis. Hhh, senangnya. Percaya atau tidak pipisnya orang yang sudah menahan diri selama 5 jam bisa mencapai 30 hitungan loh. Luar biasa.

Nyaaaaaaaaa, begitulah pengalaman pahitku yang tidak akan terlupakan. Karena itulah, teman-temanku sebangsa dan setanah air, jangan pernah malu bertanya untuk menumpang pipis, atau meminta apapun, karena malu bertanya: pipis dicelana. Nisa yang selama ini malas bertanya pada orang asing saja jadi pintar bertanya, aku sebut ini pee power. Semoga cerita ini bisa menjadi teladan. (apanya?). Dadah. Sampai jumpa minggu depan.