The Chronicles of Nyanyaa

THE CHRONICLES OF NYANYAA
Ini Kisah Nyata - Ini Kisah Nyanyaa

Saturday, March 9, 2013

Heart Trip

     Bandung-Surabaya, aku duduk bersandar di kursi nyaman kereta Turangga sambil memandangi tiket yang baru saja dilubangi oleh petugas. Tidak biasanya pergi ke Stasiun Gubeng dengan kereta ini, kereta ber-gerbong eksekutif yang tiketnya dibelikan patungan oleh teman-teman komunitas fotografi yang lebih sering melakukan kegiatan nonton bareng atau makan siang bareng ketimbang hunting bareng atau serius berdiskusi foto. Baik sekali mereka, tertera nilai tiga ratus sembilan puluh lima ribu rupiah di tiket ini, yang jika dikonversi menjadi nilai mata uang anak kosan akan berharga empat puluh kali makan siang di Warung Tegal Bahari cabang mana saja di seluruh kota Bandung. Ah, bersyukur sekali aku punya mereka. Belum lagi tiket Mutiara Timur Malam dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru yang tersimpan rapi di tempat khusus dalam tas travel biru tuaku yang kalau tidak salah ingat, harganya seratus lima puluh lima ribu rupiah. Bukan itu saja, masih ada buku panduan wisata Lombok sebagai bekal ketiga dari mereka. Aih, curhat-curhatan tolol dua minggu yang lalu tentang impian menjelajahi tiga Gili di Lombok ternyata ditanggapi serius oleh mereka dengan tiket kereta dan buku itu, wuw. Dua tiket kereta ini memang yang paling mahal dalam budget perjalan Bandung-Lombok-ku. Harga tiket-tiket selanjutnya, seperti tiket feri dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk Bali, tiket bus Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Padang Bai, dan lainnya sampai tiba di Lombok benar-benar tak ada apa-apanya dibanding harga tiket kereta ini, hahaa, mereka membiayai lebih dari lima puluh persen biaya perjalanan pergi. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat ekspresi mereka kemarin siang, memberikan tiket dalam amplop merah muda sambil mengolok-ngolokku yang akhirnya bisa melaksanakan impian seumur hidup ini.



-------------------------------------------------------------------------



     “Eh, apa nih? Surat cinta?”
     “Ya, anggap aja begitu, buka gih.”
    “Bandung-Gubeng, Gubeng-Banyuwangi Baru,” kataku sambil mengernyit memandang tiket-tiket itu, masih bingung, “mm, ini.. ini.. YA AMPUN, AAAH, INI.. INIII..?” mereka berlima mengangguk cengengesan.
     “Nih,” salah satu dari mereka memberikan buku.
    “YA AMPUN, BENEEER, LOMBOOOK! AAAH!” air mata seketika menggenangi wajahku, satu-persatu mereka aku peluk erat sambil berucap terima kasih, dandanan hebohku hari itu hancur dalam 10 detik saja.
     “Liat dulu tanggalnya Ran, hahaa.”
  “Mm, 23 Juni, yang ini 22 Juni” gumamku sambil melihat tanggal keberangkatan di tiket atas nama Maharani Senja, “GILAK, BESOK MALEM! Ah, gila, kalian hobi ya ngerjain orang.”
     “Hahaa, packing yang bener ya, jangan ketiduran malem ini.”
     “Gilaaa, hari ini kan cape bangeeet, ini sih nyiksaaa...."
     "Oh, jadi nggak mau nih? Ambil lagi nih ya tiketnya?"
     "Eh, jangaaan, nggak kok nggak, ini hadiah paling keren se-Nusantara!"
    “Hahaa, semangat packing-nya ya Raniii!” beberapa dari mereka menepuk-nepuk pundakku untuk menyemangati.
    “Eh, tapi, keluargaku kan lagi banyak yang dateng ke Bandung nih, masa ditinggal, mereka sedih dong nanti ga ada yang bisa ngajak jalan-jalan....”
    “Udah diatuuur, Revi udah minta izin ke orang tua kamu, cuti kantor aja udah diurusin Gita, keren kan kita.”
    “Banget, kalian keren, banget...,” speechless, tak ada kata lagi yang tertutur dari mulutku, hanya bisa mengusap lelehan air mata bercampur maskara yang ternyata tak teruji ke-waterproof-annya.
    “Cieee, yang terharu...,” Revi, yang paling dekat denganku, menggodaiku sambil memberikan tisu wajah yang, duh, mbok ya dari tadi toh ngasih tisu-nya, berbagai cairan wajah ini sudah terlanjur diusap dengan ujung lengan baju nih, huu....
    "Iya nih, kalian bisa banget bikin terharu gini, by the way, kok ngasihnya tiket kereta sih, pesawat kek...."
     "Ish, ni anak emang keterlaluan ya, dikasih hati minta dendeng balado. Kan biar berasa perjalanannya Ran, naik pesawat, yaaah, merem dikit udah nyampe, apa bedanya coba sama naik jin?"
     "Nggak tau sih ya bedanya apa, belum pernah naik jin soalnya, ahahahaa."
     "Ya... gitu deh Ran, kita emang cuma mampu beliin itu sih...."
   "Iya sayangkuuu, ya ampun, ini tuh udah yang paling hebat yang bisa seorang Maharani terima dari teman-temannya yang super perhatian dan baik hati tau," air mata meleleh lagi, "tuh kan aaah, jadi nangis lagiii, huaaa, kaliaaan," aku peluk yang berdiri paling dekat denganku, Gita.
     "Udah, udah Ran, itu maskara kemana-mana, mata kamu liat, sembab gitu, kayak mahasiswa baru nggak kuat begadang."
   "Iya, hee," aku mengusap lagi mataku, lalu memberikan senyum manis untuk kelima sahabat terbaik itu, "maskara kalian juga leleh tuh, eh, by the way, tiket pulangnya mana nih? Kok perginya doang?"
    "Ih, bener-bener anak gak tau diri ya, itu tiketnya udah double combo gitu, masih minta buat pulang, ngeselin ya, yuk ah tinggalin."
   "Huahahahaa...," mereka pun berlalu seiring tawa bahagiaku untuk memburu makanan-makanan yang tersaji di acara kemarin siang.



-------------------------------------------------------------------------


   Ah, harusnya aku sudah tidur dari tadi, perjalanan masih panjang, dan punggung masih terasa pegal akibat acara packing yang tiba-tiba. Tapi, selelah apapun, aku memang belum mampu tertidur, entahlah mengapa, mungkin karena terlalu dingin. Aku menaikkan ritsleting jaketku sambil tersenyum melihat orang di sampingku, hm, selimut dan bantal hijau kereta api terlihat sangat mampu membuatnya tertidur nyenyak. Wajahnya yang terbalut lelah dan nyaman sungguh damai dilihat, ah, tapi ini juga tidak akan bisa membuatku tertidur. Aku mulai mengotak-atik music player di tangan kananku yang berisi tujuh ratusan lagu, memasang neckband earphone di telinga, dan mulai memandang jendela. Jika tidak sedang masuk terowongan kereta atau melewati pesawahan, hutan, dan tebing, akan ada pemandangan kerlap-kerlip lampu yang sangat aku suka. Berpendar lembut di kejauhan, kadang aku dengan sengaja menyipitkan mata supaya cahayanya semakin buram dan menampilkan ilusi depht of field yang menarik.

     Raindrops on roses and whiskers on kittens
     Bright copper kettles and warm woolen mittens
     Brown paper packages tied up with strings
     These are a few of my favorite things

     Deg, lagu ini menerbangkan khayal pada hari itu....

-------------------------------------------------------------------------

    “Tebak, tebak, ini siapa,” sepasang tangan menutupi mataku dari belakang, mm, lebih tepatnya, menutupi wajahku.
     “Ya kamuuu, siapa lagi.”
    “Kamu siapaaa?” suara berat itu menggodaiku, kalau sekarang dipikir-pikir lagi, cara menggodai yang satu ini so last decade banget ya, hahaa.
   “Renooo, siapa lagi yang punya tangan sebesar dan sekasar kamuuu, kayaknya kalo waktu SD orang lain main benteng-bentengan, kamu mah main tepokan tazoz sama banteng ya,” kataku sambil berusaha melepaskan tangan besar itu dari wajahku.
    “AHAHAHAAA! Ini kan tangan seniman, mesti kuat dan kokoh, hahahaa,” tawanya yang serenyah potato-chips-mahal-yang-tetap-saja-sering-kubeli-walaupun-sadar-perbandingan-antara-udara-dan-potato-chips-nya-semakin-timpang-setiap-tahunnya menghiasi halaman Fakultas Seni Rupa dan Desain sore itu.
    “Cih, kecuali pekerjaan senimanmu nanti membutuhkan kemampuan ngaduk semen yang handal, kamu ga butuh-butuh amat tangan kuat dan kokoh tau, mleee,” kataku sambil melepas earphone yang tadi sedang memainkan lagu untuk mengobati bosan.
     “Hahaa, iya deh iya, udah lama nunggu?”
   “Lamaaa bangeeet,” kataku pura-pura kesal sambil memanyunkan bibirku, yang saat itu aku pikir akan terlihat imut, yang nyatanya, setelah baru-baru ini aku praktikkan di depan cermin, terlihat sama mengerikan seperti Ronald Mc Don*ld dipaksa nyengir.
     “Duuuh, ngambek, jangan manyun gitu dong, nanti cantiknya ilang.”
     “Cantiknya aku itu long lasting kayak lipstik mahal tau, ga akan pudar cuma karena manyun doang, huh,” kataku sambil memanyunkan bibir lebih lagi, nggak peduli apa kata Reno, yang belakangan baru aku sadar kalau apa yang dia bilang benar adanya, ahahaa.
    “Iya, percayaaa, maafin dong maafin, nih, nih, chupa ch*ps stoberi,” Reno mengeluarkan lolipop dari saku jaketnya, lolipop yang sudah beberapa tahun ini tak pernah lagi menjadi kesukaanku.
     “Hehee,” cengirku lebar menerima lolipop itu.
   “Lagi dengerin apa tuh?” Reno menunjuk kabel earphone dengan lirikan matanya. 
     “Oh, tadi lagi denger My Favorite Things, lagi suka banget nih sama lagu ini, hihii.”
     “Gimana, gimana, lagunya?”
     “Nih,” aku menyodorkan earphone itu.
   “Nggak, nggak, bukan denger pake ini, coba, coba, gimana, mau denger,” Reno menunjukku.
     “Eh? Aku? Aku yang lalalalalala-nya?”
     “Iya, kamu yang lalalalalala-nya” senyum Reno.
    “Oke, ehm, ehm, raindrops on roses and whiskers on kittens, bright copper kettles and warm woolen mittens, brown paper packages tied up with strings, these are a few of my favorite things.... Udah ya, malu, hehee," dengan suara sangat seadanya, aku menyanyikan lagu itu untuknya.
     "Hehee, bagus, bagus. Eh, tadi terakhirnya gimana kalimatnya?"
     "Terakhirnya? Mm, these are a few of my favorite things...."
   “Ah, and this...,” Reno menepuk pundakku sambil tersenyum, “...is my favorite thing.
 “Ish...,” aku meninju lengannya, kemudian menunduk, untuk menyembunyikan sebulir air mata yang meleleh. Tapi Reno juga menunduk, mencari wajahku.
     “Cieee, ada yang terharuuu....”
   “Ngeseliiin, ahahahaa,” aku mengejarnya yang berlari pelan ke tempat parkir.

-------------------------------------------------------------------------

     Reno, satu nama yang pernah membuatku mengkhayalkan betapa cocoknya jika Rani-Reno tertera dalam sebuah undangan pernikahan warna biru laut, hahaa, absurd. Di mana dia sekarang? Sedang bersama pacarnya yang hitam manis berambut indah itu? Atau pacarnya yang semampai bergingsul manis? Atau kedua pacarnya itu berakhir sama sepertiku, melihatnya sedang berpacaran dengan dua gadis lain dan kemudian dua gadis itu juga melihatnya berpacaran lagi dengan dua gadis lainnya? Lalu dua gadis lainnya itu... ah, kusut. Mengingat ini, bisa membuatku membayangkan betapa sesak dan menyakitkannya udara Bandung untuk dihirup saat itu, saat dimana menjalani hidup sama susah dan tak mungkinnya seperti halnya membalikkan telapak tangan, tangan gorilla. Bukan cuma sakit karena dikhianati saja, tapi juga harus menjalani hidup penuh kegilaan akan penghargaan diri, hidup sambil melawan arus rendah diri yang parah. Aku kurang apa? Kurang apa? Kurang apa? Oh iya, kurang cantik, kurang baik, kurang menyenangkan, kurang dewasa, kurang pintar dan kurang lain-lain. Pontang-panting berusaha menunjukkan pada dunia kalau aku tak layak dikhianati, huuuh, berat. Untungnya, yang tersisa sekarang hanya bayangannya saja, tidak ada lagi sensasi sakit mengingat masa sulit itu.
    Rani, skip that song. Tangan kananku meraih music player dan menekan salah satu tombolnya, mencoba fokus lagi pada pemandangan yang menyejukkan mata, bahkan fokus pada dinginnya udara, dengan harapan bisa membekukan kenangan yang tak layak dikenang. Brrr, malam ini, aku menyadari satu hal, bahwa tubuh ini, sebagaimana layaknya lebih cocok dengan makanan warung tegal, juga lebih cocok dengan gerbong bisnis. Aku pun menarik lagi tudung jaketku, juga membawa kedua tanganku masuk lebih dalam ke lengan jaket, baru kali ini aku mensyukuri panjang tungkai depan yang pendek ini.

     Nobody gonna love me better
     I must stick with you forever
     Nobody gonna take me higher
     I must stick with you

    Lirik ini, hahaa, aku baru sadar music player sedang memainkan lagu ini saat kereta tiba-tiba memasuki terowongan kereta, yang membuat pemandangan indah pendar-pendar lampu di kejauhan hilang seketika. Ingatanku melayang lagi ke sana.

-------------------------------------------------------------------------

     “Ran, enak ya lagunya.”
     “HAH?”
     “LAGUNYA, ENAK,” ucap orang di sebelahku sekali lagi, di tengah riuh suara pentas seni kecil-kecilan sekolahku.
   “Oh, hehee, iya, asik ya, sebenernya baru kemarin sih denger lagu ini di radio, langsung suka,” kataku bertatapan dengan Fariz, lebih mengeluarkan bentuk-bentuk bibir dan gerakan tangan ketimbang suara, percuma soalnya, agak sulit terdengar.
     “Hehee, beli minum yuk,” Fariz menunjuk booth minuman yang berjarak tak jauh dari kami.
    “Nggak ah, tadi udah jajan, duitnya nyisa buat ngangkot aja,” cengirku polos.
   “Aku jajanin deh, yuk,” tangan Fariz menarik tanganku menuju tempat membeli minum. Menit-menit berikutnya, entah mengapa aku begitu fokus dengan cup minuman di hadapanku, kecanggungan dan kegugupan ini membuatku sangat tertarik memperhatikan sedotan putih berulir merah ini ketimbang ngobrol sambil menatap muka Fariz. Ini memang pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan lawan jenis.

-------------------------------------------------------------------------

    “Rani,” Fariz menghampiriku di kantin sekolah sambil mencubit pipiku, lalu duduk di depanku. Oh Rani muda, betapa polosnya dirimu saat itu, kok ya mau-maunya dicubit-cubit pipi begitu aja, pikirku sekarang.
    “Eh, Riz, kenapa?” ujarku sambil memasang senyum paling manis yang bisa aku tampilkan kepadanya.
     “Mm....”
   “Eh, suram gitu, kamu nggak lulus? Aku aja lulus, cum laude,” kataku mencontek kata cum laude dari tayangan wawancara Putri Indonesia, yang kalau diingat lagi sekarang, dan kalau Fariz juga mengingatnya sekarang, pasti akan bisa tertawa kecil seperti yang aku lakukan sekarang.
     “Hahaa, lulus kok, hee.”
     “Nah terus kenapa?”
     “Mm, kamu nerusin kuliahnya tetep di Bandung sini kan ya?"
     "Iya Riz, malah aku udah daftar ujian-ujian masuk gitu, siapa tau SPMB-nya nggak lulus, hee. Kalo kamu?"
     "Mm, orang tua nyuruh aku kuliah di luar.”
     “Luar? Negeri?”
     “Iya,” Fariz mengangguk.
   “Wah, keren dong, dimana?” kataku seadanya, yang sudah tertular kesuraman Fariz, biar bagaimana pun, Fariz sudah punya tempat tersendiri di hati saat itu, setelah satu cup minuman yang dibelikannya di pentas seni, oh Rani muda, kavling hatimu murah sekali.
     “Keren sih, tapi kan jadi nggak bisa ketemu kamu lagi. Di Ostrali.”
   “Oh, ya udah, Fariz liat aja bule-bule Aussie cantik di sana, nggak jauh bedanya kok sama aku,” aku menunduk, berharap getaran dalam suaraku tidak terdengar.
    “Hee, iya, Rani baca ini ya nanti di rumah,” Fariz menyodorkan lipatan kertas hvs, yang aku terima sambil mengangguk, sebuah surat.

-------------------------------------------------------------------------

Maharani Senja,
Aku mau ngaku beberapa hal ke kamu. Pertama, sejak kamu lari-lari nyusul aku yang lupa ambil uang kembalian dari kantin, aku pikir kamu imut banget. Kedua, aku nggak suka lagu Stick With You, kurang laki-laki untuk telingaku, hee. Ketiga, aku bilang lagu itu enak, supaya di PenSi waktu itu bisa ngajak ngobrol kamu yang ditinggal temen-temen kamu ke toilet. Sampai sekarang, aku masih nyesel, kenapa temen-temen kamu nggak kebelet pipis waktu Pas Band atau Nine Ball yang naik panggung, jadi pilihan lagu aku nggak terlalu feminin, hahaa. Keempat, aku suka kamu. Kelima, kayak kata lagu, I must stick with you forever. Keenam, kalau kamu suka aku juga, dan setuju sama lirik lagu itu, kamu tungguin aku pulang ya, soalnya, yang ketujuh, mm, aku suka kamu, hee, banget. Tenang aja, aku nggak akan kuliah sampe tujuh tahun. Aku bakal lulus kuliah 4 tahun dan pulang untuk kamu.
Fariz Rizki Ramdhani

-------------------------------------------------------------------------

     Fariz, sudah lebih dari tujuh tahun dan kamu belum juga menemuiku. Tanpa telepon, tanpa pesan, tanpa email, tanpa testimonial di friendster, tanpa tanda-tanda keberadaan apa pun. Kamu hilang. Satu setengah tahun berlalu, aku menemukan akun facebook-mu dengan status in relationship with perempuan Asia Timur cantik. Dasar (cinta)monyet! Kamu lah cikal bakal istilah PHP di dunia.
    Ah, dingin ini, nyatanya, ingatan tentang Fariz sang cinta monyet saat SMA yang menyebalkan pun tak mampu membuat tubuhku hangat. Dingin ini membuatku menyerah, selimut hijau kereta api yang diniatkan untuk aku pakai ketika dingin sudah memuncak akhirnya aku bentangkan juga di tubuhku. Ah, sudah lebih hangat dan nyaman sekarang. Aku lebih menghenyakkan diri lagi di sandaran kursi empuk kereta berwarna biru tua ini.
   Tapi, duh, perutku terasa kembung sekarang. Duhai masuk angin, mengapa kau harus datang di acara perjalanan impian ini sih? Untungnya, walaupun dengan packing yang terburu-buru, aku sempat menyiapkan obat masuk angin untuk dibawa. Aku mulai mencari obat masuk angin kemasan sachet di tas kecilku, tidak ada. Oh iya, ada di kantong depan tas yang disimpan di kabin. Susah payah aku berdiri dan berusaha mengambil obat masuk angin itu, ah, dapat juga akhirnya.
    “Dari tadi belum tidur?” sambil memeriksa jam, orang di sebelahku berkata.
  “Eh, kebangun ya? Maaaaf. Hee, iya, belum bisa tidur,” kataku sambil membuka lalu menyeruput obat masuk angin itu.
     “Itu kenapa? Masuk angin?” Dia melihat ke arah obat masuk anginku.
     “Iya, hee.”
  “Kedinginan ya?” senyum hangat menghiasi wajahnya, senyum yang membuat wajahnya semakin tampan.
    “Iya,” aku mengangguk.
     “Kamu kayaknya mesti diangetin deh.”
     "Di...angetin...?"
     "Iya," dibukanya kaca mata coklat tua yang memperlihatkan mata tajamnya, lalu wajah itu mendekat ke wajahku yang masih menyeruput obat masuk angin, memegang kedua pundakku, lalu mengucapkan satu-persatu kata dengan tegas, “Rani-aku-cinta-kamu.”   
   Deg, rangkaian kata itu, suara itu, dan tatapan mata itu, seketika membuatku meleleh dan tak bisa berkata banyak.
     "Udah jadi anget kan?"
     "Mm...."
     "Ah..., terpesona ya?”
  “Ng..., nggak kok, nggak,” tangan kananku mengambil kacamata dari tangannya, “kamu..., kalo ngomongnya deket-deket begitu..., matanya jadi juling...,” aku sudahi kalimat sembarangku dengan memasangkan kembali kacamata coklat tua itu di wajahnya.
     “Hahaa, juling juga tetep ganteng kan."
     "Mm, biasa aja tuh," yap, bohong.
    "Hehee. Oh iya, maaf ya tadi langsung ketiduran gitu aja, makasih juga udah diselimutin,” katanya sambil tersenyum, ya, senyum itu lagi, menyebalkan, kenapa masih saja jantung ini berdebar keras tiap kali senyum itu merekah.
   “Iya,” kataku sambil membalas senyumnya.
   “Kamu manis ya kalo senyum, hee.”
  “Ish, udah setua ini kamu baru sadar aku manis? Sungguh puluhan tahun dalam kesia-siaan ya hidupmu selama ini.”
     “Hahaa, nggak kok, udah nyadar sejak..., mm....”
     “Sejaaak?”
     “Sejak barusan, hahaa....”
     “Ih, nyebeliiin,” aku tinju-tinju kecil lengannya.
     “Hee, sini manis, sini, tidur senderan sini, biar anget.”
    “Iya.” Aku pun segera bersandar di sana, di tempat untuk tidur yang paling nyaman sejagat raya, di lengan pria yang kemarin pagi mengucapkan ijab qabul dengan lantang bagiku.
     “I love you, honey,” bisiknya.
   “I love you too,” kalimatku dan debaran jantung yang bisa ia rasakan ini sepertinya sudah sangat cukup untuk membuatnya yakin, bahwa aku pun mencintainya, sepenuh hati.

-------------------------------------------------------------------------

   Subuh keesokan harinya, aku terbangun, terdiam beberapa saat, lalu menulis di jurnal pribadiku, “heart trip, hati ini, mungkin sudah berkelana dan singgah ke banyak dermaga yang salah, tapi, akan tiba saat di mana hati ini berhenti, menemukan kembaran rasa, lalu melaju lagi bersama-sama.”

TAMAT

Wednesday, February 6, 2013

Terimakasih Papah


Sore ini saya baru menyelesaikan nonton Kita Vs Korupsi, 4 film pendek yang dibuat sebagai penyuluhan korupsi bagi masyarakat. Menurut saya, film yang paling ngena itu justru film yang paling sederhana diantara keempatnya, film ke-4, soalnya dekat dengan keseharian, judulnya, "Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa." Film ini bercerita tentang korupsi kecil-kecilan yang dilakukan oleh anak SMA. Waktu masih sekolah dulu, saya juga sering mendengar istilahnya; nyoceng. Buat yang belum tau, nyoceng itu adalah perbuatan me-markup anggaran yang pelakunya anak sekolahan, mau itu buku pelajaran, uang les, sumbangan sekolah, seragam, apapun. Misalnya gini nih, buku Biologi itu harga sebenarnya Rp 38.000, tapi, supaya bisa nraktir pacar jajan mie ayam, pelaku nyoceng akan meminta uang Rp 50.000 kepada orangtuanya, dan berkata sebesar itulah harga buku sebenarnya. Yah, nyoceng, dari perbuatan sekecil inilah korupsi yang lebih besar skalanya bisa jadi bermula, ini inti ceritanya. Aaah, untung saja saya tidak pernah jadi bagian di dalamnya, ahiy, saya memang anak yang baik :3 Cantik juga sih, tapi, sudahlah, kita tidak sedang membicarakan kecantikan saya di sini. 

Selain film tadi, ada lagi yang ngena di hati saya, yaitu film ke-3, judulnya; "Selamat Siang, Risa!" Tentang bagaimana Risa menolak untuk diberi suap, sebagaimana ayahnya dulu yang bekerja sebagai penjaga gudang menolak untuk mengalihfungsikan gudang yang ia jaga untuk menimbun beras, walaupun sebenarnya, uang yang ayah Risa bisa dapat akan sangat berharga untuk pengobatan adik Risa yang sedang sakit saat itu. Ayah saya bukanlah seorang penjaga gudang, ibu saya pun bukanlah penjahit, dan saya tidak pernah sakit-sakitan saat tak ada beras yang bisa dimasak di dapur, tapi film ini mengingatkan saya pada ayah saya, pada papah. Baru-baru ini mamah cerita tentang papah, tentang bagaimana beliau bekerja, tentang kesempatan-kesempatan yang beliau lewatkan supaya tetap lurus dijalannya, tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa keluarga kita bisa lebih 'sejahtera' daripada sekarang jika papah tak teguh pendirian, tentang mengapa saat itu jabatan papah saya segitu-segitu saja. Hm... :) Terimakasih pah, untuk bersihnya rizki yang kau upayakan untuk kami, untuk segala lelah yang kau lalui tanpa memperlihatkan susah, untuk segala sukar yang kau lalui tanpa gentar. Aku bangga padamu, selalu :') T.T 

Wednesday, January 16, 2013

Tutorial Berkerudung Untuk Pemula

Assalamualaikum, salam sejahtera dan salam hangat-hangat kuku dari saya.
Pada blog post kali ini, saya akan menunjukkan langkah demi langkah pemakaian kerudung 'Neno Warisman' yang saya kenakan untuk profile picture facebook saya baru-baru ini:
yap, yap, yang ini.
Iyaa..., yang itu.
Udah dong ah, jangan diliatin terus gitu :3


Oke, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah:
1. Memakai ciput ninja.
Ciput ninja itu yang kayak gimana?
Itu loh kayak yang saya pake di atas, yang warnanya biru.
Ciput ninjanya yang biasa-biasa aja ya, ga usah yang ada tambahan bulatan di belakang/atas kepala. Soalnya, nanti mirip punuk onta, nah, dari yang saya baca, berjilbab yang mirip punuk onta atau camel-hump-hijab, menurut hadist ga dibolehin :) *belajar sedikit-sedikit, hihii


Oke, lanjut ke langkah kedua.
Eh, apa? Ada yang ga punya ciput ninja?
Mm, beli dulu gih ke Pasar Baru.
Eh, males?
Oke, kamu punya ayah, bapak kos, atau saudara laki-laki? Sip.
Kalau begitu, di tempat tinggal kamu pasti ada ini:
Yap, sarung.
Sarung bisa kita jadikan alternatif cerdas pengganti ciput ninja, seperti yang anak-anak generasi 90-an lakukan saat ninja turtles sedang berjaya, inget kan? Lingkarkan ujung bukaan sarung di atas hidung, ikatkan di belakang kepala. Buka ujung bukaan sarung yang satunya lagi, satu ditarik menuju pucuk kepala, satu lagi ditarik ke bawah, sreeet...
VOILA!
Pinter kan, kan, kan? B-)
Apa? Jelek? Ya iya sih, siapa suruh males ke Pasar Baru :/


Oke, kita lanjutin aja, yang belum punya ciput ninja, nanti nyusul ya....
Nah, yang lain, yang udah pada dipake ciput ninjanya..
Eh, eh, lagi pada ngapain itu?
Aaak, nooo, oh, nooo..
There's no need to put spiral-like-blush on your cheeks like the way Ninja Hattori does, haduuuh, hapus, hapus, ngewa ah..


Lanjut ya, serius nih ah....
Setelah ciput ninja, ada satu lagi yang penting kita punya dalam berkerudung ala-ala Nisa Warisman ini, yaitu:
Shawl bahan kaos.
Ga punya juga? Atuhlah..., jadi kamu punyanya apa? Cinta? Cinta mah ga bisa dikumpulin terus dituker sama bimoli pouch di indomaret terdekat kayak kupon belanja.
Kalo shawl bahan chiffon punya ga?
Ga punya juga?
Sok atuh beli dulu di temen saya ya, di Permata Hijab Store.


Oke, sudah siap dengan step selanjutnya? Sip.
Langkah kedua adalah:
2. Kenakan shawl-nya di kepala.
Kepala? Kepala siapa?
Ya kamu, masa iya Obama.


3. Atur supaya bagian kanan lebih panjang dari bagian kiri.
Atau kalau kamu kidal dan lebih gampang melakukan sebaliknya, lakukanlah sebaliknya.
Atau kalau kamu begitu mencintai keseimbangan dan keadilan, buatlah yang kanan sama dengan yang kiri, lalu, klik-lah tanda silang di pojok kanan atas, selamat tinggal.... Ngeyel sih :/


4. Angkat bagian yang lebih pendek (dalam gambar, yang kiri), lalu selusup-kan bagian yang lebih panjang ke bawahnya.
Pinter...


5. Angkat bagian yang panjang tadi untuk melingkari lagi kepalamu.
Jadi, akan ada dua lapis shawl di atas kepala.
Mau tiga lapis? Boleh...
Mau tujuh lapis soalnya takut masuk angin? Boleh, tiap lapis beda warna ya sekalian, atasnya kasih cream cheese sama almond nougat.


Masuk ke langkah yang paling asik.
6. Rapikan


6. Rapikan


6. Rapikan
Mm, oke, stop, muka sih ya gitu aja, ga usah dirapi-in, nggak ngaruh.


Lanjuuut.
Uuuh, agak susah nih bagian ini. 
Bukan, bukan lagi mites anak-anak kutu.
Itu lagi melakukan langkah selanjutnya:
7. Sematkan jarum pentul di atas kepala.
Tujuannya?
Supaya kerudungnya menempel kokoh di kepala, seperti holcim membangun rumah anda.
Jadi mesti ditusuk gitu jarumnya ke ubun-ubunan?
Ya nggak laaah..., unless you're sundel-bolong-like-creature yang kalo ubun-ubunnya ga ada pakunya bakal bisa terbang nembus tembok, JA-NGAN.
Boleh pake jarum-jarum lain selain jarum pentul? Yang lucu-lucu gitu loh..
Boleh, itu mah terserah aja :) Tapi tips aja ini mah, kalo kamu suka pergi-pergi pake motor, mata jarumnya jangan yang gede-gede, nanti keteken helm, sakit, it surely makes you dizzy, iya, jarum pasak tenda juga jangan.




Maka, selesaaai :D


Eh, eh, iya, tunggu dulu.
Kamu masih bisa lebih mempercantik kerudungmu.
Caranya:
 
8. Pelintirlah sisa shawl yang bagian pendek tadi ke samping telingamu, beri pin kembang-kembang lucu di sana.
Eh tapi saya juga kan ga punya pin kembang-kembang lucunya, ah, ya sudahlah....


Maka,
selesai beneran :D


Kini, kamu yang cantik berkerudung sudah siap berkeliling kota dengan delman istimewa.


Akhir kata, salam cinta semuanya, semoga agak-agak bermanfaat, assalamualaikum :)




Sunday, January 13, 2013

Teteh Sayang Lulu, Selalu


Pernah punya kucing yang begitu menggemaskan? Kucing yang sampai-sampai hampir setiap kamu melihatnya, you’ll whisper unwittingly, “you’re the cutest creature I’ve ever seen.” Pernah punya kucing yang membuat kamu merasa paling istimewa? Kucing yang jutek hampir pada setiap orang, tapi begitu manis kepadamu. Pernah punya kucing yang hampir selalu tau saat-saat berat dalam hidup kamu? Kucing yang seolah bisa merasa kesedihanmu, lalu menemanimu sambil memijit lenganmu. Pernah punya kucing yang sangat terganggu melihat kamu menangis? Kucing yang dengan panik mengeong-ngeong seolah memohon padamu untuk berhenti menangis. Pernah punya kucing yang akan mencarimu kemana pun saat mendengar suara tangis palsumu? Kucing yang berlarian ke tempat kamu berada ketika kamu mengeluarkan suara tangis palsu, seolah-olah kamu adalah anaknya yang harus dia rawat. Pernah punya kucing yang dengan mendengar suara dengkurannya akan membuat kamu merasa sangat nyaman? Kucing yang dengan rela perutnya dijadikan bantal nyaman hanya supaya kamu bisa mendengar suara dengkurnya yang lembut. Pernah punya kucing yang tidak pernah mau menggunakan cakarnya kepadamu? Kucing yang ketika diganggu bagaimana pun olehmu hanya akan menggertak dengan mengayunkan cakarnya kepadamu, lalu memasukkan kukunya tepat sebelum mengenai kulitmu. Pernah punya kucing yang membuatmu merasa penting? Kucing yang menggulung-gulung diri di pakaian kotormu ketika kamu tidak ada di rumah, kucing yang hanya mau disuapi makan olehmu ketika sakit. Pernah punya kucing yang bisa memijit lengan dan kaki? Kucing yang memijit dengan hebat, dengan dua kaki belakangnya, bukan dengan kaki depan, jadi pegal-pegal di lenganmu bisa hilang, dan cara memanggilnya untuk memiijit cukup dengan pura-pura menangis, hee.

Saya punya kucing yang seperti itu, ‘pernah’ punya, namany Lulu, dibeli di sebuah cat breeder sembilan tahun lalu dengan sepenuh usaha dan air mata. Saat itu saya masih SMP, uang jajan masih seadanya, demi mengumpulkan uang untuk membeli kucing yang (bagi saya)keterlaluan mahalnya, saya harus benar-benar berhemat, makan makanan bekal dari rumah, atau berlapar-lapar kalau perlu, demi mengadopsi kucing lucu yang kemudian saya namai Lulu (walaupun akhirnya, saya hanya berhasil menyumbangkan 1/6 dari harga Lulu, hee).

Sembilan tahun lalu, saya pernah menangis malam-malam, agak frustasi saat itu, 2 bulan usaha menabung, hanya menghasilkan uang dua ratus ribu lebih sedikit, harga kucing idaman saya saat itu rata-rata 1,2 juta, aduh, there’s still a long long long way to go through. Malam-malam di sembilan tahun setelah itu, yang saya tangisi adalah kucing yang sama, menyuapinya sambil berkata, “kamu harus sembuh Lulu.” Sekarang, drama-drama air mata untuk mendapatkan dan mempertahankan Lulu sudah berakhir, ya, Lulu sudah pergi selama-lamanya dari hidup saya.

Lulu mulai malas makan seminggu yang lalu, berlanjut terus sampai akhirnya dia pergi siang ini. Sakitnya Lulu kali ini beda, rasanya seperti sudah punya firasat bakal ditinggal selamanya. Salah satunya karena Lulu sempat menghilang dua kali selama sakitnya, mengurung diri di gudang atas yang susah dijangkau manusia, cuma bisa diakses dengan membuka genting atap rumah. Entah kenapa, semua kucing yang pernah saya pelihara selalu menghilang tiba-tiba saat akan pergi selamanya, tidak pernah mau sakit dan meninggal di depan saya, mungkin memang begitu kelakuan kucing peliharaan. Jadi ketika Lulu hilang saat sakit, saya sudah frustasi dan merasa janggal. Susah payah saya buang semua pikiran buruk, karena memang begitu kan, siapapun di dunia tidak ada yang bisa mengira-ngira tentang kematian. Maka setiap hari saya menyemangati (atau mungkin membebani) Lulu dengan berkata, “Lulu, ayo cepet sembuh,” “Lulu, kamu harus sembuh,” “Lulu, ayo dong sembuh, Lulu kan janji ga akan ninggalin teteh sebelum teteh nikah,” “Lulu, sembuh dong, inget ya, Lulu ga boleh ninggalin teteh,” “Luluuu, sembuh, kalo Lulu ga ada, teteh sama siapaaa,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya. Sampai akhirnya, malam kemarin, entah kenapa, saya ungkapkan semua yang menurut saya harus saya sampaikan ke Lulu, hal-hal yang saya ingin Lulu dengar. Bukan lagi kalimat memintanya untuk sehat, tapi kalimat-kalimat terima kasih, maaf, dan sayang. Lulu harus mendengar betapa saya berterima kasih atas keberadaan dan segala yang dia lakukan dalam hidup saya, Lulu harus mendengar betapa saya menyesal atas segala kelalaian saya dalam merawatnya selama sembilan tahun ini, Lulu harus mendengar betapa saya sangat menyayanginya, betapa dia sangat berharga dalam hidup saya. Dan entah kenapa saat itu saya juga berkata, “Lulu, kalau emang Lulu mau pergi, jangan terlalu sakit ya (sakaratul mautnya).” Sambil mendengar semuanya, Lulu sedikit-sedikit mengibaskan ekornya dengan lemah, membuat suara dengkuran pelan yang membuat hati nyaman, hal yang pastinya dilakukan Lulu dengan sisa tenaganya dan susah payah. Saya yang sudah bergelimang air mata lalu meninggalkan Lulu sebentar untuk mengambil tisu. Ketika kembali, Lulu saya dapati sudah hilang. Saya yang mengira Lulu kabur ke gudang atas lagi lalu marah, “Lulu, kamu jahat, makan ga mau, tapi bisa kabur ke atas.” Begitulah, saya merasa ditinggal olehnya. Karena begadang, saya tidur setelah subuh, tidur begitu saja tanpa tahu, Lulu tersayang sebenarnya sedang tidur tepat di bawah saya, di kolong tempat tidur. Entahlah, Lulu semacam tidak mau dilihat bagaimana dia meninggal tapi ingin ada di dekat saya. Kalau saja saya tau sebelumnya kalau Lulu tidur di bawah saya, saya mungkin akan mengangkatnya dan membuatnya tidur di samping saya, dan saya tidak perlu memanggil-manggilnya untuk turun dari gudang sambil memarahinya. Saya terbangun saat masih pagi karena mendengar sesuatu di bawah kasur, setelah memanggil-manggil, “Lulu? Lulu?” dan tidak ada reaksi lagi, saya yang setengah sadar pun tidur lagi, yep, tolol. Terbangun lagi agak siang, karena mendengar nafas tersengal di bawah kasur, langsung benar-benar bangun dan berdiri kali ini. “Lulu? Lulu?” tidak ada reaksi lagi, tapi saya yakin Lulu ada di sana. Langsung saja saya bongkar tempat tidur itu, agak lama, karena kasurnya besar dan tipikal spring bed lama, berat, belum lagi kamar yang sempit oleh barang-barang membuatnya susah untuk bergerak. Setelah lama berkutat dengan kasur, akhirnya saya melihat gumpalan bulu putih abu itu, tergeletak di bawah sana, saya raba flesh pad-nya yang lembut, dingin, Lulu sudah pergi, selama-lamanya. Saya terus terpaku di sana sampai akhirnya kakak laki-laki saya datang, menghampiri, memeluk dan menenangkan saya, membantu saya menerima kepergiannya. Iya, Lulu sudah pergi, apa lagi yang kita bisa lalukan selain menerima.

Selamat jalan Lulu, terima kasih untuk segalanya, teteh sayang Lulu, selalu.

Wednesday, March 14, 2012

Sehari Menjadi Pejuang Negeri

Sabtu, 10 Maret 2012 merupakan Yaumul Mizan bagi saya, hari dimana saya akan ditimbang. Ditimbang amal? Memangnya sudah siap? Oh bukan, bukan dengan timbangan amal, tapi dengan timbangan PMI Unit Kota Bandung untuk kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan darah dan akhirnya diputuskan boleh mendonor darah atau tidak. Menegangkan kah? Ya, bagi saya ini sama menegangkannya seperti ketika akan menjalani operasi caesar demi melahirkan anak. Memang sudah pernah operasi caesar? Belum sih, tapi sama, sama-sama ‘akan’ menegangkan, dan sama-sama belum pernah saya lakukan, hahaa. YAP! Jika lolos segala pemeriksaan, maka hari ini adalah kali pertama saya menjalani donor darah. Mengapa menganggap bahwa donor darah akan menegangkan? Karena sebelum ini saya pernah juga menjadi ‘calon’ pendonor darah, dan entah mengapa saya begitu tegang saat itu, antara takut melihat darah, atau jangan-jangan memang berhati ciut (tak apalah berhati ciut, yang penting wajahnya imut :3). Walaupun akhirnya tidak jadi mendonorkan darah karena tekanan darah tidak mencapai standard (tak apalah tekanan darah rendah, yang penting tinggi badan diatas rata-rata :3), saya jadi menyadari satu hal, bahwa saya memang takut melihat darah yang keluar dari anggota tubuh. Membayangkannya saja membuat ngilu, mungkin sama seperti orang-orang yang tidak tahan mendengar suara alumunium yang bergesekan, begitu juga saya ketika melihat darah yang keluar dari anggota tubuh, ngilu, geli-geli mematikan, hiii. Lalu, mengapa hari ini ingin mencoba donor darah lagi? Mm, entahlah, ada dorongan yang besar untuk melakukan donor darah, semacam mengambil kesempatan untuk menjadi pahlawan bangsa dengan cara yang mudah, tanpa perlu meruncingkan bambu dan menusuk-nusukkannya kepada penjajah, tanpa perlu menjahit pakaian dalam merah membara dan mengenakannya di luar celana biru ketat, tanpa perlu menumbuhkan kumis-jambang lalu terbang-terbang dengan selendang, ya, mudah, dan hmmm, berhadiah! Slllrrrp! Menurut saya—selagi mampu dan berkesempatan—justru yang tidak mau menjadi pahlawan dengan mudah dan berhadiah itu yang aneh. Iya kan?

Langsung saja, saya yang cantik jelita ini benar-benar sudah siap menjadi Gatot Kaca wanita hari ini (tanpa kumis, jambang, dan rambut keriting di betis tentu saja). Dengan gerakan pasti dan dandanan trendy, saya starter motor hitam saya untuk dikendarai menuju Aston Primera Pasteur Hotel, tempat berlangsungnya acara donor darah (oke, ternyata tanpa terbang dengan selendang juga). Karena hanya sarapan dengan teh manis dan beberapa camilan, juga tak sempat makan siang, maka saya membawa bekal berupa onde-onde isi kacang hijau untuk dimakan sambil menyetir motor. Dan ketahuilah, menyetir motor sambil makan onde-onde kacang hijau besar bukanlah perkara mudah, hanya pengendara motor mahir sekelas saya saja yang boleh melakukannya, kamu yang membaca? Ah, sebaiknya jangan.... Sambil sibuk mengunyah dan menjaga keseimbangan motor, saya menyadari satu hal, bahwa jarum yang menunjukkan isi bahan bakar sudah berada di garis merah. Khawatir bahan bakar tidak cukup sampai tujuan sambil membayangkan saya yang seksi mendorong-dorong motor ke Pasteur dengan bersimbah keringat yang mana hanya akan membuat orang-orang semakin terpikat membuat saya membelokkan motor ke SPBU terdekat. Masuklah saya ke jalur pengantri Pertamax, yang lalu disambut hangat dengan peringatan seorang petugas yang lantang berkata, “Premium antrinya sebelah sini!” Sambutan yang saaangat hangat, kelewat hangat sampai-sampai diterima otak saya sebagai perilaku sinis dan melecehkan. Huh, saya mau beli Pertamax Mas, gini-gini saya termasuk yang mendukung program pemerintah untuk tidak menerima subsidi jika mampu, yang sebenarnya adalah doa supaya saya tak pernah ada dalam golongan tidak mampu. Yang mana juga merupakan pengejawantahan ego yang dipopulerkan Sule OVJ: biar miskin yang penting sombong. Yap, sebenarnya setiap saya ke SPBU ini dan petugasnya mendapati saya yang terlihat kere ini antri di jalur Pertamax, mereka selalu bertanya, “Pertamax?” tapi selalu dengan lembut dan senyum, dan sepertinya memang seperti itulah prosedurnya. Tapi kali ini? Hiiih.... Maka saya pun dengan tegas menjawab, “Pertamax,” yang disambut dengan “Oh,” oleh petugas tadi. Demi menjunjung tinggi prinsip ‘biar miskin yang penting sombong,’ saya yang biasanya hanya membeli Pertamax seharga sepuluh ribu jadi tak segan-segan mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu bergambar pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata yang punya tahi lalat di alis kiri (perhatian ya saya? Hehee, kalo nggak percaya cek aja sendiri). Bahan bakar sudah terisi, Otto Iskandar Dinata sudah berpindah tangan, mari berangkaaat. Ah tunggu, sebelum berangkat, mari periksa dandanan, apakah kerudung masih rapi? Apakah wajah masih.... Oh tidak, siapakah gerangan wanita yang terlihat di kaca spion ini? Kumuh sekali, sekitar mulutnya... sekitar mulutnya... celemongan oleh isi onde-onde yang dimakan saat menyetir tadi, ngaaaaa, pantes aja mas-mas SPBU ini tidak menyangka bahwa saya hendak membeli bahan bakar yang sedikit lebih mahal. Diam-diam saya meminta maaf pada mas-mas SPBU itu dalam hati, “maaf ya mas, saya sempat kesal sekali padamu. Dimaafin kan mas? Iya kan? Nah, kembaliin dong uang pak Otto saya....” Eaaaaa.... (Oh iya, tulisan ini saya buat tidak dengan maksud membeda-bedakan penampilan pembeli Pertamax dan bukan pembeli Pertamax ya, maaf jika ternyata ada yang tersinggung :) )

Sampai! Sampai mana? Sampai Aston Primera Pasteur Hotel tentu saja. Wuih, jantung saya berdetak semakin kencang, tegang jenderal! Saya balik lagi aja ya, Jen! Kayaknya saya nggak kuat deh Jen! Saya kan baru makan sedikit! Duh Jen, nanti kalo saya lemes gimana Jen? Tapi Pak Jejen di dalam hati kecil saya menjawab, “jangan Nisa, kamu sudah setengah jalan menjadi pejuang, mari teruskan.” Begitulah, pergolakan antara si pengecut dan Pak Jejen dalam hati saya dimenangkan oleh Pak Jejen, mungkin Jejen Jumawa kepanjangannya, atau juga Jejen Jeniper Jaelaini, ah tak penting lah. Jangan coba-coba mengulur waktu lagi dengan memikirkan nama panjang pak Jejen Nisa, ayo masuki ballroom hotel, segera. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, bunyi langkah kaki saya, apakah saya mengenakan sepatu kuda? Oh tidak, hari ini saya mengenakan wedges tali warna coklat nan seksi, supaya keliatan pantes aja sih buat masuk hotel, hahaa, tibalah saya di meja daftar ulang. Selesai mengkonfirmasi kedatangan, saya diberikan ini:


Apa sajakah yang diberikan? Sebuah kertas dari PMI untuk diisi, yang berhubungan dengan riwayat calon pendonor, sebuah angket dari Kompas—selaku penggagas acara—yang kemudian bisa ditukar dengan sticker imut warna biru yang bertuliskan, 'Kompas,' ya iyalah, apalagi coba, masa iya sticker bertuliskan, ‘Hari gini masih oper gigi?’ Lalu ada voucher berlangganan Kompas sebesar lima puluh ribu rupiah, dan terakhir, koran. Mengapa koran? Karena koran bisa dibaca-baca saat bosan menunggu antrian donor, dan bagi saya, bisa untuk dikunyah-kunyah saat tak kuat menahan tegang. Masuklah saya ke tempat donor, sudah lumayan sepi rupanya, saya memang datang di siang hari saat itu, langsung saja antri untuk diperiksa. Timbangan, tentu saja lolos. Akhir-akhir ini saya bulat, bergelambir, dan dapat menggelinding di jalanan beraspal. Lalu tes golongan darah dan Hb, untuk itu, ujung jari saya ditusuk manja, cus, lalu darah yang keluar diambil dengan pipa kecil. “Golongan darahnya B,” itu kata petugasnya, yang lalu saya jawab manis, “iya,” yang mana sebenarnya saya jawab dalam hati dengan, “tadi juga kan udah saya bilang golongan darah saya B, nggak percaya, huh.” Setelah itu, sisa darah dalam pipa beliau kepret-kan ke dalam gelas ukur berisi larutan warna biru. “Hb-nya bagus, silakan diperiksa tekanan darah, “entah mengapa, hati saya mencelos saat pertama mencerna kalimat tadi, itu artinya saya mungkin bisa mendonor darah, itu artinya lengan saya akan ditusuk dan dikeluarkan darahnya. Sebelum otak saya mulai memainkan adegan keji seorang wanita yang ditusuk-tusuk bambu lalu memuncrat-muncratkan darah, saya langsung berjalan saja ke meja yang satunya lagi, meja pemeriksaan tekanan darah. Setelah memeriksakan darah saya, ibu pemeriksa tensi darah ini tak berkata apa-apa kecuali menuliskan data-data saya ke dalam kartu donor berwarna biru (untuk golongan darah B berwarna biru), diberi tanggal pada baris pertama, dan, tok, diberi stempel. Begini bentuk kartu itu:

kartu donor

OMG! Artinya saya lolos pemeriksaan tekanan darah juga. Dug dug dug, seketika jantung saya berkejaran, apakah berkejaran di taman berumput dengan seorang pemuda yang pandai bernyanyi dan menari? Bukan, aduuuh, ini sungguh menegangkan, Jen! Lapor Jen, saya tegaaang! Jen? Pak Jejen? Kemana kamu saat dibutuhkan? Pak Jejen yang bijak dalam hati saya saja sudah tak mampu berkata-kata, namun sayang, pintu keluar ruangan donor hanya satu dan dijaga oleh petugas, huwoooh. Tak ada pilihan lain, dengan ucapan bismillah, saya berbaring di kasur PMI, tidak empuk, tak apalah, bukankah seorang terpidana tak membutuhkan tali emas saat digantung mati? Tapi heeei, kamu bukan terpidana Nisa, kamu pejuangnya, kamu pahlawannya, dan ini medan perangmu. Cihuy! Semangatku kembali terpompa. Saya pejuang di sini!

Berbaringlah saya di kasur itu, sambil mengingat Tuhan dan mengingat mati. Saya pun jadi teringat dia yang tersayang, maka, sebelum akhirnya saya ditusuk-sedot-kuras (jadi semacam tagline penyedot WC ya? Hahaa...), saya pun menyempatkan diri menulis pesan singkat kepadanya, begini kira-kira: 

Sayang, aku kan pergi tuk berjuang. 
Jika terjadi apa-apa, 
tolong jaga cinta dan anak-anak kita, 
sekolahkan hingga S2. 
Satu lagi yang kupinta, 
jangan pernah berpikir untuk mencari pengganti, 
atau aku akan datang lagi dalam bentuk setan seksi. 

Haru saat itu, tapi... bohooong, pesan semacam itu tak pernah benar-benar saya kirim, ahahaa, yang benar saja. Yang jelas, di tepian harapan dan pulsa yang tinggal sedikit lagi itu saya memang meminta penguatan diri dan ditemani :).

“Baru pertama kali donor ya?” kata petugas yang akan mengeksekusi. “Iya,” kataku sambil menahan gemetar. Gemetar karena begitu takut? Bukan, dingin, Jenderal, hotel ini memasang pendingin ruangan berkekuatan Putri Kipas kakak ipar Sun Go Kong saya rasa. “Pantesan masih lembut, pembuluh darahnya masih jauh di dalam,“ lanjutnya. Sungguh bang, kalimatmu yang satu ini sama sekali bukan kalimat menenangkan, saya jadi membayangkan adegan si abang menusukkan jarum di lengan kiri saya, lalu dengan riang berkata, ‘ah, nggak kena!’ lalu dicabut lagi, dimasukkan lagi, lalu berpindah ke tangan kanan, dicabut lagi, dimasukkan lagi, begitu terus sampai imsak. Abang-abang itu kemudian melakukan prosedur pengambilan darah; membelit tangan saya dengan tensimeter, lalu menggerak-gerakkan lengan bawah saya turun naik berkali-kali, kalau tangan saya saat itu sedang memegang barbel kecil, mungkin saya akan terlihat seperti Agung Hercules dari kejauhan. Huh hah huh hah. Beberapa saat kemudian, si abang berkata, “tarik nafas yang dalam...,” belum sempat saya menarik nafas dengan benar, lengan saya terasa di... Haduuu, udah ditusuk aja lengan saya. Tapi ternyata tidak sakit sama sekali. Wahai orang-orang yang belum mau didonor darah karena khawatir akan sakit, ditusuk jarum itu sama sekali tidak sakit! Dan satu lagi, rumor yang mengatakan bahwa donor darah itu menggunakan jarum berdiameter setara ballpoint, itu bohong! Yap, memang tidak sakit, tapi... oh, tangan saya kesemutan, mati rasa ringan. Saya memang sadar, bahwa kesemutan ini berarti tangan saya kurang asupan darah, dan juga karena lengan atas saya terbelit kencang. Tapi, namanya juga panik, yang ada di pikiran saya saat itu adalah, bagaimana jika aliran darah ke ujung-ujung jari benar-benar terhenti, sel-selnya mati, lalu akhirnya harus diamputasi seperti penderita hipotermia yang berada di badai salju berhari-hari. Saya pun berkata dengan panik, “A, ini emang harus mati rasa ya tangannya?” Dengan sabar, abang-abang tadi memberi pengertian dan menyarankan agar saya menggerak-gerakkan jari-jari saya. Memang bakat jadi istri penurut, saya pun menuruti perintah abang-abang tadi, dan, ya, tangan saya sudah tak terlalu kesemutan lagi.

Proses pendonoran darah saya berlangsung cukup lama, daripada tenggelam dalam ketegangan mendalam, saya pun mengalihkan perhatian dengan mengabadikan diri, lagipula, melihat wajah saya adalah kesenangan tersendiri bagi saya, hahaa...

tetap manis meski sedang mendonorkan darah

Tiga puluh menit, kira-kira selama itulah proses pendonoran darah saya, terbilang lama, karena sempat macet darahnya (dan sempat membuat saya sangat panik). Setelah selesai mendonor dan diplester, lalu, aha, inilah yang saya tunggu-tunggu, pembagian souvenir, muihihii :3 Inilah yang saya dapatkan setelah mendonor darah di sana:

dua buah goodie bag, Kompas dan J&C

Apa saja isinya? Tentu saja macam-macam, ini isinya:


Yap, itulah isi dari dua buah goodie bag tadi, dan jika dikelompokkan berdasarkan golongan fungsi, isi goodie bag tersebut adalah:

1. bacaan

Yap, golongan pertama adalah bacaan, dalam hal ini berupa tabloid, yang mana fungsinya adalah memberi informasi dan juga dapat dibaca ketika senggang.

2. makanan

Yang kedua adalah golongan makanan, golongan yang paling saya nikmati dan syukuri. Fungsinya? Ya untuk dimakan, diminum, atau jika merupakan pemamah biak, bisa untuk dikunyah-telan-lepeh-kunyah lagi-telan lagi, yiks.

3. voucher XXI

Yang ketiga adalah voucher XXI, golongan yang juga sangat saya syukuri keberadaannya di dalam goodie bag, tentu saja untuk bisa menonton gratis/separuh harga di 21 dan XXI manapun, cihuy!

4. obat-obatan

Yang keempat adalah obat-obatan, lumayan juga, bisa dicoba saat sakit dan kebetulan tak ada obat di rumah. Alhamdulillah.

5. tisu saku

Golongan kelima berupa tisu, tisu saku, bentuknya praktis, aerodinamis, dan bisa dibawa kemana-mana. Fungsinya? Hmm..., aha! Bisa dibakar untuk kemudian menghipnotis siapapun yang duduk di sebelah kita.

6. brosur

Yang keenam adalah golongan brosur, ya, ada berbagai brosur yang dimasukkan di dalam kedua goodie bag yang ada. Dan ini, ini yang paling saya tak mengerti fungsinya apa, karena selama 23 tahun saya hidup berumah tangga, tak pernah sekalipun saya menjadikan brosur sebagai camilan di saat senggang.

Puas mengamati isi goodie bag yang saya terima, saya pun masuk ke ruangan di sebelahnya, ruang di mana hiburan bagi pendonor berlangsung. Yang sedang tampil di panggung adalah Fun-tastic String Ensemble, keren sekali mereka, saat sedang diambil darahnya tadi pun saya bisa mendengar mereka beraksi, memainkan lagu ‘Nobody-Wonder Girls’ yang begitu Pop dengan gaya mereka yang hampir orkestra, wuw! Saya pun jadi tak ragu untuk duduk di ruang itu, menikmati musik yang dimainkan mereka.

Fun-tastic String Ensemble di atas panggung

Di akhir pertunjukan, saya sama sekali tak menyangka, mereka membawakan lagu nasional 'Tanah Air', leader-nya meminta kami semua berdiri dan menyanyi bersama. Menurutmu, kami akan bagaimana? Yap, kami semua serentak berdiri, tua, muda, Sunda, China, semuanya, kami semua menyanyikan lagu yang sama, Tanah Air.


Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh, tidakkan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai. Walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku rasa senang, tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan.

Benar-benar terharu saya saat itu, dan percaya atau tidak, saya sempat menitikkan air mata, ya, kami semua yang berdiri di sini, sedang menunjukkan cinta yang nyata, untuk Indonesia. 

Acara diambil alih kembali oleh MC, saatnya games sekarang, dan oh, saya yang sedang duduk-duduk sambil mengamati kembali isi goodie bag, tiba-tiba dipanggil ke depan oleh MC wanita, “teteh kerudung kuning, meuni geulis, ayo ke atas panggung teh.” Dengar itu Indonesia! Dengar, ternyata pesona catikku tak hanya diterima oleh kaum Adam saja, tapi juga kaum Hawa, dan kaum diantara keduanya, cihuy! Saya pun naik ke panggung bersama empat orang lainnya yang juga dijadikan tumbal demi serunya acara sore itu. Coba, coba tebak, apa yang harus saya lakukan di atas panggung itu? Ngesot sodara! Ngesot dari ujung panggung lalu minum susu kotak yang sudah disiapkan diujung panggung yang satunya lagi. Hoh, seketika saya berpikir bahwa orang-orang yang berada di ruangan ini adalah orang paling beruntung se-Bandung Barat Daya, bayangkan saja, mereka bisa melihat secara langsung bagaimana seorang Zooey Deschanel mengesot dengan gemulai, kapan lagi coba?

MC yang sedang menyiapkan susu kotak untuk diminum oleh kami =="

Satelah berhasil menyelesaikan permainan, saya pun mendapatkan ini:

voucher XXI (lagi)

Sebuah voucher XXI lagi, hooray! Aku jadi punya dua voucher, kini aku bisa mengajak serta dia yang tersayang, handai taulan, ataupun tetangga dekat untuk menonton bersama. Atau bisa jadi, jika dua voucher XXI yang saya punya ini digabungkan, maka akan bisa ditukarkan dengan BLT dan raskin, ahiy! *duh, bisa jadi memang beginilah gambaran rakyat saat ini, perpayah-payah mengesot dahulu, baru mendapat bantuan kemudian, jangan sampai...

Setelah itu, acara memasuki puncaknya, yaitu... tamtararamtamtaaam... penarikan pemenang doorprize utama, berupa kulkas Electrolux. Pemenang pun didapatkan.


Dan coba tebak, apa yang terjadi pada seluruh peserta setelah penarikan doorprize ini? Ngabuuur, hahaa, hampir serentak seluruh peserta keluar dari ruangan saat pemenang kulkas naik ke atas panggung, ahahaa, kentara sekali ya, bahwa yang menahan mereka di sana adalah hadiah doorprize utama. Tapi, make sense juga sih, toh acara sudah benar-benar selesai, terus untuk apa lagi peserta tinggal di tempat? Bantu petugas bersih-bersih gelas? Bantu lepasin back drop? Bantu MC cewek bersihin dandanan? 

Bagaimana dengan saya? Saya juga hendak pulang tentu saja, tapi... kepala saya tiba-tiba pusing, pusing berat. Saya harus bagaimana? Ah, saya tetap pulang saja. Kenapa? Coba deh bayangin, saya duduk sebentar aja tiba-tiba disuruh naik ke atas panggung dan ngesot, gimana kalo saya duduk lama-lama di sini? Mungkin akan disuruh naik ke atas panggung dan salto-salto sampai tempat parkir, hih, ogah. 

Pulang aja nih? Iya pulang. Maka berkendaralah saya, terus, lurus, tanpa banyak berpikir, yang malah membuat saya... MARMUT! NGAPAIN SAYA NAIK FLY OVER? Iya, karena begitu minimnya kemampuan berpikir otak saya saat itu, saya salah jalan, saya jadi naik jembatan Pasopati. Ihik, semakin jauh saja jalan saya menuju pulang, dan pusing-pusing mau pingsan ini masih menyerang. Sisa kecerdasan saya mengatakan bahwa saya harus berhenti di suatu tempat makan, beristirahat dan makan di sana, sampai pusing ini berkurang. Maka saya pun turun fly over di Taman Sari, lurus sedikit ke Taman Cikapayang dan belok kiri menuju Dago, yang terpikir oleh saya saat itu adalah food court Imam Bonjol. Huuuh, untung saya selamat sampai tujuan, langsung saya duduk di sana, dan memesan lomie. Lomie seolah menjadi asupan penyelamat bagi saya saat itu, ya, setelah makan lomie, mata saya menjadi cerah kembali, pusing di kepala saya tak terlalu mengganggu lagi. Berikut saya sertakan foto saya, sebelum dan sesudah makan lomie:

foto saya sebelum dan sesudah makan lomie

Setelah merasa cukup dan siap untuk melanjutkan perjalanan, saya pun pulang dan mengendarai lagi si motor hitam kesayangan. Di tengah jalan, ternyata pusing mendera lagi, tapi sampai juga akhirnya saya di rumah, alhamdulillah. Karena merasa sangat lemas, setelah sholat saya pun langsung tidur, tidur lamaaa sekali. Sebelum tidur saya berjanji, akan donor darah lagi di kemudian hari.

P.s.: Setelah donor darah, nafsu makan saya jadi barbar. Yang tadinya saya cukup kenyang dengan porsi sarapan princess, yaitu sepotong gehu dan bala-bala (yeah, there's a thin line between princess and 'kere', hahaa...), namun sampai beberapa hari setelahnya, saya jadi cepat lapar, sarapan pun harus dengan bubur-ayam-plus-hati-ayam-plus-telor-ayam-rebus. Tapi tak apa, bukankan kita harus bangga telah menjadi pejuang? :)

Sampai jumpa di-posting-an berikutnya! :D

Wednesday, March 7, 2012

Andai Aku Kucing



Lihat kucing itu, berguling, berlari, menggaruk, mengeong. Mm, tapi kamu tidak senyum, mana senyummu hai kucing? Ah, tak senyum pun kamu pasti bahagia kan? Andai aku kucing, walau tak bisa senyum, aku selalu bahagia. Tanpa harus memalsukan senyum, semesta tahu aku bahagia.

Lihat kucing itu, menjilat rambut dengan tekun, sesekali digigit-gigitnya sejumput rambut dengan gemas, hihii, ada kutu rupanya. Andai aku kucing, satu-satunya masalah serius yang pernah melintas di pikiranku hanyalah cara menumpas kutu yang bersembunyi di bagian tengkukku. Jika majikanku perhatian dan rajin, maka masalah yang ada hanya bagaimana agar selalu makan enak tanpa kegendutan dan susah berjalan, ah, mungkin juga hal ini tak jadi pikiranku, mungkin aku terlalu bahagia untuk berpikir.

Lihat kucing itu, mendengkur di pangkuan seorang gadis kecil, nyaman sekali tidurnya. Andai aku kucing, tak perlu aku risau akan hidupku esok hari, gadis kecil ini akan datang setiap hari, memberi makan, memberi seperempat gelas susu yang tak dia habiskan saat sarapan, mengelus dagu, dan sesekali menggelitik perutku. Ah, satu lagi favoritku, jika dia tak dijemput pulang ibunya yang menyuruh belajar, akan ada waktu untukku tidur di pangkuannya yang hangat.

Andai aku kucing, aku akan berguling, berlari, menggaruk, dan mengeong. Berjalan menyusuri jalanan berumput, lalu berguling di tumpukan pasir, menggaruk tumpukan sampah ketika lapar, dan..., oh, mana makananku? Bukankah biasanya tempat sampah di warung makan ini menyediakan banyak tulang ikan untukku, sekarang mana? Ah, aku mengeong saja! Hai kamu yang manusia, tahukah bahwa eongan ini berarti aku lapar? Ah iya, aku kucing..., membahasakan maksudku saja aku tak mampu. Bekerja? Mana mungkin, keterampilan yang aku miliki adalah melompati atap dan pagar, bukan mencuci piring di rumah makan ini demi mendapatkan sisa tongkol. Lalu bagaimana? Tidur saja, berharap tidak mati, dan kembali lagi esok hari.

Andai aku kucing, aku hanya akan sibuk menjilat rambut, dan jika beruntung, kraus, tergigit kutu yang melintas di punggungku, senangnyaaa. Tapi menggigit kutu tak akan membuatku kenyang kan? AHA! Majikan! Tunggu, aku tak cukup lucu untuk punya majikan yang mencukupi kebutuhan makanku, apalagi menjaga lembut rambutku. Oh iya, ada ibu! Umurku baru satu, bolehlah kuminta makan pada ibu. Itu ibu! Ya, itu ibu, ibu yang sibuk mengurusi adikku, aku hanya akan diusirnya jika mendekat, disangka akan mengganggu adikku. Bukan adik sebenarnya, tapi adik-adik, ya, adikku kembar lima, diizinkan mendekat pun ibu tak akan lagi mengenalku, anaknya terlalu banyak.

Andai aku kucing, aku akan mendengkur sepanjang hari, tak usah pikirkan esok. Pekerjaan rumah, tugas kuliah, tumpukan pekerjaan, aku tak punya, mari bersiap tidur, satu, dua, tiga, tarik selimutnyaaa. Eh, aku kan kucing, jangankan selimut di malam yang dingin, hari hujan pun aku akan tetap tidur di sini, tanah yang basah dan berbau lumpur. Tak apa, tak apa, aku sudah makan dan hari tidak hujan, sepoi angin ini akan mengantarku jauh terlelap. Nyem, nyem, mungkin ini yang namanya mimpi, ada suara anak kecil di sini, pastilah gadis kecil itu, sudah dua hari dia tak menghampiri. Ah, mungkin ini bukan mimpi, karena suaranya semakin dekat, tunggu saja, sebentar lagi dia akan mengelus lembut punggungku. Nah, sudah mulai disentuhnya aku, nyamaan, EH, apa ini, bukan, bukan begini cara mengangkat tubuhku, bukan dengan menggenggam ekorku, sakit, dan lagi, ini bukan gadis manis itu, siapa kamu? Uh, sulit sekali mencakarmu. Lagi-lagi aku mengeong, keras kali ini, mungkin akan ada yang membantuku, kulihat ada sekumpulan anak lain di sana, mungkin mereka akan membelaku, mereka datang, syukurlah, mereka sudah dekat, dan kini.. menertawakanku. Ada gunting di tangan salah satu yang memakai baju biru, kres kres kres, renyah sekali suara kumisku dicukurnya. Aku gigit saja tangannya, kucakar kuat lengannya, tapi, ugh, aku malah ditendang yang berbaju ungu, tapi tak apa, sudah cukup puas aku melihat luka gores di lengannya, semoga menjadi pengingat untuk tak lagi mengganggu sesamaku. Aku bebas sekarang, aku tidur lagi saja. Di sini? Tidak, lebih baik mencari tempat berteduh lain yang lebih aman, di teras rumah seorang nenek di seberang lorong itu saja, ayo jalan. Ah, mengapa jalanku sedikit limbung, mm, mungkin hanya perasaanku saja, toh setelah menyusur lorong, aku bisa tidur damai, hup... mm, duh, apakah tersangkut di lorong juga hanya perasaanku saja? Tidak, ini bukan hanya sekedar perasaan, aku kesulitan menerka ruang, betul juga, kumisku sudah tak ada.

Andai aku kucing.. Ah tidak, aku bahagia jadi manusia, bersyukur atas apa yang aku punya, bersyukur atas apa yang aku bisa lakukan.

Saturday, March 9, 2013

Heart Trip

     Bandung-Surabaya, aku duduk bersandar di kursi nyaman kereta Turangga sambil memandangi tiket yang baru saja dilubangi oleh petugas. Tidak biasanya pergi ke Stasiun Gubeng dengan kereta ini, kereta ber-gerbong eksekutif yang tiketnya dibelikan patungan oleh teman-teman komunitas fotografi yang lebih sering melakukan kegiatan nonton bareng atau makan siang bareng ketimbang hunting bareng atau serius berdiskusi foto. Baik sekali mereka, tertera nilai tiga ratus sembilan puluh lima ribu rupiah di tiket ini, yang jika dikonversi menjadi nilai mata uang anak kosan akan berharga empat puluh kali makan siang di Warung Tegal Bahari cabang mana saja di seluruh kota Bandung. Ah, bersyukur sekali aku punya mereka. Belum lagi tiket Mutiara Timur Malam dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru yang tersimpan rapi di tempat khusus dalam tas travel biru tuaku yang kalau tidak salah ingat, harganya seratus lima puluh lima ribu rupiah. Bukan itu saja, masih ada buku panduan wisata Lombok sebagai bekal ketiga dari mereka. Aih, curhat-curhatan tolol dua minggu yang lalu tentang impian menjelajahi tiga Gili di Lombok ternyata ditanggapi serius oleh mereka dengan tiket kereta dan buku itu, wuw. Dua tiket kereta ini memang yang paling mahal dalam budget perjalan Bandung-Lombok-ku. Harga tiket-tiket selanjutnya, seperti tiket feri dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk Bali, tiket bus Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Padang Bai, dan lainnya sampai tiba di Lombok benar-benar tak ada apa-apanya dibanding harga tiket kereta ini, hahaa, mereka membiayai lebih dari lima puluh persen biaya perjalanan pergi. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat ekspresi mereka kemarin siang, memberikan tiket dalam amplop merah muda sambil mengolok-ngolokku yang akhirnya bisa melaksanakan impian seumur hidup ini.



-------------------------------------------------------------------------



     “Eh, apa nih? Surat cinta?”
     “Ya, anggap aja begitu, buka gih.”
    “Bandung-Gubeng, Gubeng-Banyuwangi Baru,” kataku sambil mengernyit memandang tiket-tiket itu, masih bingung, “mm, ini.. ini.. YA AMPUN, AAAH, INI.. INIII..?” mereka berlima mengangguk cengengesan.
     “Nih,” salah satu dari mereka memberikan buku.
    “YA AMPUN, BENEEER, LOMBOOOK! AAAH!” air mata seketika menggenangi wajahku, satu-persatu mereka aku peluk erat sambil berucap terima kasih, dandanan hebohku hari itu hancur dalam 10 detik saja.
     “Liat dulu tanggalnya Ran, hahaa.”
  “Mm, 23 Juni, yang ini 22 Juni” gumamku sambil melihat tanggal keberangkatan di tiket atas nama Maharani Senja, “GILAK, BESOK MALEM! Ah, gila, kalian hobi ya ngerjain orang.”
     “Hahaa, packing yang bener ya, jangan ketiduran malem ini.”
     “Gilaaa, hari ini kan cape bangeeet, ini sih nyiksaaa...."
     "Oh, jadi nggak mau nih? Ambil lagi nih ya tiketnya?"
     "Eh, jangaaan, nggak kok nggak, ini hadiah paling keren se-Nusantara!"
    “Hahaa, semangat packing-nya ya Raniii!” beberapa dari mereka menepuk-nepuk pundakku untuk menyemangati.
    “Eh, tapi, keluargaku kan lagi banyak yang dateng ke Bandung nih, masa ditinggal, mereka sedih dong nanti ga ada yang bisa ngajak jalan-jalan....”
    “Udah diatuuur, Revi udah minta izin ke orang tua kamu, cuti kantor aja udah diurusin Gita, keren kan kita.”
    “Banget, kalian keren, banget...,” speechless, tak ada kata lagi yang tertutur dari mulutku, hanya bisa mengusap lelehan air mata bercampur maskara yang ternyata tak teruji ke-waterproof-annya.
    “Cieee, yang terharu...,” Revi, yang paling dekat denganku, menggodaiku sambil memberikan tisu wajah yang, duh, mbok ya dari tadi toh ngasih tisu-nya, berbagai cairan wajah ini sudah terlanjur diusap dengan ujung lengan baju nih, huu....
    "Iya nih, kalian bisa banget bikin terharu gini, by the way, kok ngasihnya tiket kereta sih, pesawat kek...."
     "Ish, ni anak emang keterlaluan ya, dikasih hati minta dendeng balado. Kan biar berasa perjalanannya Ran, naik pesawat, yaaah, merem dikit udah nyampe, apa bedanya coba sama naik jin?"
     "Nggak tau sih ya bedanya apa, belum pernah naik jin soalnya, ahahahaa."
     "Ya... gitu deh Ran, kita emang cuma mampu beliin itu sih...."
   "Iya sayangkuuu, ya ampun, ini tuh udah yang paling hebat yang bisa seorang Maharani terima dari teman-temannya yang super perhatian dan baik hati tau," air mata meleleh lagi, "tuh kan aaah, jadi nangis lagiii, huaaa, kaliaaan," aku peluk yang berdiri paling dekat denganku, Gita.
     "Udah, udah Ran, itu maskara kemana-mana, mata kamu liat, sembab gitu, kayak mahasiswa baru nggak kuat begadang."
   "Iya, hee," aku mengusap lagi mataku, lalu memberikan senyum manis untuk kelima sahabat terbaik itu, "maskara kalian juga leleh tuh, eh, by the way, tiket pulangnya mana nih? Kok perginya doang?"
    "Ih, bener-bener anak gak tau diri ya, itu tiketnya udah double combo gitu, masih minta buat pulang, ngeselin ya, yuk ah tinggalin."
   "Huahahahaa...," mereka pun berlalu seiring tawa bahagiaku untuk memburu makanan-makanan yang tersaji di acara kemarin siang.



-------------------------------------------------------------------------


   Ah, harusnya aku sudah tidur dari tadi, perjalanan masih panjang, dan punggung masih terasa pegal akibat acara packing yang tiba-tiba. Tapi, selelah apapun, aku memang belum mampu tertidur, entahlah mengapa, mungkin karena terlalu dingin. Aku menaikkan ritsleting jaketku sambil tersenyum melihat orang di sampingku, hm, selimut dan bantal hijau kereta api terlihat sangat mampu membuatnya tertidur nyenyak. Wajahnya yang terbalut lelah dan nyaman sungguh damai dilihat, ah, tapi ini juga tidak akan bisa membuatku tertidur. Aku mulai mengotak-atik music player di tangan kananku yang berisi tujuh ratusan lagu, memasang neckband earphone di telinga, dan mulai memandang jendela. Jika tidak sedang masuk terowongan kereta atau melewati pesawahan, hutan, dan tebing, akan ada pemandangan kerlap-kerlip lampu yang sangat aku suka. Berpendar lembut di kejauhan, kadang aku dengan sengaja menyipitkan mata supaya cahayanya semakin buram dan menampilkan ilusi depht of field yang menarik.

     Raindrops on roses and whiskers on kittens
     Bright copper kettles and warm woolen mittens
     Brown paper packages tied up with strings
     These are a few of my favorite things

     Deg, lagu ini menerbangkan khayal pada hari itu....

-------------------------------------------------------------------------

    “Tebak, tebak, ini siapa,” sepasang tangan menutupi mataku dari belakang, mm, lebih tepatnya, menutupi wajahku.
     “Ya kamuuu, siapa lagi.”
    “Kamu siapaaa?” suara berat itu menggodaiku, kalau sekarang dipikir-pikir lagi, cara menggodai yang satu ini so last decade banget ya, hahaa.
   “Renooo, siapa lagi yang punya tangan sebesar dan sekasar kamuuu, kayaknya kalo waktu SD orang lain main benteng-bentengan, kamu mah main tepokan tazoz sama banteng ya,” kataku sambil berusaha melepaskan tangan besar itu dari wajahku.
    “AHAHAHAAA! Ini kan tangan seniman, mesti kuat dan kokoh, hahahaa,” tawanya yang serenyah potato-chips-mahal-yang-tetap-saja-sering-kubeli-walaupun-sadar-perbandingan-antara-udara-dan-potato-chips-nya-semakin-timpang-setiap-tahunnya menghiasi halaman Fakultas Seni Rupa dan Desain sore itu.
    “Cih, kecuali pekerjaan senimanmu nanti membutuhkan kemampuan ngaduk semen yang handal, kamu ga butuh-butuh amat tangan kuat dan kokoh tau, mleee,” kataku sambil melepas earphone yang tadi sedang memainkan lagu untuk mengobati bosan.
     “Hahaa, iya deh iya, udah lama nunggu?”
   “Lamaaa bangeeet,” kataku pura-pura kesal sambil memanyunkan bibirku, yang saat itu aku pikir akan terlihat imut, yang nyatanya, setelah baru-baru ini aku praktikkan di depan cermin, terlihat sama mengerikan seperti Ronald Mc Don*ld dipaksa nyengir.
     “Duuuh, ngambek, jangan manyun gitu dong, nanti cantiknya ilang.”
     “Cantiknya aku itu long lasting kayak lipstik mahal tau, ga akan pudar cuma karena manyun doang, huh,” kataku sambil memanyunkan bibir lebih lagi, nggak peduli apa kata Reno, yang belakangan baru aku sadar kalau apa yang dia bilang benar adanya, ahahaa.
    “Iya, percayaaa, maafin dong maafin, nih, nih, chupa ch*ps stoberi,” Reno mengeluarkan lolipop dari saku jaketnya, lolipop yang sudah beberapa tahun ini tak pernah lagi menjadi kesukaanku.
     “Hehee,” cengirku lebar menerima lolipop itu.
   “Lagi dengerin apa tuh?” Reno menunjuk kabel earphone dengan lirikan matanya. 
     “Oh, tadi lagi denger My Favorite Things, lagi suka banget nih sama lagu ini, hihii.”
     “Gimana, gimana, lagunya?”
     “Nih,” aku menyodorkan earphone itu.
   “Nggak, nggak, bukan denger pake ini, coba, coba, gimana, mau denger,” Reno menunjukku.
     “Eh? Aku? Aku yang lalalalalala-nya?”
     “Iya, kamu yang lalalalalala-nya” senyum Reno.
    “Oke, ehm, ehm, raindrops on roses and whiskers on kittens, bright copper kettles and warm woolen mittens, brown paper packages tied up with strings, these are a few of my favorite things.... Udah ya, malu, hehee," dengan suara sangat seadanya, aku menyanyikan lagu itu untuknya.
     "Hehee, bagus, bagus. Eh, tadi terakhirnya gimana kalimatnya?"
     "Terakhirnya? Mm, these are a few of my favorite things...."
   “Ah, and this...,” Reno menepuk pundakku sambil tersenyum, “...is my favorite thing.
 “Ish...,” aku meninju lengannya, kemudian menunduk, untuk menyembunyikan sebulir air mata yang meleleh. Tapi Reno juga menunduk, mencari wajahku.
     “Cieee, ada yang terharuuu....”
   “Ngeseliiin, ahahahaa,” aku mengejarnya yang berlari pelan ke tempat parkir.

-------------------------------------------------------------------------

     Reno, satu nama yang pernah membuatku mengkhayalkan betapa cocoknya jika Rani-Reno tertera dalam sebuah undangan pernikahan warna biru laut, hahaa, absurd. Di mana dia sekarang? Sedang bersama pacarnya yang hitam manis berambut indah itu? Atau pacarnya yang semampai bergingsul manis? Atau kedua pacarnya itu berakhir sama sepertiku, melihatnya sedang berpacaran dengan dua gadis lain dan kemudian dua gadis itu juga melihatnya berpacaran lagi dengan dua gadis lainnya? Lalu dua gadis lainnya itu... ah, kusut. Mengingat ini, bisa membuatku membayangkan betapa sesak dan menyakitkannya udara Bandung untuk dihirup saat itu, saat dimana menjalani hidup sama susah dan tak mungkinnya seperti halnya membalikkan telapak tangan, tangan gorilla. Bukan cuma sakit karena dikhianati saja, tapi juga harus menjalani hidup penuh kegilaan akan penghargaan diri, hidup sambil melawan arus rendah diri yang parah. Aku kurang apa? Kurang apa? Kurang apa? Oh iya, kurang cantik, kurang baik, kurang menyenangkan, kurang dewasa, kurang pintar dan kurang lain-lain. Pontang-panting berusaha menunjukkan pada dunia kalau aku tak layak dikhianati, huuuh, berat. Untungnya, yang tersisa sekarang hanya bayangannya saja, tidak ada lagi sensasi sakit mengingat masa sulit itu.
    Rani, skip that song. Tangan kananku meraih music player dan menekan salah satu tombolnya, mencoba fokus lagi pada pemandangan yang menyejukkan mata, bahkan fokus pada dinginnya udara, dengan harapan bisa membekukan kenangan yang tak layak dikenang. Brrr, malam ini, aku menyadari satu hal, bahwa tubuh ini, sebagaimana layaknya lebih cocok dengan makanan warung tegal, juga lebih cocok dengan gerbong bisnis. Aku pun menarik lagi tudung jaketku, juga membawa kedua tanganku masuk lebih dalam ke lengan jaket, baru kali ini aku mensyukuri panjang tungkai depan yang pendek ini.

     Nobody gonna love me better
     I must stick with you forever
     Nobody gonna take me higher
     I must stick with you

    Lirik ini, hahaa, aku baru sadar music player sedang memainkan lagu ini saat kereta tiba-tiba memasuki terowongan kereta, yang membuat pemandangan indah pendar-pendar lampu di kejauhan hilang seketika. Ingatanku melayang lagi ke sana.

-------------------------------------------------------------------------

     “Ran, enak ya lagunya.”
     “HAH?”
     “LAGUNYA, ENAK,” ucap orang di sebelahku sekali lagi, di tengah riuh suara pentas seni kecil-kecilan sekolahku.
   “Oh, hehee, iya, asik ya, sebenernya baru kemarin sih denger lagu ini di radio, langsung suka,” kataku bertatapan dengan Fariz, lebih mengeluarkan bentuk-bentuk bibir dan gerakan tangan ketimbang suara, percuma soalnya, agak sulit terdengar.
     “Hehee, beli minum yuk,” Fariz menunjuk booth minuman yang berjarak tak jauh dari kami.
    “Nggak ah, tadi udah jajan, duitnya nyisa buat ngangkot aja,” cengirku polos.
   “Aku jajanin deh, yuk,” tangan Fariz menarik tanganku menuju tempat membeli minum. Menit-menit berikutnya, entah mengapa aku begitu fokus dengan cup minuman di hadapanku, kecanggungan dan kegugupan ini membuatku sangat tertarik memperhatikan sedotan putih berulir merah ini ketimbang ngobrol sambil menatap muka Fariz. Ini memang pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan lawan jenis.

-------------------------------------------------------------------------

    “Rani,” Fariz menghampiriku di kantin sekolah sambil mencubit pipiku, lalu duduk di depanku. Oh Rani muda, betapa polosnya dirimu saat itu, kok ya mau-maunya dicubit-cubit pipi begitu aja, pikirku sekarang.
    “Eh, Riz, kenapa?” ujarku sambil memasang senyum paling manis yang bisa aku tampilkan kepadanya.
     “Mm....”
   “Eh, suram gitu, kamu nggak lulus? Aku aja lulus, cum laude,” kataku mencontek kata cum laude dari tayangan wawancara Putri Indonesia, yang kalau diingat lagi sekarang, dan kalau Fariz juga mengingatnya sekarang, pasti akan bisa tertawa kecil seperti yang aku lakukan sekarang.
     “Hahaa, lulus kok, hee.”
     “Nah terus kenapa?”
     “Mm, kamu nerusin kuliahnya tetep di Bandung sini kan ya?"
     "Iya Riz, malah aku udah daftar ujian-ujian masuk gitu, siapa tau SPMB-nya nggak lulus, hee. Kalo kamu?"
     "Mm, orang tua nyuruh aku kuliah di luar.”
     “Luar? Negeri?”
     “Iya,” Fariz mengangguk.
   “Wah, keren dong, dimana?” kataku seadanya, yang sudah tertular kesuraman Fariz, biar bagaimana pun, Fariz sudah punya tempat tersendiri di hati saat itu, setelah satu cup minuman yang dibelikannya di pentas seni, oh Rani muda, kavling hatimu murah sekali.
     “Keren sih, tapi kan jadi nggak bisa ketemu kamu lagi. Di Ostrali.”
   “Oh, ya udah, Fariz liat aja bule-bule Aussie cantik di sana, nggak jauh bedanya kok sama aku,” aku menunduk, berharap getaran dalam suaraku tidak terdengar.
    “Hee, iya, Rani baca ini ya nanti di rumah,” Fariz menyodorkan lipatan kertas hvs, yang aku terima sambil mengangguk, sebuah surat.

-------------------------------------------------------------------------

Maharani Senja,
Aku mau ngaku beberapa hal ke kamu. Pertama, sejak kamu lari-lari nyusul aku yang lupa ambil uang kembalian dari kantin, aku pikir kamu imut banget. Kedua, aku nggak suka lagu Stick With You, kurang laki-laki untuk telingaku, hee. Ketiga, aku bilang lagu itu enak, supaya di PenSi waktu itu bisa ngajak ngobrol kamu yang ditinggal temen-temen kamu ke toilet. Sampai sekarang, aku masih nyesel, kenapa temen-temen kamu nggak kebelet pipis waktu Pas Band atau Nine Ball yang naik panggung, jadi pilihan lagu aku nggak terlalu feminin, hahaa. Keempat, aku suka kamu. Kelima, kayak kata lagu, I must stick with you forever. Keenam, kalau kamu suka aku juga, dan setuju sama lirik lagu itu, kamu tungguin aku pulang ya, soalnya, yang ketujuh, mm, aku suka kamu, hee, banget. Tenang aja, aku nggak akan kuliah sampe tujuh tahun. Aku bakal lulus kuliah 4 tahun dan pulang untuk kamu.
Fariz Rizki Ramdhani

-------------------------------------------------------------------------

     Fariz, sudah lebih dari tujuh tahun dan kamu belum juga menemuiku. Tanpa telepon, tanpa pesan, tanpa email, tanpa testimonial di friendster, tanpa tanda-tanda keberadaan apa pun. Kamu hilang. Satu setengah tahun berlalu, aku menemukan akun facebook-mu dengan status in relationship with perempuan Asia Timur cantik. Dasar (cinta)monyet! Kamu lah cikal bakal istilah PHP di dunia.
    Ah, dingin ini, nyatanya, ingatan tentang Fariz sang cinta monyet saat SMA yang menyebalkan pun tak mampu membuat tubuhku hangat. Dingin ini membuatku menyerah, selimut hijau kereta api yang diniatkan untuk aku pakai ketika dingin sudah memuncak akhirnya aku bentangkan juga di tubuhku. Ah, sudah lebih hangat dan nyaman sekarang. Aku lebih menghenyakkan diri lagi di sandaran kursi empuk kereta berwarna biru tua ini.
   Tapi, duh, perutku terasa kembung sekarang. Duhai masuk angin, mengapa kau harus datang di acara perjalanan impian ini sih? Untungnya, walaupun dengan packing yang terburu-buru, aku sempat menyiapkan obat masuk angin untuk dibawa. Aku mulai mencari obat masuk angin kemasan sachet di tas kecilku, tidak ada. Oh iya, ada di kantong depan tas yang disimpan di kabin. Susah payah aku berdiri dan berusaha mengambil obat masuk angin itu, ah, dapat juga akhirnya.
    “Dari tadi belum tidur?” sambil memeriksa jam, orang di sebelahku berkata.
  “Eh, kebangun ya? Maaaaf. Hee, iya, belum bisa tidur,” kataku sambil membuka lalu menyeruput obat masuk angin itu.
     “Itu kenapa? Masuk angin?” Dia melihat ke arah obat masuk anginku.
     “Iya, hee.”
  “Kedinginan ya?” senyum hangat menghiasi wajahnya, senyum yang membuat wajahnya semakin tampan.
    “Iya,” aku mengangguk.
     “Kamu kayaknya mesti diangetin deh.”
     "Di...angetin...?"
     "Iya," dibukanya kaca mata coklat tua yang memperlihatkan mata tajamnya, lalu wajah itu mendekat ke wajahku yang masih menyeruput obat masuk angin, memegang kedua pundakku, lalu mengucapkan satu-persatu kata dengan tegas, “Rani-aku-cinta-kamu.”   
   Deg, rangkaian kata itu, suara itu, dan tatapan mata itu, seketika membuatku meleleh dan tak bisa berkata banyak.
     "Udah jadi anget kan?"
     "Mm...."
     "Ah..., terpesona ya?”
  “Ng..., nggak kok, nggak,” tangan kananku mengambil kacamata dari tangannya, “kamu..., kalo ngomongnya deket-deket begitu..., matanya jadi juling...,” aku sudahi kalimat sembarangku dengan memasangkan kembali kacamata coklat tua itu di wajahnya.
     “Hahaa, juling juga tetep ganteng kan."
     "Mm, biasa aja tuh," yap, bohong.
    "Hehee. Oh iya, maaf ya tadi langsung ketiduran gitu aja, makasih juga udah diselimutin,” katanya sambil tersenyum, ya, senyum itu lagi, menyebalkan, kenapa masih saja jantung ini berdebar keras tiap kali senyum itu merekah.
   “Iya,” kataku sambil membalas senyumnya.
   “Kamu manis ya kalo senyum, hee.”
  “Ish, udah setua ini kamu baru sadar aku manis? Sungguh puluhan tahun dalam kesia-siaan ya hidupmu selama ini.”
     “Hahaa, nggak kok, udah nyadar sejak..., mm....”
     “Sejaaak?”
     “Sejak barusan, hahaa....”
     “Ih, nyebeliiin,” aku tinju-tinju kecil lengannya.
     “Hee, sini manis, sini, tidur senderan sini, biar anget.”
    “Iya.” Aku pun segera bersandar di sana, di tempat untuk tidur yang paling nyaman sejagat raya, di lengan pria yang kemarin pagi mengucapkan ijab qabul dengan lantang bagiku.
     “I love you, honey,” bisiknya.
   “I love you too,” kalimatku dan debaran jantung yang bisa ia rasakan ini sepertinya sudah sangat cukup untuk membuatnya yakin, bahwa aku pun mencintainya, sepenuh hati.

-------------------------------------------------------------------------

   Subuh keesokan harinya, aku terbangun, terdiam beberapa saat, lalu menulis di jurnal pribadiku, “heart trip, hati ini, mungkin sudah berkelana dan singgah ke banyak dermaga yang salah, tapi, akan tiba saat di mana hati ini berhenti, menemukan kembaran rasa, lalu melaju lagi bersama-sama.”

TAMAT

Wednesday, February 6, 2013

Terimakasih Papah


Sore ini saya baru menyelesaikan nonton Kita Vs Korupsi, 4 film pendek yang dibuat sebagai penyuluhan korupsi bagi masyarakat. Menurut saya, film yang paling ngena itu justru film yang paling sederhana diantara keempatnya, film ke-4, soalnya dekat dengan keseharian, judulnya, "Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa." Film ini bercerita tentang korupsi kecil-kecilan yang dilakukan oleh anak SMA. Waktu masih sekolah dulu, saya juga sering mendengar istilahnya; nyoceng. Buat yang belum tau, nyoceng itu adalah perbuatan me-markup anggaran yang pelakunya anak sekolahan, mau itu buku pelajaran, uang les, sumbangan sekolah, seragam, apapun. Misalnya gini nih, buku Biologi itu harga sebenarnya Rp 38.000, tapi, supaya bisa nraktir pacar jajan mie ayam, pelaku nyoceng akan meminta uang Rp 50.000 kepada orangtuanya, dan berkata sebesar itulah harga buku sebenarnya. Yah, nyoceng, dari perbuatan sekecil inilah korupsi yang lebih besar skalanya bisa jadi bermula, ini inti ceritanya. Aaah, untung saja saya tidak pernah jadi bagian di dalamnya, ahiy, saya memang anak yang baik :3 Cantik juga sih, tapi, sudahlah, kita tidak sedang membicarakan kecantikan saya di sini. 

Selain film tadi, ada lagi yang ngena di hati saya, yaitu film ke-3, judulnya; "Selamat Siang, Risa!" Tentang bagaimana Risa menolak untuk diberi suap, sebagaimana ayahnya dulu yang bekerja sebagai penjaga gudang menolak untuk mengalihfungsikan gudang yang ia jaga untuk menimbun beras, walaupun sebenarnya, uang yang ayah Risa bisa dapat akan sangat berharga untuk pengobatan adik Risa yang sedang sakit saat itu. Ayah saya bukanlah seorang penjaga gudang, ibu saya pun bukanlah penjahit, dan saya tidak pernah sakit-sakitan saat tak ada beras yang bisa dimasak di dapur, tapi film ini mengingatkan saya pada ayah saya, pada papah. Baru-baru ini mamah cerita tentang papah, tentang bagaimana beliau bekerja, tentang kesempatan-kesempatan yang beliau lewatkan supaya tetap lurus dijalannya, tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa keluarga kita bisa lebih 'sejahtera' daripada sekarang jika papah tak teguh pendirian, tentang mengapa saat itu jabatan papah saya segitu-segitu saja. Hm... :) Terimakasih pah, untuk bersihnya rizki yang kau upayakan untuk kami, untuk segala lelah yang kau lalui tanpa memperlihatkan susah, untuk segala sukar yang kau lalui tanpa gentar. Aku bangga padamu, selalu :') T.T 

Wednesday, January 16, 2013

Tutorial Berkerudung Untuk Pemula

Assalamualaikum, salam sejahtera dan salam hangat-hangat kuku dari saya.
Pada blog post kali ini, saya akan menunjukkan langkah demi langkah pemakaian kerudung 'Neno Warisman' yang saya kenakan untuk profile picture facebook saya baru-baru ini:
yap, yap, yang ini.
Iyaa..., yang itu.
Udah dong ah, jangan diliatin terus gitu :3


Oke, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah:
1. Memakai ciput ninja.
Ciput ninja itu yang kayak gimana?
Itu loh kayak yang saya pake di atas, yang warnanya biru.
Ciput ninjanya yang biasa-biasa aja ya, ga usah yang ada tambahan bulatan di belakang/atas kepala. Soalnya, nanti mirip punuk onta, nah, dari yang saya baca, berjilbab yang mirip punuk onta atau camel-hump-hijab, menurut hadist ga dibolehin :) *belajar sedikit-sedikit, hihii


Oke, lanjut ke langkah kedua.
Eh, apa? Ada yang ga punya ciput ninja?
Mm, beli dulu gih ke Pasar Baru.
Eh, males?
Oke, kamu punya ayah, bapak kos, atau saudara laki-laki? Sip.
Kalau begitu, di tempat tinggal kamu pasti ada ini:
Yap, sarung.
Sarung bisa kita jadikan alternatif cerdas pengganti ciput ninja, seperti yang anak-anak generasi 90-an lakukan saat ninja turtles sedang berjaya, inget kan? Lingkarkan ujung bukaan sarung di atas hidung, ikatkan di belakang kepala. Buka ujung bukaan sarung yang satunya lagi, satu ditarik menuju pucuk kepala, satu lagi ditarik ke bawah, sreeet...
VOILA!
Pinter kan, kan, kan? B-)
Apa? Jelek? Ya iya sih, siapa suruh males ke Pasar Baru :/


Oke, kita lanjutin aja, yang belum punya ciput ninja, nanti nyusul ya....
Nah, yang lain, yang udah pada dipake ciput ninjanya..
Eh, eh, lagi pada ngapain itu?
Aaak, nooo, oh, nooo..
There's no need to put spiral-like-blush on your cheeks like the way Ninja Hattori does, haduuuh, hapus, hapus, ngewa ah..


Lanjut ya, serius nih ah....
Setelah ciput ninja, ada satu lagi yang penting kita punya dalam berkerudung ala-ala Nisa Warisman ini, yaitu:
Shawl bahan kaos.
Ga punya juga? Atuhlah..., jadi kamu punyanya apa? Cinta? Cinta mah ga bisa dikumpulin terus dituker sama bimoli pouch di indomaret terdekat kayak kupon belanja.
Kalo shawl bahan chiffon punya ga?
Ga punya juga?
Sok atuh beli dulu di temen saya ya, di Permata Hijab Store.


Oke, sudah siap dengan step selanjutnya? Sip.
Langkah kedua adalah:
2. Kenakan shawl-nya di kepala.
Kepala? Kepala siapa?
Ya kamu, masa iya Obama.


3. Atur supaya bagian kanan lebih panjang dari bagian kiri.
Atau kalau kamu kidal dan lebih gampang melakukan sebaliknya, lakukanlah sebaliknya.
Atau kalau kamu begitu mencintai keseimbangan dan keadilan, buatlah yang kanan sama dengan yang kiri, lalu, klik-lah tanda silang di pojok kanan atas, selamat tinggal.... Ngeyel sih :/


4. Angkat bagian yang lebih pendek (dalam gambar, yang kiri), lalu selusup-kan bagian yang lebih panjang ke bawahnya.
Pinter...


5. Angkat bagian yang panjang tadi untuk melingkari lagi kepalamu.
Jadi, akan ada dua lapis shawl di atas kepala.
Mau tiga lapis? Boleh...
Mau tujuh lapis soalnya takut masuk angin? Boleh, tiap lapis beda warna ya sekalian, atasnya kasih cream cheese sama almond nougat.


Masuk ke langkah yang paling asik.
6. Rapikan


6. Rapikan


6. Rapikan
Mm, oke, stop, muka sih ya gitu aja, ga usah dirapi-in, nggak ngaruh.


Lanjuuut.
Uuuh, agak susah nih bagian ini. 
Bukan, bukan lagi mites anak-anak kutu.
Itu lagi melakukan langkah selanjutnya:
7. Sematkan jarum pentul di atas kepala.
Tujuannya?
Supaya kerudungnya menempel kokoh di kepala, seperti holcim membangun rumah anda.
Jadi mesti ditusuk gitu jarumnya ke ubun-ubunan?
Ya nggak laaah..., unless you're sundel-bolong-like-creature yang kalo ubun-ubunnya ga ada pakunya bakal bisa terbang nembus tembok, JA-NGAN.
Boleh pake jarum-jarum lain selain jarum pentul? Yang lucu-lucu gitu loh..
Boleh, itu mah terserah aja :) Tapi tips aja ini mah, kalo kamu suka pergi-pergi pake motor, mata jarumnya jangan yang gede-gede, nanti keteken helm, sakit, it surely makes you dizzy, iya, jarum pasak tenda juga jangan.




Maka, selesaaai :D


Eh, eh, iya, tunggu dulu.
Kamu masih bisa lebih mempercantik kerudungmu.
Caranya:
 
8. Pelintirlah sisa shawl yang bagian pendek tadi ke samping telingamu, beri pin kembang-kembang lucu di sana.
Eh tapi saya juga kan ga punya pin kembang-kembang lucunya, ah, ya sudahlah....


Maka,
selesai beneran :D


Kini, kamu yang cantik berkerudung sudah siap berkeliling kota dengan delman istimewa.


Akhir kata, salam cinta semuanya, semoga agak-agak bermanfaat, assalamualaikum :)




Sunday, January 13, 2013

Teteh Sayang Lulu, Selalu


Pernah punya kucing yang begitu menggemaskan? Kucing yang sampai-sampai hampir setiap kamu melihatnya, you’ll whisper unwittingly, “you’re the cutest creature I’ve ever seen.” Pernah punya kucing yang membuat kamu merasa paling istimewa? Kucing yang jutek hampir pada setiap orang, tapi begitu manis kepadamu. Pernah punya kucing yang hampir selalu tau saat-saat berat dalam hidup kamu? Kucing yang seolah bisa merasa kesedihanmu, lalu menemanimu sambil memijit lenganmu. Pernah punya kucing yang sangat terganggu melihat kamu menangis? Kucing yang dengan panik mengeong-ngeong seolah memohon padamu untuk berhenti menangis. Pernah punya kucing yang akan mencarimu kemana pun saat mendengar suara tangis palsumu? Kucing yang berlarian ke tempat kamu berada ketika kamu mengeluarkan suara tangis palsu, seolah-olah kamu adalah anaknya yang harus dia rawat. Pernah punya kucing yang dengan mendengar suara dengkurannya akan membuat kamu merasa sangat nyaman? Kucing yang dengan rela perutnya dijadikan bantal nyaman hanya supaya kamu bisa mendengar suara dengkurnya yang lembut. Pernah punya kucing yang tidak pernah mau menggunakan cakarnya kepadamu? Kucing yang ketika diganggu bagaimana pun olehmu hanya akan menggertak dengan mengayunkan cakarnya kepadamu, lalu memasukkan kukunya tepat sebelum mengenai kulitmu. Pernah punya kucing yang membuatmu merasa penting? Kucing yang menggulung-gulung diri di pakaian kotormu ketika kamu tidak ada di rumah, kucing yang hanya mau disuapi makan olehmu ketika sakit. Pernah punya kucing yang bisa memijit lengan dan kaki? Kucing yang memijit dengan hebat, dengan dua kaki belakangnya, bukan dengan kaki depan, jadi pegal-pegal di lenganmu bisa hilang, dan cara memanggilnya untuk memiijit cukup dengan pura-pura menangis, hee.

Saya punya kucing yang seperti itu, ‘pernah’ punya, namany Lulu, dibeli di sebuah cat breeder sembilan tahun lalu dengan sepenuh usaha dan air mata. Saat itu saya masih SMP, uang jajan masih seadanya, demi mengumpulkan uang untuk membeli kucing yang (bagi saya)keterlaluan mahalnya, saya harus benar-benar berhemat, makan makanan bekal dari rumah, atau berlapar-lapar kalau perlu, demi mengadopsi kucing lucu yang kemudian saya namai Lulu (walaupun akhirnya, saya hanya berhasil menyumbangkan 1/6 dari harga Lulu, hee).

Sembilan tahun lalu, saya pernah menangis malam-malam, agak frustasi saat itu, 2 bulan usaha menabung, hanya menghasilkan uang dua ratus ribu lebih sedikit, harga kucing idaman saya saat itu rata-rata 1,2 juta, aduh, there’s still a long long long way to go through. Malam-malam di sembilan tahun setelah itu, yang saya tangisi adalah kucing yang sama, menyuapinya sambil berkata, “kamu harus sembuh Lulu.” Sekarang, drama-drama air mata untuk mendapatkan dan mempertahankan Lulu sudah berakhir, ya, Lulu sudah pergi selama-lamanya dari hidup saya.

Lulu mulai malas makan seminggu yang lalu, berlanjut terus sampai akhirnya dia pergi siang ini. Sakitnya Lulu kali ini beda, rasanya seperti sudah punya firasat bakal ditinggal selamanya. Salah satunya karena Lulu sempat menghilang dua kali selama sakitnya, mengurung diri di gudang atas yang susah dijangkau manusia, cuma bisa diakses dengan membuka genting atap rumah. Entah kenapa, semua kucing yang pernah saya pelihara selalu menghilang tiba-tiba saat akan pergi selamanya, tidak pernah mau sakit dan meninggal di depan saya, mungkin memang begitu kelakuan kucing peliharaan. Jadi ketika Lulu hilang saat sakit, saya sudah frustasi dan merasa janggal. Susah payah saya buang semua pikiran buruk, karena memang begitu kan, siapapun di dunia tidak ada yang bisa mengira-ngira tentang kematian. Maka setiap hari saya menyemangati (atau mungkin membebani) Lulu dengan berkata, “Lulu, ayo cepet sembuh,” “Lulu, kamu harus sembuh,” “Lulu, ayo dong sembuh, Lulu kan janji ga akan ninggalin teteh sebelum teteh nikah,” “Lulu, sembuh dong, inget ya, Lulu ga boleh ninggalin teteh,” “Luluuu, sembuh, kalo Lulu ga ada, teteh sama siapaaa,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya. Sampai akhirnya, malam kemarin, entah kenapa, saya ungkapkan semua yang menurut saya harus saya sampaikan ke Lulu, hal-hal yang saya ingin Lulu dengar. Bukan lagi kalimat memintanya untuk sehat, tapi kalimat-kalimat terima kasih, maaf, dan sayang. Lulu harus mendengar betapa saya berterima kasih atas keberadaan dan segala yang dia lakukan dalam hidup saya, Lulu harus mendengar betapa saya menyesal atas segala kelalaian saya dalam merawatnya selama sembilan tahun ini, Lulu harus mendengar betapa saya sangat menyayanginya, betapa dia sangat berharga dalam hidup saya. Dan entah kenapa saat itu saya juga berkata, “Lulu, kalau emang Lulu mau pergi, jangan terlalu sakit ya (sakaratul mautnya).” Sambil mendengar semuanya, Lulu sedikit-sedikit mengibaskan ekornya dengan lemah, membuat suara dengkuran pelan yang membuat hati nyaman, hal yang pastinya dilakukan Lulu dengan sisa tenaganya dan susah payah. Saya yang sudah bergelimang air mata lalu meninggalkan Lulu sebentar untuk mengambil tisu. Ketika kembali, Lulu saya dapati sudah hilang. Saya yang mengira Lulu kabur ke gudang atas lagi lalu marah, “Lulu, kamu jahat, makan ga mau, tapi bisa kabur ke atas.” Begitulah, saya merasa ditinggal olehnya. Karena begadang, saya tidur setelah subuh, tidur begitu saja tanpa tahu, Lulu tersayang sebenarnya sedang tidur tepat di bawah saya, di kolong tempat tidur. Entahlah, Lulu semacam tidak mau dilihat bagaimana dia meninggal tapi ingin ada di dekat saya. Kalau saja saya tau sebelumnya kalau Lulu tidur di bawah saya, saya mungkin akan mengangkatnya dan membuatnya tidur di samping saya, dan saya tidak perlu memanggil-manggilnya untuk turun dari gudang sambil memarahinya. Saya terbangun saat masih pagi karena mendengar sesuatu di bawah kasur, setelah memanggil-manggil, “Lulu? Lulu?” dan tidak ada reaksi lagi, saya yang setengah sadar pun tidur lagi, yep, tolol. Terbangun lagi agak siang, karena mendengar nafas tersengal di bawah kasur, langsung benar-benar bangun dan berdiri kali ini. “Lulu? Lulu?” tidak ada reaksi lagi, tapi saya yakin Lulu ada di sana. Langsung saja saya bongkar tempat tidur itu, agak lama, karena kasurnya besar dan tipikal spring bed lama, berat, belum lagi kamar yang sempit oleh barang-barang membuatnya susah untuk bergerak. Setelah lama berkutat dengan kasur, akhirnya saya melihat gumpalan bulu putih abu itu, tergeletak di bawah sana, saya raba flesh pad-nya yang lembut, dingin, Lulu sudah pergi, selama-lamanya. Saya terus terpaku di sana sampai akhirnya kakak laki-laki saya datang, menghampiri, memeluk dan menenangkan saya, membantu saya menerima kepergiannya. Iya, Lulu sudah pergi, apa lagi yang kita bisa lalukan selain menerima.

Selamat jalan Lulu, terima kasih untuk segalanya, teteh sayang Lulu, selalu.

Wednesday, March 14, 2012

Sehari Menjadi Pejuang Negeri

Sabtu, 10 Maret 2012 merupakan Yaumul Mizan bagi saya, hari dimana saya akan ditimbang. Ditimbang amal? Memangnya sudah siap? Oh bukan, bukan dengan timbangan amal, tapi dengan timbangan PMI Unit Kota Bandung untuk kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan darah dan akhirnya diputuskan boleh mendonor darah atau tidak. Menegangkan kah? Ya, bagi saya ini sama menegangkannya seperti ketika akan menjalani operasi caesar demi melahirkan anak. Memang sudah pernah operasi caesar? Belum sih, tapi sama, sama-sama ‘akan’ menegangkan, dan sama-sama belum pernah saya lakukan, hahaa. YAP! Jika lolos segala pemeriksaan, maka hari ini adalah kali pertama saya menjalani donor darah. Mengapa menganggap bahwa donor darah akan menegangkan? Karena sebelum ini saya pernah juga menjadi ‘calon’ pendonor darah, dan entah mengapa saya begitu tegang saat itu, antara takut melihat darah, atau jangan-jangan memang berhati ciut (tak apalah berhati ciut, yang penting wajahnya imut :3). Walaupun akhirnya tidak jadi mendonorkan darah karena tekanan darah tidak mencapai standard (tak apalah tekanan darah rendah, yang penting tinggi badan diatas rata-rata :3), saya jadi menyadari satu hal, bahwa saya memang takut melihat darah yang keluar dari anggota tubuh. Membayangkannya saja membuat ngilu, mungkin sama seperti orang-orang yang tidak tahan mendengar suara alumunium yang bergesekan, begitu juga saya ketika melihat darah yang keluar dari anggota tubuh, ngilu, geli-geli mematikan, hiii. Lalu, mengapa hari ini ingin mencoba donor darah lagi? Mm, entahlah, ada dorongan yang besar untuk melakukan donor darah, semacam mengambil kesempatan untuk menjadi pahlawan bangsa dengan cara yang mudah, tanpa perlu meruncingkan bambu dan menusuk-nusukkannya kepada penjajah, tanpa perlu menjahit pakaian dalam merah membara dan mengenakannya di luar celana biru ketat, tanpa perlu menumbuhkan kumis-jambang lalu terbang-terbang dengan selendang, ya, mudah, dan hmmm, berhadiah! Slllrrrp! Menurut saya—selagi mampu dan berkesempatan—justru yang tidak mau menjadi pahlawan dengan mudah dan berhadiah itu yang aneh. Iya kan?

Langsung saja, saya yang cantik jelita ini benar-benar sudah siap menjadi Gatot Kaca wanita hari ini (tanpa kumis, jambang, dan rambut keriting di betis tentu saja). Dengan gerakan pasti dan dandanan trendy, saya starter motor hitam saya untuk dikendarai menuju Aston Primera Pasteur Hotel, tempat berlangsungnya acara donor darah (oke, ternyata tanpa terbang dengan selendang juga). Karena hanya sarapan dengan teh manis dan beberapa camilan, juga tak sempat makan siang, maka saya membawa bekal berupa onde-onde isi kacang hijau untuk dimakan sambil menyetir motor. Dan ketahuilah, menyetir motor sambil makan onde-onde kacang hijau besar bukanlah perkara mudah, hanya pengendara motor mahir sekelas saya saja yang boleh melakukannya, kamu yang membaca? Ah, sebaiknya jangan.... Sambil sibuk mengunyah dan menjaga keseimbangan motor, saya menyadari satu hal, bahwa jarum yang menunjukkan isi bahan bakar sudah berada di garis merah. Khawatir bahan bakar tidak cukup sampai tujuan sambil membayangkan saya yang seksi mendorong-dorong motor ke Pasteur dengan bersimbah keringat yang mana hanya akan membuat orang-orang semakin terpikat membuat saya membelokkan motor ke SPBU terdekat. Masuklah saya ke jalur pengantri Pertamax, yang lalu disambut hangat dengan peringatan seorang petugas yang lantang berkata, “Premium antrinya sebelah sini!” Sambutan yang saaangat hangat, kelewat hangat sampai-sampai diterima otak saya sebagai perilaku sinis dan melecehkan. Huh, saya mau beli Pertamax Mas, gini-gini saya termasuk yang mendukung program pemerintah untuk tidak menerima subsidi jika mampu, yang sebenarnya adalah doa supaya saya tak pernah ada dalam golongan tidak mampu. Yang mana juga merupakan pengejawantahan ego yang dipopulerkan Sule OVJ: biar miskin yang penting sombong. Yap, sebenarnya setiap saya ke SPBU ini dan petugasnya mendapati saya yang terlihat kere ini antri di jalur Pertamax, mereka selalu bertanya, “Pertamax?” tapi selalu dengan lembut dan senyum, dan sepertinya memang seperti itulah prosedurnya. Tapi kali ini? Hiiih.... Maka saya pun dengan tegas menjawab, “Pertamax,” yang disambut dengan “Oh,” oleh petugas tadi. Demi menjunjung tinggi prinsip ‘biar miskin yang penting sombong,’ saya yang biasanya hanya membeli Pertamax seharga sepuluh ribu jadi tak segan-segan mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu bergambar pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata yang punya tahi lalat di alis kiri (perhatian ya saya? Hehee, kalo nggak percaya cek aja sendiri). Bahan bakar sudah terisi, Otto Iskandar Dinata sudah berpindah tangan, mari berangkaaat. Ah tunggu, sebelum berangkat, mari periksa dandanan, apakah kerudung masih rapi? Apakah wajah masih.... Oh tidak, siapakah gerangan wanita yang terlihat di kaca spion ini? Kumuh sekali, sekitar mulutnya... sekitar mulutnya... celemongan oleh isi onde-onde yang dimakan saat menyetir tadi, ngaaaaa, pantes aja mas-mas SPBU ini tidak menyangka bahwa saya hendak membeli bahan bakar yang sedikit lebih mahal. Diam-diam saya meminta maaf pada mas-mas SPBU itu dalam hati, “maaf ya mas, saya sempat kesal sekali padamu. Dimaafin kan mas? Iya kan? Nah, kembaliin dong uang pak Otto saya....” Eaaaaa.... (Oh iya, tulisan ini saya buat tidak dengan maksud membeda-bedakan penampilan pembeli Pertamax dan bukan pembeli Pertamax ya, maaf jika ternyata ada yang tersinggung :) )

Sampai! Sampai mana? Sampai Aston Primera Pasteur Hotel tentu saja. Wuih, jantung saya berdetak semakin kencang, tegang jenderal! Saya balik lagi aja ya, Jen! Kayaknya saya nggak kuat deh Jen! Saya kan baru makan sedikit! Duh Jen, nanti kalo saya lemes gimana Jen? Tapi Pak Jejen di dalam hati kecil saya menjawab, “jangan Nisa, kamu sudah setengah jalan menjadi pejuang, mari teruskan.” Begitulah, pergolakan antara si pengecut dan Pak Jejen dalam hati saya dimenangkan oleh Pak Jejen, mungkin Jejen Jumawa kepanjangannya, atau juga Jejen Jeniper Jaelaini, ah tak penting lah. Jangan coba-coba mengulur waktu lagi dengan memikirkan nama panjang pak Jejen Nisa, ayo masuki ballroom hotel, segera. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, bunyi langkah kaki saya, apakah saya mengenakan sepatu kuda? Oh tidak, hari ini saya mengenakan wedges tali warna coklat nan seksi, supaya keliatan pantes aja sih buat masuk hotel, hahaa, tibalah saya di meja daftar ulang. Selesai mengkonfirmasi kedatangan, saya diberikan ini:


Apa sajakah yang diberikan? Sebuah kertas dari PMI untuk diisi, yang berhubungan dengan riwayat calon pendonor, sebuah angket dari Kompas—selaku penggagas acara—yang kemudian bisa ditukar dengan sticker imut warna biru yang bertuliskan, 'Kompas,' ya iyalah, apalagi coba, masa iya sticker bertuliskan, ‘Hari gini masih oper gigi?’ Lalu ada voucher berlangganan Kompas sebesar lima puluh ribu rupiah, dan terakhir, koran. Mengapa koran? Karena koran bisa dibaca-baca saat bosan menunggu antrian donor, dan bagi saya, bisa untuk dikunyah-kunyah saat tak kuat menahan tegang. Masuklah saya ke tempat donor, sudah lumayan sepi rupanya, saya memang datang di siang hari saat itu, langsung saja antri untuk diperiksa. Timbangan, tentu saja lolos. Akhir-akhir ini saya bulat, bergelambir, dan dapat menggelinding di jalanan beraspal. Lalu tes golongan darah dan Hb, untuk itu, ujung jari saya ditusuk manja, cus, lalu darah yang keluar diambil dengan pipa kecil. “Golongan darahnya B,” itu kata petugasnya, yang lalu saya jawab manis, “iya,” yang mana sebenarnya saya jawab dalam hati dengan, “tadi juga kan udah saya bilang golongan darah saya B, nggak percaya, huh.” Setelah itu, sisa darah dalam pipa beliau kepret-kan ke dalam gelas ukur berisi larutan warna biru. “Hb-nya bagus, silakan diperiksa tekanan darah, “entah mengapa, hati saya mencelos saat pertama mencerna kalimat tadi, itu artinya saya mungkin bisa mendonor darah, itu artinya lengan saya akan ditusuk dan dikeluarkan darahnya. Sebelum otak saya mulai memainkan adegan keji seorang wanita yang ditusuk-tusuk bambu lalu memuncrat-muncratkan darah, saya langsung berjalan saja ke meja yang satunya lagi, meja pemeriksaan tekanan darah. Setelah memeriksakan darah saya, ibu pemeriksa tensi darah ini tak berkata apa-apa kecuali menuliskan data-data saya ke dalam kartu donor berwarna biru (untuk golongan darah B berwarna biru), diberi tanggal pada baris pertama, dan, tok, diberi stempel. Begini bentuk kartu itu:

kartu donor

OMG! Artinya saya lolos pemeriksaan tekanan darah juga. Dug dug dug, seketika jantung saya berkejaran, apakah berkejaran di taman berumput dengan seorang pemuda yang pandai bernyanyi dan menari? Bukan, aduuuh, ini sungguh menegangkan, Jen! Lapor Jen, saya tegaaang! Jen? Pak Jejen? Kemana kamu saat dibutuhkan? Pak Jejen yang bijak dalam hati saya saja sudah tak mampu berkata-kata, namun sayang, pintu keluar ruangan donor hanya satu dan dijaga oleh petugas, huwoooh. Tak ada pilihan lain, dengan ucapan bismillah, saya berbaring di kasur PMI, tidak empuk, tak apalah, bukankah seorang terpidana tak membutuhkan tali emas saat digantung mati? Tapi heeei, kamu bukan terpidana Nisa, kamu pejuangnya, kamu pahlawannya, dan ini medan perangmu. Cihuy! Semangatku kembali terpompa. Saya pejuang di sini!

Berbaringlah saya di kasur itu, sambil mengingat Tuhan dan mengingat mati. Saya pun jadi teringat dia yang tersayang, maka, sebelum akhirnya saya ditusuk-sedot-kuras (jadi semacam tagline penyedot WC ya? Hahaa...), saya pun menyempatkan diri menulis pesan singkat kepadanya, begini kira-kira: 

Sayang, aku kan pergi tuk berjuang. 
Jika terjadi apa-apa, 
tolong jaga cinta dan anak-anak kita, 
sekolahkan hingga S2. 
Satu lagi yang kupinta, 
jangan pernah berpikir untuk mencari pengganti, 
atau aku akan datang lagi dalam bentuk setan seksi. 

Haru saat itu, tapi... bohooong, pesan semacam itu tak pernah benar-benar saya kirim, ahahaa, yang benar saja. Yang jelas, di tepian harapan dan pulsa yang tinggal sedikit lagi itu saya memang meminta penguatan diri dan ditemani :).

“Baru pertama kali donor ya?” kata petugas yang akan mengeksekusi. “Iya,” kataku sambil menahan gemetar. Gemetar karena begitu takut? Bukan, dingin, Jenderal, hotel ini memasang pendingin ruangan berkekuatan Putri Kipas kakak ipar Sun Go Kong saya rasa. “Pantesan masih lembut, pembuluh darahnya masih jauh di dalam,“ lanjutnya. Sungguh bang, kalimatmu yang satu ini sama sekali bukan kalimat menenangkan, saya jadi membayangkan adegan si abang menusukkan jarum di lengan kiri saya, lalu dengan riang berkata, ‘ah, nggak kena!’ lalu dicabut lagi, dimasukkan lagi, lalu berpindah ke tangan kanan, dicabut lagi, dimasukkan lagi, begitu terus sampai imsak. Abang-abang itu kemudian melakukan prosedur pengambilan darah; membelit tangan saya dengan tensimeter, lalu menggerak-gerakkan lengan bawah saya turun naik berkali-kali, kalau tangan saya saat itu sedang memegang barbel kecil, mungkin saya akan terlihat seperti Agung Hercules dari kejauhan. Huh hah huh hah. Beberapa saat kemudian, si abang berkata, “tarik nafas yang dalam...,” belum sempat saya menarik nafas dengan benar, lengan saya terasa di... Haduuu, udah ditusuk aja lengan saya. Tapi ternyata tidak sakit sama sekali. Wahai orang-orang yang belum mau didonor darah karena khawatir akan sakit, ditusuk jarum itu sama sekali tidak sakit! Dan satu lagi, rumor yang mengatakan bahwa donor darah itu menggunakan jarum berdiameter setara ballpoint, itu bohong! Yap, memang tidak sakit, tapi... oh, tangan saya kesemutan, mati rasa ringan. Saya memang sadar, bahwa kesemutan ini berarti tangan saya kurang asupan darah, dan juga karena lengan atas saya terbelit kencang. Tapi, namanya juga panik, yang ada di pikiran saya saat itu adalah, bagaimana jika aliran darah ke ujung-ujung jari benar-benar terhenti, sel-selnya mati, lalu akhirnya harus diamputasi seperti penderita hipotermia yang berada di badai salju berhari-hari. Saya pun berkata dengan panik, “A, ini emang harus mati rasa ya tangannya?” Dengan sabar, abang-abang tadi memberi pengertian dan menyarankan agar saya menggerak-gerakkan jari-jari saya. Memang bakat jadi istri penurut, saya pun menuruti perintah abang-abang tadi, dan, ya, tangan saya sudah tak terlalu kesemutan lagi.

Proses pendonoran darah saya berlangsung cukup lama, daripada tenggelam dalam ketegangan mendalam, saya pun mengalihkan perhatian dengan mengabadikan diri, lagipula, melihat wajah saya adalah kesenangan tersendiri bagi saya, hahaa...

tetap manis meski sedang mendonorkan darah

Tiga puluh menit, kira-kira selama itulah proses pendonoran darah saya, terbilang lama, karena sempat macet darahnya (dan sempat membuat saya sangat panik). Setelah selesai mendonor dan diplester, lalu, aha, inilah yang saya tunggu-tunggu, pembagian souvenir, muihihii :3 Inilah yang saya dapatkan setelah mendonor darah di sana:

dua buah goodie bag, Kompas dan J&C

Apa saja isinya? Tentu saja macam-macam, ini isinya:


Yap, itulah isi dari dua buah goodie bag tadi, dan jika dikelompokkan berdasarkan golongan fungsi, isi goodie bag tersebut adalah:

1. bacaan

Yap, golongan pertama adalah bacaan, dalam hal ini berupa tabloid, yang mana fungsinya adalah memberi informasi dan juga dapat dibaca ketika senggang.

2. makanan

Yang kedua adalah golongan makanan, golongan yang paling saya nikmati dan syukuri. Fungsinya? Ya untuk dimakan, diminum, atau jika merupakan pemamah biak, bisa untuk dikunyah-telan-lepeh-kunyah lagi-telan lagi, yiks.

3. voucher XXI

Yang ketiga adalah voucher XXI, golongan yang juga sangat saya syukuri keberadaannya di dalam goodie bag, tentu saja untuk bisa menonton gratis/separuh harga di 21 dan XXI manapun, cihuy!

4. obat-obatan

Yang keempat adalah obat-obatan, lumayan juga, bisa dicoba saat sakit dan kebetulan tak ada obat di rumah. Alhamdulillah.

5. tisu saku

Golongan kelima berupa tisu, tisu saku, bentuknya praktis, aerodinamis, dan bisa dibawa kemana-mana. Fungsinya? Hmm..., aha! Bisa dibakar untuk kemudian menghipnotis siapapun yang duduk di sebelah kita.

6. brosur

Yang keenam adalah golongan brosur, ya, ada berbagai brosur yang dimasukkan di dalam kedua goodie bag yang ada. Dan ini, ini yang paling saya tak mengerti fungsinya apa, karena selama 23 tahun saya hidup berumah tangga, tak pernah sekalipun saya menjadikan brosur sebagai camilan di saat senggang.

Puas mengamati isi goodie bag yang saya terima, saya pun masuk ke ruangan di sebelahnya, ruang di mana hiburan bagi pendonor berlangsung. Yang sedang tampil di panggung adalah Fun-tastic String Ensemble, keren sekali mereka, saat sedang diambil darahnya tadi pun saya bisa mendengar mereka beraksi, memainkan lagu ‘Nobody-Wonder Girls’ yang begitu Pop dengan gaya mereka yang hampir orkestra, wuw! Saya pun jadi tak ragu untuk duduk di ruang itu, menikmati musik yang dimainkan mereka.

Fun-tastic String Ensemble di atas panggung

Di akhir pertunjukan, saya sama sekali tak menyangka, mereka membawakan lagu nasional 'Tanah Air', leader-nya meminta kami semua berdiri dan menyanyi bersama. Menurutmu, kami akan bagaimana? Yap, kami semua serentak berdiri, tua, muda, Sunda, China, semuanya, kami semua menyanyikan lagu yang sama, Tanah Air.


Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh, tidakkan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai. Walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku rasa senang, tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan.

Benar-benar terharu saya saat itu, dan percaya atau tidak, saya sempat menitikkan air mata, ya, kami semua yang berdiri di sini, sedang menunjukkan cinta yang nyata, untuk Indonesia. 

Acara diambil alih kembali oleh MC, saatnya games sekarang, dan oh, saya yang sedang duduk-duduk sambil mengamati kembali isi goodie bag, tiba-tiba dipanggil ke depan oleh MC wanita, “teteh kerudung kuning, meuni geulis, ayo ke atas panggung teh.” Dengar itu Indonesia! Dengar, ternyata pesona catikku tak hanya diterima oleh kaum Adam saja, tapi juga kaum Hawa, dan kaum diantara keduanya, cihuy! Saya pun naik ke panggung bersama empat orang lainnya yang juga dijadikan tumbal demi serunya acara sore itu. Coba, coba tebak, apa yang harus saya lakukan di atas panggung itu? Ngesot sodara! Ngesot dari ujung panggung lalu minum susu kotak yang sudah disiapkan diujung panggung yang satunya lagi. Hoh, seketika saya berpikir bahwa orang-orang yang berada di ruangan ini adalah orang paling beruntung se-Bandung Barat Daya, bayangkan saja, mereka bisa melihat secara langsung bagaimana seorang Zooey Deschanel mengesot dengan gemulai, kapan lagi coba?

MC yang sedang menyiapkan susu kotak untuk diminum oleh kami =="

Satelah berhasil menyelesaikan permainan, saya pun mendapatkan ini:

voucher XXI (lagi)

Sebuah voucher XXI lagi, hooray! Aku jadi punya dua voucher, kini aku bisa mengajak serta dia yang tersayang, handai taulan, ataupun tetangga dekat untuk menonton bersama. Atau bisa jadi, jika dua voucher XXI yang saya punya ini digabungkan, maka akan bisa ditukarkan dengan BLT dan raskin, ahiy! *duh, bisa jadi memang beginilah gambaran rakyat saat ini, perpayah-payah mengesot dahulu, baru mendapat bantuan kemudian, jangan sampai...

Setelah itu, acara memasuki puncaknya, yaitu... tamtararamtamtaaam... penarikan pemenang doorprize utama, berupa kulkas Electrolux. Pemenang pun didapatkan.


Dan coba tebak, apa yang terjadi pada seluruh peserta setelah penarikan doorprize ini? Ngabuuur, hahaa, hampir serentak seluruh peserta keluar dari ruangan saat pemenang kulkas naik ke atas panggung, ahahaa, kentara sekali ya, bahwa yang menahan mereka di sana adalah hadiah doorprize utama. Tapi, make sense juga sih, toh acara sudah benar-benar selesai, terus untuk apa lagi peserta tinggal di tempat? Bantu petugas bersih-bersih gelas? Bantu lepasin back drop? Bantu MC cewek bersihin dandanan? 

Bagaimana dengan saya? Saya juga hendak pulang tentu saja, tapi... kepala saya tiba-tiba pusing, pusing berat. Saya harus bagaimana? Ah, saya tetap pulang saja. Kenapa? Coba deh bayangin, saya duduk sebentar aja tiba-tiba disuruh naik ke atas panggung dan ngesot, gimana kalo saya duduk lama-lama di sini? Mungkin akan disuruh naik ke atas panggung dan salto-salto sampai tempat parkir, hih, ogah. 

Pulang aja nih? Iya pulang. Maka berkendaralah saya, terus, lurus, tanpa banyak berpikir, yang malah membuat saya... MARMUT! NGAPAIN SAYA NAIK FLY OVER? Iya, karena begitu minimnya kemampuan berpikir otak saya saat itu, saya salah jalan, saya jadi naik jembatan Pasopati. Ihik, semakin jauh saja jalan saya menuju pulang, dan pusing-pusing mau pingsan ini masih menyerang. Sisa kecerdasan saya mengatakan bahwa saya harus berhenti di suatu tempat makan, beristirahat dan makan di sana, sampai pusing ini berkurang. Maka saya pun turun fly over di Taman Sari, lurus sedikit ke Taman Cikapayang dan belok kiri menuju Dago, yang terpikir oleh saya saat itu adalah food court Imam Bonjol. Huuuh, untung saya selamat sampai tujuan, langsung saya duduk di sana, dan memesan lomie. Lomie seolah menjadi asupan penyelamat bagi saya saat itu, ya, setelah makan lomie, mata saya menjadi cerah kembali, pusing di kepala saya tak terlalu mengganggu lagi. Berikut saya sertakan foto saya, sebelum dan sesudah makan lomie:

foto saya sebelum dan sesudah makan lomie

Setelah merasa cukup dan siap untuk melanjutkan perjalanan, saya pun pulang dan mengendarai lagi si motor hitam kesayangan. Di tengah jalan, ternyata pusing mendera lagi, tapi sampai juga akhirnya saya di rumah, alhamdulillah. Karena merasa sangat lemas, setelah sholat saya pun langsung tidur, tidur lamaaa sekali. Sebelum tidur saya berjanji, akan donor darah lagi di kemudian hari.

P.s.: Setelah donor darah, nafsu makan saya jadi barbar. Yang tadinya saya cukup kenyang dengan porsi sarapan princess, yaitu sepotong gehu dan bala-bala (yeah, there's a thin line between princess and 'kere', hahaa...), namun sampai beberapa hari setelahnya, saya jadi cepat lapar, sarapan pun harus dengan bubur-ayam-plus-hati-ayam-plus-telor-ayam-rebus. Tapi tak apa, bukankan kita harus bangga telah menjadi pejuang? :)

Sampai jumpa di-posting-an berikutnya! :D

Wednesday, March 7, 2012

Andai Aku Kucing



Lihat kucing itu, berguling, berlari, menggaruk, mengeong. Mm, tapi kamu tidak senyum, mana senyummu hai kucing? Ah, tak senyum pun kamu pasti bahagia kan? Andai aku kucing, walau tak bisa senyum, aku selalu bahagia. Tanpa harus memalsukan senyum, semesta tahu aku bahagia.

Lihat kucing itu, menjilat rambut dengan tekun, sesekali digigit-gigitnya sejumput rambut dengan gemas, hihii, ada kutu rupanya. Andai aku kucing, satu-satunya masalah serius yang pernah melintas di pikiranku hanyalah cara menumpas kutu yang bersembunyi di bagian tengkukku. Jika majikanku perhatian dan rajin, maka masalah yang ada hanya bagaimana agar selalu makan enak tanpa kegendutan dan susah berjalan, ah, mungkin juga hal ini tak jadi pikiranku, mungkin aku terlalu bahagia untuk berpikir.

Lihat kucing itu, mendengkur di pangkuan seorang gadis kecil, nyaman sekali tidurnya. Andai aku kucing, tak perlu aku risau akan hidupku esok hari, gadis kecil ini akan datang setiap hari, memberi makan, memberi seperempat gelas susu yang tak dia habiskan saat sarapan, mengelus dagu, dan sesekali menggelitik perutku. Ah, satu lagi favoritku, jika dia tak dijemput pulang ibunya yang menyuruh belajar, akan ada waktu untukku tidur di pangkuannya yang hangat.

Andai aku kucing, aku akan berguling, berlari, menggaruk, dan mengeong. Berjalan menyusuri jalanan berumput, lalu berguling di tumpukan pasir, menggaruk tumpukan sampah ketika lapar, dan..., oh, mana makananku? Bukankah biasanya tempat sampah di warung makan ini menyediakan banyak tulang ikan untukku, sekarang mana? Ah, aku mengeong saja! Hai kamu yang manusia, tahukah bahwa eongan ini berarti aku lapar? Ah iya, aku kucing..., membahasakan maksudku saja aku tak mampu. Bekerja? Mana mungkin, keterampilan yang aku miliki adalah melompati atap dan pagar, bukan mencuci piring di rumah makan ini demi mendapatkan sisa tongkol. Lalu bagaimana? Tidur saja, berharap tidak mati, dan kembali lagi esok hari.

Andai aku kucing, aku hanya akan sibuk menjilat rambut, dan jika beruntung, kraus, tergigit kutu yang melintas di punggungku, senangnyaaa. Tapi menggigit kutu tak akan membuatku kenyang kan? AHA! Majikan! Tunggu, aku tak cukup lucu untuk punya majikan yang mencukupi kebutuhan makanku, apalagi menjaga lembut rambutku. Oh iya, ada ibu! Umurku baru satu, bolehlah kuminta makan pada ibu. Itu ibu! Ya, itu ibu, ibu yang sibuk mengurusi adikku, aku hanya akan diusirnya jika mendekat, disangka akan mengganggu adikku. Bukan adik sebenarnya, tapi adik-adik, ya, adikku kembar lima, diizinkan mendekat pun ibu tak akan lagi mengenalku, anaknya terlalu banyak.

Andai aku kucing, aku akan mendengkur sepanjang hari, tak usah pikirkan esok. Pekerjaan rumah, tugas kuliah, tumpukan pekerjaan, aku tak punya, mari bersiap tidur, satu, dua, tiga, tarik selimutnyaaa. Eh, aku kan kucing, jangankan selimut di malam yang dingin, hari hujan pun aku akan tetap tidur di sini, tanah yang basah dan berbau lumpur. Tak apa, tak apa, aku sudah makan dan hari tidak hujan, sepoi angin ini akan mengantarku jauh terlelap. Nyem, nyem, mungkin ini yang namanya mimpi, ada suara anak kecil di sini, pastilah gadis kecil itu, sudah dua hari dia tak menghampiri. Ah, mungkin ini bukan mimpi, karena suaranya semakin dekat, tunggu saja, sebentar lagi dia akan mengelus lembut punggungku. Nah, sudah mulai disentuhnya aku, nyamaan, EH, apa ini, bukan, bukan begini cara mengangkat tubuhku, bukan dengan menggenggam ekorku, sakit, dan lagi, ini bukan gadis manis itu, siapa kamu? Uh, sulit sekali mencakarmu. Lagi-lagi aku mengeong, keras kali ini, mungkin akan ada yang membantuku, kulihat ada sekumpulan anak lain di sana, mungkin mereka akan membelaku, mereka datang, syukurlah, mereka sudah dekat, dan kini.. menertawakanku. Ada gunting di tangan salah satu yang memakai baju biru, kres kres kres, renyah sekali suara kumisku dicukurnya. Aku gigit saja tangannya, kucakar kuat lengannya, tapi, ugh, aku malah ditendang yang berbaju ungu, tapi tak apa, sudah cukup puas aku melihat luka gores di lengannya, semoga menjadi pengingat untuk tak lagi mengganggu sesamaku. Aku bebas sekarang, aku tidur lagi saja. Di sini? Tidak, lebih baik mencari tempat berteduh lain yang lebih aman, di teras rumah seorang nenek di seberang lorong itu saja, ayo jalan. Ah, mengapa jalanku sedikit limbung, mm, mungkin hanya perasaanku saja, toh setelah menyusur lorong, aku bisa tidur damai, hup... mm, duh, apakah tersangkut di lorong juga hanya perasaanku saja? Tidak, ini bukan hanya sekedar perasaan, aku kesulitan menerka ruang, betul juga, kumisku sudah tak ada.

Andai aku kucing.. Ah tidak, aku bahagia jadi manusia, bersyukur atas apa yang aku punya, bersyukur atas apa yang aku bisa lakukan.