The Chronicles of Nyanyaa

THE CHRONICLES OF NYANYAA
Ini Kisah Nyata - Ini Kisah Nyanyaa

Wednesday, January 16, 2013

Tutorial Berkerudung Untuk Pemula

Assalamualaikum, salam sejahtera dan salam hangat-hangat kuku dari saya.
Pada blog post kali ini, saya akan menunjukkan langkah demi langkah pemakaian kerudung 'Neno Warisman' yang saya kenakan untuk profile picture facebook saya baru-baru ini:
yap, yap, yang ini.
Iyaa..., yang itu.
Udah dong ah, jangan diliatin terus gitu :3


Oke, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah:
1. Memakai ciput ninja.
Ciput ninja itu yang kayak gimana?
Itu loh kayak yang saya pake di atas, yang warnanya biru.
Ciput ninjanya yang biasa-biasa aja ya, ga usah yang ada tambahan bulatan di belakang/atas kepala. Soalnya, nanti mirip punuk onta, nah, dari yang saya baca, berjilbab yang mirip punuk onta atau camel-hump-hijab, menurut hadist ga dibolehin :) *belajar sedikit-sedikit, hihii


Oke, lanjut ke langkah kedua.
Eh, apa? Ada yang ga punya ciput ninja?
Mm, beli dulu gih ke Pasar Baru.
Eh, males?
Oke, kamu punya ayah, bapak kos, atau saudara laki-laki? Sip.
Kalau begitu, di tempat tinggal kamu pasti ada ini:
Yap, sarung.
Sarung bisa kita jadikan alternatif cerdas pengganti ciput ninja, seperti yang anak-anak generasi 90-an lakukan saat ninja turtles sedang berjaya, inget kan? Lingkarkan ujung bukaan sarung di atas hidung, ikatkan di belakang kepala. Buka ujung bukaan sarung yang satunya lagi, satu ditarik menuju pucuk kepala, satu lagi ditarik ke bawah, sreeet...
VOILA!
Pinter kan, kan, kan? B-)
Apa? Jelek? Ya iya sih, siapa suruh males ke Pasar Baru :/


Oke, kita lanjutin aja, yang belum punya ciput ninja, nanti nyusul ya....
Nah, yang lain, yang udah pada dipake ciput ninjanya..
Eh, eh, lagi pada ngapain itu?
Aaak, nooo, oh, nooo..
There's no need to put spiral-like-blush on your cheeks like the way Ninja Hattori does, haduuuh, hapus, hapus, ngewa ah..


Lanjut ya, serius nih ah....
Setelah ciput ninja, ada satu lagi yang penting kita punya dalam berkerudung ala-ala Nisa Warisman ini, yaitu:
Shawl bahan kaos.
Ga punya juga? Atuhlah..., jadi kamu punyanya apa? Cinta? Cinta mah ga bisa dikumpulin terus dituker sama bimoli pouch di indomaret terdekat kayak kupon belanja.
Kalo shawl bahan chiffon punya ga?
Ga punya juga?
Sok atuh beli dulu di temen saya ya, di Permata Hijab Store.


Oke, sudah siap dengan step selanjutnya? Sip.
Langkah kedua adalah:
2. Kenakan shawl-nya di kepala.
Kepala? Kepala siapa?
Ya kamu, masa iya Obama.


3. Atur supaya bagian kanan lebih panjang dari bagian kiri.
Atau kalau kamu kidal dan lebih gampang melakukan sebaliknya, lakukanlah sebaliknya.
Atau kalau kamu begitu mencintai keseimbangan dan keadilan, buatlah yang kanan sama dengan yang kiri, lalu, klik-lah tanda silang di pojok kanan atas, selamat tinggal.... Ngeyel sih :/


4. Angkat bagian yang lebih pendek (dalam gambar, yang kiri), lalu selusup-kan bagian yang lebih panjang ke bawahnya.
Pinter...


5. Angkat bagian yang panjang tadi untuk melingkari lagi kepalamu.
Jadi, akan ada dua lapis shawl di atas kepala.
Mau tiga lapis? Boleh...
Mau tujuh lapis soalnya takut masuk angin? Boleh, tiap lapis beda warna ya sekalian, atasnya kasih cream cheese sama almond nougat.


Masuk ke langkah yang paling asik.
6. Rapikan


6. Rapikan


6. Rapikan
Mm, oke, stop, muka sih ya gitu aja, ga usah dirapi-in, nggak ngaruh.


Lanjuuut.
Uuuh, agak susah nih bagian ini. 
Bukan, bukan lagi mites anak-anak kutu.
Itu lagi melakukan langkah selanjutnya:
7. Sematkan jarum pentul di atas kepala.
Tujuannya?
Supaya kerudungnya menempel kokoh di kepala, seperti holcim membangun rumah anda.
Jadi mesti ditusuk gitu jarumnya ke ubun-ubunan?
Ya nggak laaah..., unless you're sundel-bolong-like-creature yang kalo ubun-ubunnya ga ada pakunya bakal bisa terbang nembus tembok, JA-NGAN.
Boleh pake jarum-jarum lain selain jarum pentul? Yang lucu-lucu gitu loh..
Boleh, itu mah terserah aja :) Tapi tips aja ini mah, kalo kamu suka pergi-pergi pake motor, mata jarumnya jangan yang gede-gede, nanti keteken helm, sakit, it surely makes you dizzy, iya, jarum pasak tenda juga jangan.




Maka, selesaaai :D


Eh, eh, iya, tunggu dulu.
Kamu masih bisa lebih mempercantik kerudungmu.
Caranya:
 
8. Pelintirlah sisa shawl yang bagian pendek tadi ke samping telingamu, beri pin kembang-kembang lucu di sana.
Eh tapi saya juga kan ga punya pin kembang-kembang lucunya, ah, ya sudahlah....


Maka,
selesai beneran :D


Kini, kamu yang cantik berkerudung sudah siap berkeliling kota dengan delman istimewa.


Akhir kata, salam cinta semuanya, semoga agak-agak bermanfaat, assalamualaikum :)




Sunday, January 13, 2013

Teteh Sayang Lulu, Selalu


Pernah punya kucing yang begitu menggemaskan? Kucing yang sampai-sampai hampir setiap kamu melihatnya, you’ll whisper unwittingly, “you’re the cutest creature I’ve ever seen.” Pernah punya kucing yang membuat kamu merasa paling istimewa? Kucing yang jutek hampir pada setiap orang, tapi begitu manis kepadamu. Pernah punya kucing yang hampir selalu tau saat-saat berat dalam hidup kamu? Kucing yang seolah bisa merasa kesedihanmu, lalu menemanimu sambil memijit lenganmu. Pernah punya kucing yang sangat terganggu melihat kamu menangis? Kucing yang dengan panik mengeong-ngeong seolah memohon padamu untuk berhenti menangis. Pernah punya kucing yang akan mencarimu kemana pun saat mendengar suara tangis palsumu? Kucing yang berlarian ke tempat kamu berada ketika kamu mengeluarkan suara tangis palsu, seolah-olah kamu adalah anaknya yang harus dia rawat. Pernah punya kucing yang dengan mendengar suara dengkurannya akan membuat kamu merasa sangat nyaman? Kucing yang dengan rela perutnya dijadikan bantal nyaman hanya supaya kamu bisa mendengar suara dengkurnya yang lembut. Pernah punya kucing yang tidak pernah mau menggunakan cakarnya kepadamu? Kucing yang ketika diganggu bagaimana pun olehmu hanya akan menggertak dengan mengayunkan cakarnya kepadamu, lalu memasukkan kukunya tepat sebelum mengenai kulitmu. Pernah punya kucing yang membuatmu merasa penting? Kucing yang menggulung-gulung diri di pakaian kotormu ketika kamu tidak ada di rumah, kucing yang hanya mau disuapi makan olehmu ketika sakit. Pernah punya kucing yang bisa memijit lengan dan kaki? Kucing yang memijit dengan hebat, dengan dua kaki belakangnya, bukan dengan kaki depan, jadi pegal-pegal di lenganmu bisa hilang, dan cara memanggilnya untuk memiijit cukup dengan pura-pura menangis, hee.

Saya punya kucing yang seperti itu, ‘pernah’ punya, namany Lulu, dibeli di sebuah cat breeder sembilan tahun lalu dengan sepenuh usaha dan air mata. Saat itu saya masih SMP, uang jajan masih seadanya, demi mengumpulkan uang untuk membeli kucing yang (bagi saya)keterlaluan mahalnya, saya harus benar-benar berhemat, makan makanan bekal dari rumah, atau berlapar-lapar kalau perlu, demi mengadopsi kucing lucu yang kemudian saya namai Lulu (walaupun akhirnya, saya hanya berhasil menyumbangkan 1/6 dari harga Lulu, hee).

Sembilan tahun lalu, saya pernah menangis malam-malam, agak frustasi saat itu, 2 bulan usaha menabung, hanya menghasilkan uang dua ratus ribu lebih sedikit, harga kucing idaman saya saat itu rata-rata 1,2 juta, aduh, there’s still a long long long way to go through. Malam-malam di sembilan tahun setelah itu, yang saya tangisi adalah kucing yang sama, menyuapinya sambil berkata, “kamu harus sembuh Lulu.” Sekarang, drama-drama air mata untuk mendapatkan dan mempertahankan Lulu sudah berakhir, ya, Lulu sudah pergi selama-lamanya dari hidup saya.

Lulu mulai malas makan seminggu yang lalu, berlanjut terus sampai akhirnya dia pergi siang ini. Sakitnya Lulu kali ini beda, rasanya seperti sudah punya firasat bakal ditinggal selamanya. Salah satunya karena Lulu sempat menghilang dua kali selama sakitnya, mengurung diri di gudang atas yang susah dijangkau manusia, cuma bisa diakses dengan membuka genting atap rumah. Entah kenapa, semua kucing yang pernah saya pelihara selalu menghilang tiba-tiba saat akan pergi selamanya, tidak pernah mau sakit dan meninggal di depan saya, mungkin memang begitu kelakuan kucing peliharaan. Jadi ketika Lulu hilang saat sakit, saya sudah frustasi dan merasa janggal. Susah payah saya buang semua pikiran buruk, karena memang begitu kan, siapapun di dunia tidak ada yang bisa mengira-ngira tentang kematian. Maka setiap hari saya menyemangati (atau mungkin membebani) Lulu dengan berkata, “Lulu, ayo cepet sembuh,” “Lulu, kamu harus sembuh,” “Lulu, ayo dong sembuh, Lulu kan janji ga akan ninggalin teteh sebelum teteh nikah,” “Lulu, sembuh dong, inget ya, Lulu ga boleh ninggalin teteh,” “Luluuu, sembuh, kalo Lulu ga ada, teteh sama siapaaa,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya. Sampai akhirnya, malam kemarin, entah kenapa, saya ungkapkan semua yang menurut saya harus saya sampaikan ke Lulu, hal-hal yang saya ingin Lulu dengar. Bukan lagi kalimat memintanya untuk sehat, tapi kalimat-kalimat terima kasih, maaf, dan sayang. Lulu harus mendengar betapa saya berterima kasih atas keberadaan dan segala yang dia lakukan dalam hidup saya, Lulu harus mendengar betapa saya menyesal atas segala kelalaian saya dalam merawatnya selama sembilan tahun ini, Lulu harus mendengar betapa saya sangat menyayanginya, betapa dia sangat berharga dalam hidup saya. Dan entah kenapa saat itu saya juga berkata, “Lulu, kalau emang Lulu mau pergi, jangan terlalu sakit ya (sakaratul mautnya).” Sambil mendengar semuanya, Lulu sedikit-sedikit mengibaskan ekornya dengan lemah, membuat suara dengkuran pelan yang membuat hati nyaman, hal yang pastinya dilakukan Lulu dengan sisa tenaganya dan susah payah. Saya yang sudah bergelimang air mata lalu meninggalkan Lulu sebentar untuk mengambil tisu. Ketika kembali, Lulu saya dapati sudah hilang. Saya yang mengira Lulu kabur ke gudang atas lagi lalu marah, “Lulu, kamu jahat, makan ga mau, tapi bisa kabur ke atas.” Begitulah, saya merasa ditinggal olehnya. Karena begadang, saya tidur setelah subuh, tidur begitu saja tanpa tahu, Lulu tersayang sebenarnya sedang tidur tepat di bawah saya, di kolong tempat tidur. Entahlah, Lulu semacam tidak mau dilihat bagaimana dia meninggal tapi ingin ada di dekat saya. Kalau saja saya tau sebelumnya kalau Lulu tidur di bawah saya, saya mungkin akan mengangkatnya dan membuatnya tidur di samping saya, dan saya tidak perlu memanggil-manggilnya untuk turun dari gudang sambil memarahinya. Saya terbangun saat masih pagi karena mendengar sesuatu di bawah kasur, setelah memanggil-manggil, “Lulu? Lulu?” dan tidak ada reaksi lagi, saya yang setengah sadar pun tidur lagi, yep, tolol. Terbangun lagi agak siang, karena mendengar nafas tersengal di bawah kasur, langsung benar-benar bangun dan berdiri kali ini. “Lulu? Lulu?” tidak ada reaksi lagi, tapi saya yakin Lulu ada di sana. Langsung saja saya bongkar tempat tidur itu, agak lama, karena kasurnya besar dan tipikal spring bed lama, berat, belum lagi kamar yang sempit oleh barang-barang membuatnya susah untuk bergerak. Setelah lama berkutat dengan kasur, akhirnya saya melihat gumpalan bulu putih abu itu, tergeletak di bawah sana, saya raba flesh pad-nya yang lembut, dingin, Lulu sudah pergi, selama-lamanya. Saya terus terpaku di sana sampai akhirnya kakak laki-laki saya datang, menghampiri, memeluk dan menenangkan saya, membantu saya menerima kepergiannya. Iya, Lulu sudah pergi, apa lagi yang kita bisa lalukan selain menerima.

Selamat jalan Lulu, terima kasih untuk segalanya, teteh sayang Lulu, selalu.

Wednesday, March 14, 2012

Sehari Menjadi Pejuang Negeri

Sabtu, 10 Maret 2012 merupakan Yaumul Mizan bagi saya, hari dimana saya akan ditimbang. Ditimbang amal? Memangnya sudah siap? Oh bukan, bukan dengan timbangan amal, tapi dengan timbangan PMI Unit Kota Bandung untuk kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan darah dan akhirnya diputuskan boleh mendonor darah atau tidak. Menegangkan kah? Ya, bagi saya ini sama menegangkannya seperti ketika akan menjalani operasi caesar demi melahirkan anak. Memang sudah pernah operasi caesar? Belum sih, tapi sama, sama-sama ‘akan’ menegangkan, dan sama-sama belum pernah saya lakukan, hahaa. YAP! Jika lolos segala pemeriksaan, maka hari ini adalah kali pertama saya menjalani donor darah. Mengapa menganggap bahwa donor darah akan menegangkan? Karena sebelum ini saya pernah juga menjadi ‘calon’ pendonor darah, dan entah mengapa saya begitu tegang saat itu, antara takut melihat darah, atau jangan-jangan memang berhati ciut (tak apalah berhati ciut, yang penting wajahnya imut :3). Walaupun akhirnya tidak jadi mendonorkan darah karena tekanan darah tidak mencapai standard (tak apalah tekanan darah rendah, yang penting tinggi badan diatas rata-rata :3), saya jadi menyadari satu hal, bahwa saya memang takut melihat darah yang keluar dari anggota tubuh. Membayangkannya saja membuat ngilu, mungkin sama seperti orang-orang yang tidak tahan mendengar suara alumunium yang bergesekan, begitu juga saya ketika melihat darah yang keluar dari anggota tubuh, ngilu, geli-geli mematikan, hiii. Lalu, mengapa hari ini ingin mencoba donor darah lagi? Mm, entahlah, ada dorongan yang besar untuk melakukan donor darah, semacam mengambil kesempatan untuk menjadi pahlawan bangsa dengan cara yang mudah, tanpa perlu meruncingkan bambu dan menusuk-nusukkannya kepada penjajah, tanpa perlu menjahit pakaian dalam merah membara dan mengenakannya di luar celana biru ketat, tanpa perlu menumbuhkan kumis-jambang lalu terbang-terbang dengan selendang, ya, mudah, dan hmmm, berhadiah! Slllrrrp! Menurut saya—selagi mampu dan berkesempatan—justru yang tidak mau menjadi pahlawan dengan mudah dan berhadiah itu yang aneh. Iya kan?

Langsung saja, saya yang cantik jelita ini benar-benar sudah siap menjadi Gatot Kaca wanita hari ini (tanpa kumis, jambang, dan rambut keriting di betis tentu saja). Dengan gerakan pasti dan dandanan trendy, saya starter motor hitam saya untuk dikendarai menuju Aston Primera Pasteur Hotel, tempat berlangsungnya acara donor darah (oke, ternyata tanpa terbang dengan selendang juga). Karena hanya sarapan dengan teh manis dan beberapa camilan, juga tak sempat makan siang, maka saya membawa bekal berupa onde-onde isi kacang hijau untuk dimakan sambil menyetir motor. Dan ketahuilah, menyetir motor sambil makan onde-onde kacang hijau besar bukanlah perkara mudah, hanya pengendara motor mahir sekelas saya saja yang boleh melakukannya, kamu yang membaca? Ah, sebaiknya jangan.... Sambil sibuk mengunyah dan menjaga keseimbangan motor, saya menyadari satu hal, bahwa jarum yang menunjukkan isi bahan bakar sudah berada di garis merah. Khawatir bahan bakar tidak cukup sampai tujuan sambil membayangkan saya yang seksi mendorong-dorong motor ke Pasteur dengan bersimbah keringat yang mana hanya akan membuat orang-orang semakin terpikat membuat saya membelokkan motor ke SPBU terdekat. Masuklah saya ke jalur pengantri Pertamax, yang lalu disambut hangat dengan peringatan seorang petugas yang lantang berkata, “Premium antrinya sebelah sini!” Sambutan yang saaangat hangat, kelewat hangat sampai-sampai diterima otak saya sebagai perilaku sinis dan melecehkan. Huh, saya mau beli Pertamax Mas, gini-gini saya termasuk yang mendukung program pemerintah untuk tidak menerima subsidi jika mampu, yang sebenarnya adalah doa supaya saya tak pernah ada dalam golongan tidak mampu. Yang mana juga merupakan pengejawantahan ego yang dipopulerkan Sule OVJ: biar miskin yang penting sombong. Yap, sebenarnya setiap saya ke SPBU ini dan petugasnya mendapati saya yang terlihat kere ini antri di jalur Pertamax, mereka selalu bertanya, “Pertamax?” tapi selalu dengan lembut dan senyum, dan sepertinya memang seperti itulah prosedurnya. Tapi kali ini? Hiiih.... Maka saya pun dengan tegas menjawab, “Pertamax,” yang disambut dengan “Oh,” oleh petugas tadi. Demi menjunjung tinggi prinsip ‘biar miskin yang penting sombong,’ saya yang biasanya hanya membeli Pertamax seharga sepuluh ribu jadi tak segan-segan mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu bergambar pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata yang punya tahi lalat di alis kiri (perhatian ya saya? Hehee, kalo nggak percaya cek aja sendiri). Bahan bakar sudah terisi, Otto Iskandar Dinata sudah berpindah tangan, mari berangkaaat. Ah tunggu, sebelum berangkat, mari periksa dandanan, apakah kerudung masih rapi? Apakah wajah masih.... Oh tidak, siapakah gerangan wanita yang terlihat di kaca spion ini? Kumuh sekali, sekitar mulutnya... sekitar mulutnya... celemongan oleh isi onde-onde yang dimakan saat menyetir tadi, ngaaaaa, pantes aja mas-mas SPBU ini tidak menyangka bahwa saya hendak membeli bahan bakar yang sedikit lebih mahal. Diam-diam saya meminta maaf pada mas-mas SPBU itu dalam hati, “maaf ya mas, saya sempat kesal sekali padamu. Dimaafin kan mas? Iya kan? Nah, kembaliin dong uang pak Otto saya....” Eaaaaa.... (Oh iya, tulisan ini saya buat tidak dengan maksud membeda-bedakan penampilan pembeli Pertamax dan bukan pembeli Pertamax ya, maaf jika ternyata ada yang tersinggung :) )

Sampai! Sampai mana? Sampai Aston Primera Pasteur Hotel tentu saja. Wuih, jantung saya berdetak semakin kencang, tegang jenderal! Saya balik lagi aja ya, Jen! Kayaknya saya nggak kuat deh Jen! Saya kan baru makan sedikit! Duh Jen, nanti kalo saya lemes gimana Jen? Tapi Pak Jejen di dalam hati kecil saya menjawab, “jangan Nisa, kamu sudah setengah jalan menjadi pejuang, mari teruskan.” Begitulah, pergolakan antara si pengecut dan Pak Jejen dalam hati saya dimenangkan oleh Pak Jejen, mungkin Jejen Jumawa kepanjangannya, atau juga Jejen Jeniper Jaelaini, ah tak penting lah. Jangan coba-coba mengulur waktu lagi dengan memikirkan nama panjang pak Jejen Nisa, ayo masuki ballroom hotel, segera. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, bunyi langkah kaki saya, apakah saya mengenakan sepatu kuda? Oh tidak, hari ini saya mengenakan wedges tali warna coklat nan seksi, supaya keliatan pantes aja sih buat masuk hotel, hahaa, tibalah saya di meja daftar ulang. Selesai mengkonfirmasi kedatangan, saya diberikan ini:


Apa sajakah yang diberikan? Sebuah kertas dari PMI untuk diisi, yang berhubungan dengan riwayat calon pendonor, sebuah angket dari Kompas—selaku penggagas acara—yang kemudian bisa ditukar dengan sticker imut warna biru yang bertuliskan, 'Kompas,' ya iyalah, apalagi coba, masa iya sticker bertuliskan, ‘Hari gini masih oper gigi?’ Lalu ada voucher berlangganan Kompas sebesar lima puluh ribu rupiah, dan terakhir, koran. Mengapa koran? Karena koran bisa dibaca-baca saat bosan menunggu antrian donor, dan bagi saya, bisa untuk dikunyah-kunyah saat tak kuat menahan tegang. Masuklah saya ke tempat donor, sudah lumayan sepi rupanya, saya memang datang di siang hari saat itu, langsung saja antri untuk diperiksa. Timbangan, tentu saja lolos. Akhir-akhir ini saya bulat, bergelambir, dan dapat menggelinding di jalanan beraspal. Lalu tes golongan darah dan Hb, untuk itu, ujung jari saya ditusuk manja, cus, lalu darah yang keluar diambil dengan pipa kecil. “Golongan darahnya B,” itu kata petugasnya, yang lalu saya jawab manis, “iya,” yang mana sebenarnya saya jawab dalam hati dengan, “tadi juga kan udah saya bilang golongan darah saya B, nggak percaya, huh.” Setelah itu, sisa darah dalam pipa beliau kepret-kan ke dalam gelas ukur berisi larutan warna biru. “Hb-nya bagus, silakan diperiksa tekanan darah, “entah mengapa, hati saya mencelos saat pertama mencerna kalimat tadi, itu artinya saya mungkin bisa mendonor darah, itu artinya lengan saya akan ditusuk dan dikeluarkan darahnya. Sebelum otak saya mulai memainkan adegan keji seorang wanita yang ditusuk-tusuk bambu lalu memuncrat-muncratkan darah, saya langsung berjalan saja ke meja yang satunya lagi, meja pemeriksaan tekanan darah. Setelah memeriksakan darah saya, ibu pemeriksa tensi darah ini tak berkata apa-apa kecuali menuliskan data-data saya ke dalam kartu donor berwarna biru (untuk golongan darah B berwarna biru), diberi tanggal pada baris pertama, dan, tok, diberi stempel. Begini bentuk kartu itu:

kartu donor

OMG! Artinya saya lolos pemeriksaan tekanan darah juga. Dug dug dug, seketika jantung saya berkejaran, apakah berkejaran di taman berumput dengan seorang pemuda yang pandai bernyanyi dan menari? Bukan, aduuuh, ini sungguh menegangkan, Jen! Lapor Jen, saya tegaaang! Jen? Pak Jejen? Kemana kamu saat dibutuhkan? Pak Jejen yang bijak dalam hati saya saja sudah tak mampu berkata-kata, namun sayang, pintu keluar ruangan donor hanya satu dan dijaga oleh petugas, huwoooh. Tak ada pilihan lain, dengan ucapan bismillah, saya berbaring di kasur PMI, tidak empuk, tak apalah, bukankah seorang terpidana tak membutuhkan tali emas saat digantung mati? Tapi heeei, kamu bukan terpidana Nisa, kamu pejuangnya, kamu pahlawannya, dan ini medan perangmu. Cihuy! Semangatku kembali terpompa. Saya pejuang di sini!

Berbaringlah saya di kasur itu, sambil mengingat Tuhan dan mengingat mati. Saya pun jadi teringat dia yang tersayang, maka, sebelum akhirnya saya ditusuk-sedot-kuras (jadi semacam tagline penyedot WC ya? Hahaa...), saya pun menyempatkan diri menulis pesan singkat kepadanya, begini kira-kira: 

Sayang, aku kan pergi tuk berjuang. 
Jika terjadi apa-apa, 
tolong jaga cinta dan anak-anak kita, 
sekolahkan hingga S2. 
Satu lagi yang kupinta, 
jangan pernah berpikir untuk mencari pengganti, 
atau aku akan datang lagi dalam bentuk setan seksi. 

Haru saat itu, tapi... bohooong, pesan semacam itu tak pernah benar-benar saya kirim, ahahaa, yang benar saja. Yang jelas, di tepian harapan dan pulsa yang tinggal sedikit lagi itu saya memang meminta penguatan diri dan ditemani :).

“Baru pertama kali donor ya?” kata petugas yang akan mengeksekusi. “Iya,” kataku sambil menahan gemetar. Gemetar karena begitu takut? Bukan, dingin, Jenderal, hotel ini memasang pendingin ruangan berkekuatan Putri Kipas kakak ipar Sun Go Kong saya rasa. “Pantesan masih lembut, pembuluh darahnya masih jauh di dalam,“ lanjutnya. Sungguh bang, kalimatmu yang satu ini sama sekali bukan kalimat menenangkan, saya jadi membayangkan adegan si abang menusukkan jarum di lengan kiri saya, lalu dengan riang berkata, ‘ah, nggak kena!’ lalu dicabut lagi, dimasukkan lagi, lalu berpindah ke tangan kanan, dicabut lagi, dimasukkan lagi, begitu terus sampai imsak. Abang-abang itu kemudian melakukan prosedur pengambilan darah; membelit tangan saya dengan tensimeter, lalu menggerak-gerakkan lengan bawah saya turun naik berkali-kali, kalau tangan saya saat itu sedang memegang barbel kecil, mungkin saya akan terlihat seperti Agung Hercules dari kejauhan. Huh hah huh hah. Beberapa saat kemudian, si abang berkata, “tarik nafas yang dalam...,” belum sempat saya menarik nafas dengan benar, lengan saya terasa di... Haduuu, udah ditusuk aja lengan saya. Tapi ternyata tidak sakit sama sekali. Wahai orang-orang yang belum mau didonor darah karena khawatir akan sakit, ditusuk jarum itu sama sekali tidak sakit! Dan satu lagi, rumor yang mengatakan bahwa donor darah itu menggunakan jarum berdiameter setara ballpoint, itu bohong! Yap, memang tidak sakit, tapi... oh, tangan saya kesemutan, mati rasa ringan. Saya memang sadar, bahwa kesemutan ini berarti tangan saya kurang asupan darah, dan juga karena lengan atas saya terbelit kencang. Tapi, namanya juga panik, yang ada di pikiran saya saat itu adalah, bagaimana jika aliran darah ke ujung-ujung jari benar-benar terhenti, sel-selnya mati, lalu akhirnya harus diamputasi seperti penderita hipotermia yang berada di badai salju berhari-hari. Saya pun berkata dengan panik, “A, ini emang harus mati rasa ya tangannya?” Dengan sabar, abang-abang tadi memberi pengertian dan menyarankan agar saya menggerak-gerakkan jari-jari saya. Memang bakat jadi istri penurut, saya pun menuruti perintah abang-abang tadi, dan, ya, tangan saya sudah tak terlalu kesemutan lagi.

Proses pendonoran darah saya berlangsung cukup lama, daripada tenggelam dalam ketegangan mendalam, saya pun mengalihkan perhatian dengan mengabadikan diri, lagipula, melihat wajah saya adalah kesenangan tersendiri bagi saya, hahaa...

tetap manis meski sedang mendonorkan darah

Tiga puluh menit, kira-kira selama itulah proses pendonoran darah saya, terbilang lama, karena sempat macet darahnya (dan sempat membuat saya sangat panik). Setelah selesai mendonor dan diplester, lalu, aha, inilah yang saya tunggu-tunggu, pembagian souvenir, muihihii :3 Inilah yang saya dapatkan setelah mendonor darah di sana:

dua buah goodie bag, Kompas dan J&C

Apa saja isinya? Tentu saja macam-macam, ini isinya:


Yap, itulah isi dari dua buah goodie bag tadi, dan jika dikelompokkan berdasarkan golongan fungsi, isi goodie bag tersebut adalah:

1. bacaan

Yap, golongan pertama adalah bacaan, dalam hal ini berupa tabloid, yang mana fungsinya adalah memberi informasi dan juga dapat dibaca ketika senggang.

2. makanan

Yang kedua adalah golongan makanan, golongan yang paling saya nikmati dan syukuri. Fungsinya? Ya untuk dimakan, diminum, atau jika merupakan pemamah biak, bisa untuk dikunyah-telan-lepeh-kunyah lagi-telan lagi, yiks.

3. voucher XXI

Yang ketiga adalah voucher XXI, golongan yang juga sangat saya syukuri keberadaannya di dalam goodie bag, tentu saja untuk bisa menonton gratis/separuh harga di 21 dan XXI manapun, cihuy!

4. obat-obatan

Yang keempat adalah obat-obatan, lumayan juga, bisa dicoba saat sakit dan kebetulan tak ada obat di rumah. Alhamdulillah.

5. tisu saku

Golongan kelima berupa tisu, tisu saku, bentuknya praktis, aerodinamis, dan bisa dibawa kemana-mana. Fungsinya? Hmm..., aha! Bisa dibakar untuk kemudian menghipnotis siapapun yang duduk di sebelah kita.

6. brosur

Yang keenam adalah golongan brosur, ya, ada berbagai brosur yang dimasukkan di dalam kedua goodie bag yang ada. Dan ini, ini yang paling saya tak mengerti fungsinya apa, karena selama 23 tahun saya hidup berumah tangga, tak pernah sekalipun saya menjadikan brosur sebagai camilan di saat senggang.

Puas mengamati isi goodie bag yang saya terima, saya pun masuk ke ruangan di sebelahnya, ruang di mana hiburan bagi pendonor berlangsung. Yang sedang tampil di panggung adalah Fun-tastic String Ensemble, keren sekali mereka, saat sedang diambil darahnya tadi pun saya bisa mendengar mereka beraksi, memainkan lagu ‘Nobody-Wonder Girls’ yang begitu Pop dengan gaya mereka yang hampir orkestra, wuw! Saya pun jadi tak ragu untuk duduk di ruang itu, menikmati musik yang dimainkan mereka.

Fun-tastic String Ensemble di atas panggung

Di akhir pertunjukan, saya sama sekali tak menyangka, mereka membawakan lagu nasional 'Tanah Air', leader-nya meminta kami semua berdiri dan menyanyi bersama. Menurutmu, kami akan bagaimana? Yap, kami semua serentak berdiri, tua, muda, Sunda, China, semuanya, kami semua menyanyikan lagu yang sama, Tanah Air.


Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh, tidakkan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai. Walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku rasa senang, tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan.

Benar-benar terharu saya saat itu, dan percaya atau tidak, saya sempat menitikkan air mata, ya, kami semua yang berdiri di sini, sedang menunjukkan cinta yang nyata, untuk Indonesia. 

Acara diambil alih kembali oleh MC, saatnya games sekarang, dan oh, saya yang sedang duduk-duduk sambil mengamati kembali isi goodie bag, tiba-tiba dipanggil ke depan oleh MC wanita, “teteh kerudung kuning, meuni geulis, ayo ke atas panggung teh.” Dengar itu Indonesia! Dengar, ternyata pesona catikku tak hanya diterima oleh kaum Adam saja, tapi juga kaum Hawa, dan kaum diantara keduanya, cihuy! Saya pun naik ke panggung bersama empat orang lainnya yang juga dijadikan tumbal demi serunya acara sore itu. Coba, coba tebak, apa yang harus saya lakukan di atas panggung itu? Ngesot sodara! Ngesot dari ujung panggung lalu minum susu kotak yang sudah disiapkan diujung panggung yang satunya lagi. Hoh, seketika saya berpikir bahwa orang-orang yang berada di ruangan ini adalah orang paling beruntung se-Bandung Barat Daya, bayangkan saja, mereka bisa melihat secara langsung bagaimana seorang Zooey Deschanel mengesot dengan gemulai, kapan lagi coba?

MC yang sedang menyiapkan susu kotak untuk diminum oleh kami =="

Satelah berhasil menyelesaikan permainan, saya pun mendapatkan ini:

voucher XXI (lagi)

Sebuah voucher XXI lagi, hooray! Aku jadi punya dua voucher, kini aku bisa mengajak serta dia yang tersayang, handai taulan, ataupun tetangga dekat untuk menonton bersama. Atau bisa jadi, jika dua voucher XXI yang saya punya ini digabungkan, maka akan bisa ditukarkan dengan BLT dan raskin, ahiy! *duh, bisa jadi memang beginilah gambaran rakyat saat ini, perpayah-payah mengesot dahulu, baru mendapat bantuan kemudian, jangan sampai...

Setelah itu, acara memasuki puncaknya, yaitu... tamtararamtamtaaam... penarikan pemenang doorprize utama, berupa kulkas Electrolux. Pemenang pun didapatkan.


Dan coba tebak, apa yang terjadi pada seluruh peserta setelah penarikan doorprize ini? Ngabuuur, hahaa, hampir serentak seluruh peserta keluar dari ruangan saat pemenang kulkas naik ke atas panggung, ahahaa, kentara sekali ya, bahwa yang menahan mereka di sana adalah hadiah doorprize utama. Tapi, make sense juga sih, toh acara sudah benar-benar selesai, terus untuk apa lagi peserta tinggal di tempat? Bantu petugas bersih-bersih gelas? Bantu lepasin back drop? Bantu MC cewek bersihin dandanan? 

Bagaimana dengan saya? Saya juga hendak pulang tentu saja, tapi... kepala saya tiba-tiba pusing, pusing berat. Saya harus bagaimana? Ah, saya tetap pulang saja. Kenapa? Coba deh bayangin, saya duduk sebentar aja tiba-tiba disuruh naik ke atas panggung dan ngesot, gimana kalo saya duduk lama-lama di sini? Mungkin akan disuruh naik ke atas panggung dan salto-salto sampai tempat parkir, hih, ogah. 

Pulang aja nih? Iya pulang. Maka berkendaralah saya, terus, lurus, tanpa banyak berpikir, yang malah membuat saya... MARMUT! NGAPAIN SAYA NAIK FLY OVER? Iya, karena begitu minimnya kemampuan berpikir otak saya saat itu, saya salah jalan, saya jadi naik jembatan Pasopati. Ihik, semakin jauh saja jalan saya menuju pulang, dan pusing-pusing mau pingsan ini masih menyerang. Sisa kecerdasan saya mengatakan bahwa saya harus berhenti di suatu tempat makan, beristirahat dan makan di sana, sampai pusing ini berkurang. Maka saya pun turun fly over di Taman Sari, lurus sedikit ke Taman Cikapayang dan belok kiri menuju Dago, yang terpikir oleh saya saat itu adalah food court Imam Bonjol. Huuuh, untung saya selamat sampai tujuan, langsung saya duduk di sana, dan memesan lomie. Lomie seolah menjadi asupan penyelamat bagi saya saat itu, ya, setelah makan lomie, mata saya menjadi cerah kembali, pusing di kepala saya tak terlalu mengganggu lagi. Berikut saya sertakan foto saya, sebelum dan sesudah makan lomie:

foto saya sebelum dan sesudah makan lomie

Setelah merasa cukup dan siap untuk melanjutkan perjalanan, saya pun pulang dan mengendarai lagi si motor hitam kesayangan. Di tengah jalan, ternyata pusing mendera lagi, tapi sampai juga akhirnya saya di rumah, alhamdulillah. Karena merasa sangat lemas, setelah sholat saya pun langsung tidur, tidur lamaaa sekali. Sebelum tidur saya berjanji, akan donor darah lagi di kemudian hari.

P.s.: Setelah donor darah, nafsu makan saya jadi barbar. Yang tadinya saya cukup kenyang dengan porsi sarapan princess, yaitu sepotong gehu dan bala-bala (yeah, there's a thin line between princess and 'kere', hahaa...), namun sampai beberapa hari setelahnya, saya jadi cepat lapar, sarapan pun harus dengan bubur-ayam-plus-hati-ayam-plus-telor-ayam-rebus. Tapi tak apa, bukankan kita harus bangga telah menjadi pejuang? :)

Sampai jumpa di-posting-an berikutnya! :D

Wednesday, March 7, 2012

Andai Aku Kucing



Lihat kucing itu, berguling, berlari, menggaruk, mengeong. Mm, tapi kamu tidak senyum, mana senyummu hai kucing? Ah, tak senyum pun kamu pasti bahagia kan? Andai aku kucing, walau tak bisa senyum, aku selalu bahagia. Tanpa harus memalsukan senyum, semesta tahu aku bahagia.

Lihat kucing itu, menjilat rambut dengan tekun, sesekali digigit-gigitnya sejumput rambut dengan gemas, hihii, ada kutu rupanya. Andai aku kucing, satu-satunya masalah serius yang pernah melintas di pikiranku hanyalah cara menumpas kutu yang bersembunyi di bagian tengkukku. Jika majikanku perhatian dan rajin, maka masalah yang ada hanya bagaimana agar selalu makan enak tanpa kegendutan dan susah berjalan, ah, mungkin juga hal ini tak jadi pikiranku, mungkin aku terlalu bahagia untuk berpikir.

Lihat kucing itu, mendengkur di pangkuan seorang gadis kecil, nyaman sekali tidurnya. Andai aku kucing, tak perlu aku risau akan hidupku esok hari, gadis kecil ini akan datang setiap hari, memberi makan, memberi seperempat gelas susu yang tak dia habiskan saat sarapan, mengelus dagu, dan sesekali menggelitik perutku. Ah, satu lagi favoritku, jika dia tak dijemput pulang ibunya yang menyuruh belajar, akan ada waktu untukku tidur di pangkuannya yang hangat.

Andai aku kucing, aku akan berguling, berlari, menggaruk, dan mengeong. Berjalan menyusuri jalanan berumput, lalu berguling di tumpukan pasir, menggaruk tumpukan sampah ketika lapar, dan..., oh, mana makananku? Bukankah biasanya tempat sampah di warung makan ini menyediakan banyak tulang ikan untukku, sekarang mana? Ah, aku mengeong saja! Hai kamu yang manusia, tahukah bahwa eongan ini berarti aku lapar? Ah iya, aku kucing..., membahasakan maksudku saja aku tak mampu. Bekerja? Mana mungkin, keterampilan yang aku miliki adalah melompati atap dan pagar, bukan mencuci piring di rumah makan ini demi mendapatkan sisa tongkol. Lalu bagaimana? Tidur saja, berharap tidak mati, dan kembali lagi esok hari.

Andai aku kucing, aku hanya akan sibuk menjilat rambut, dan jika beruntung, kraus, tergigit kutu yang melintas di punggungku, senangnyaaa. Tapi menggigit kutu tak akan membuatku kenyang kan? AHA! Majikan! Tunggu, aku tak cukup lucu untuk punya majikan yang mencukupi kebutuhan makanku, apalagi menjaga lembut rambutku. Oh iya, ada ibu! Umurku baru satu, bolehlah kuminta makan pada ibu. Itu ibu! Ya, itu ibu, ibu yang sibuk mengurusi adikku, aku hanya akan diusirnya jika mendekat, disangka akan mengganggu adikku. Bukan adik sebenarnya, tapi adik-adik, ya, adikku kembar lima, diizinkan mendekat pun ibu tak akan lagi mengenalku, anaknya terlalu banyak.

Andai aku kucing, aku akan mendengkur sepanjang hari, tak usah pikirkan esok. Pekerjaan rumah, tugas kuliah, tumpukan pekerjaan, aku tak punya, mari bersiap tidur, satu, dua, tiga, tarik selimutnyaaa. Eh, aku kan kucing, jangankan selimut di malam yang dingin, hari hujan pun aku akan tetap tidur di sini, tanah yang basah dan berbau lumpur. Tak apa, tak apa, aku sudah makan dan hari tidak hujan, sepoi angin ini akan mengantarku jauh terlelap. Nyem, nyem, mungkin ini yang namanya mimpi, ada suara anak kecil di sini, pastilah gadis kecil itu, sudah dua hari dia tak menghampiri. Ah, mungkin ini bukan mimpi, karena suaranya semakin dekat, tunggu saja, sebentar lagi dia akan mengelus lembut punggungku. Nah, sudah mulai disentuhnya aku, nyamaan, EH, apa ini, bukan, bukan begini cara mengangkat tubuhku, bukan dengan menggenggam ekorku, sakit, dan lagi, ini bukan gadis manis itu, siapa kamu? Uh, sulit sekali mencakarmu. Lagi-lagi aku mengeong, keras kali ini, mungkin akan ada yang membantuku, kulihat ada sekumpulan anak lain di sana, mungkin mereka akan membelaku, mereka datang, syukurlah, mereka sudah dekat, dan kini.. menertawakanku. Ada gunting di tangan salah satu yang memakai baju biru, kres kres kres, renyah sekali suara kumisku dicukurnya. Aku gigit saja tangannya, kucakar kuat lengannya, tapi, ugh, aku malah ditendang yang berbaju ungu, tapi tak apa, sudah cukup puas aku melihat luka gores di lengannya, semoga menjadi pengingat untuk tak lagi mengganggu sesamaku. Aku bebas sekarang, aku tidur lagi saja. Di sini? Tidak, lebih baik mencari tempat berteduh lain yang lebih aman, di teras rumah seorang nenek di seberang lorong itu saja, ayo jalan. Ah, mengapa jalanku sedikit limbung, mm, mungkin hanya perasaanku saja, toh setelah menyusur lorong, aku bisa tidur damai, hup... mm, duh, apakah tersangkut di lorong juga hanya perasaanku saja? Tidak, ini bukan hanya sekedar perasaan, aku kesulitan menerka ruang, betul juga, kumisku sudah tak ada.

Andai aku kucing.. Ah tidak, aku bahagia jadi manusia, bersyukur atas apa yang aku punya, bersyukur atas apa yang aku bisa lakukan.

Monday, February 27, 2012

Mengetahui Kepribadian Pria Melalui Kukunya

Ini tulisan saya saat SMA dulu, kebetulan nemu beberapa hari yang lalu di sebuah binder tempat saya mencurahkan hati dan pikiran labil saya masa itu, hahaa. Karena lumayan menarik, saya jadi tertarik mengetiknya di blog ini. Jadi, jika menemukan beberapa atau banyak kata yang tidak pantas, yaaah, namanya juga anak muda :P Selamat membaca! :D


Mengetahui Kepribadian Pria Melalui Kukunya

Kuku Bersih, Terawat, dan Tercukur Rapi
Dia pintar mengurus diri, anak, dan istri. Senantiasa menjaga kebersihan gigi dan mencuci kolor setiap hari. Disiplin diri tinggi, juga baik hati.

Kuku Bersih, Terawat, dan Merah Muda
Merah muda? Hoh! Anda patut curiga ketika mendapati pria yang mewarnai kukunya dengan merah muda.


Kuku Kecil, Langsing, dan Panjang

Orang dengan kuku tipe ini memiliki kecenderungan mengupil yang sangat tinggi.

Kuku Besar-Pendek-Kotak-Bantat
Percaya dirinya besar, badan lebar, wajah bundar, dan berpribadi barbar. Mudah beradaptasi, berpotensi mendapat banyak teman dan relasi.

Kuku Lebih Besar dari Jempol Kaki
Bukan kuku, pakai kacamata anda dan pastikan yang anda lihat adalah kulit jengkol muda.

Satu atau Dua Kukunya Patah
Mungkin dia mengemban pekerjaan berat sebagai kuli angkut atau buruh tani, pekerjaan yang mulia.... Tapi sebaiknya tanya dulu penghasilannya sebelum memutuskan untuk menikah.

Hanya Punya Satu Kuku di Tiap Tangan dan Kaki
KUDA! Kalau pun memang berjenis pria, tapi ini pria kuda. Jangan pernah berpikir untuk menikah dengannya.


p.s.: demikianlah arti kepribadian pria melalui kuku hasil cenayang Nisa. Kini anda tak lagi bimbang dalam memilih dan menilai pasangan. Semoga bermanfaat.

Monday, September 20, 2010

Ah MASAK, Ah Iya, Gengsi Dong!

17 September 2010
Ah MASAK, Ah Iya, Gengsi Dong!
Kamu yang seumuran saya pasti tau dong kalimat di atas penggalan dari lagu apa? Hahahaa, ya, itu penggalan lagu pengiring permainan anak-anak. Aneh memang (dan memang semua lagu pengiring permainan anak di Indonesia berlirik aneh sepertinya =_=”), tapi untuk tulisan saya yang satu ini, mungkin akan cukup mewakili. Mengapa? Karena saya akan membahas tentang suatu pekerjaan bernama: MASAK. Oh, cukup, cukup, tak usah ada efek petir ketika saya menyebutkan kata MASAK. Jadi, kalau boleh dihubung-hubungkan dengan judul tulisannya, saya akan berkata begini, “ah, masak? Ah iya! Gengsi dong kalo nggak bisa masak.” Ya, ya, oke, memang judul tulisan yang sedikit maksa ternyata, tapi tak apalah, langsung saja kita bahas mengenai masak itu sendiri.
Masak. Kamu bisa masak? Masakan apa saja yang bisa kamu buat? Apa masakanmu yang paling kamu banggakan? Sejak kapan bisa masak? Sejak kapan ingin bisa masak?
Wuw. Kalau saya yang ditanya dengan sejumlah pertanyaan di atas maka akan saya jawab:
Bisa masak?
  • Bisa dong. Oke, bisa sedikit. Ya, ya, ya, saya jujur, kemampuan memasak saya saat ini hanya lebih sedikit saja dari angka nol.
Masakan yang bisa dibuat?
  • Banyak, mie instan—kuah dan goreng, sarden instan, marsh potato instan, spaghetti instan (yang tentunya sudah dilengkapi saus), kentang goreng, telur dadar, telur mata sapi, tempe goreng, tahu goreng, tempe kecap, sosis kecap, dan tumis kangkung. Oh lihat, cukup banyak bukan? Dan cukup bodoh untuk perempuan seusia saya.
Masakan yang dibanggakan?
  • Tumis kangkung.
Sejak kapan bisa masak?
  • Kalau membuat mie instan benar-benar bisa dikatakan kegiatan memasak, maka dengan bangga akan saya jawab: SEJAK SD! YEAH!
Sejak kapan ingin bisa masak?
  • Sejak saya berpikir bahwa suatu saat nanti saya akan menikah.
Saya yakin bahwa hanya akan ada 1 dari 100 atau mungkin 1 dari 10.000 perempuan di dunia ini yang tidak menginginkan bahwa satu kali dalam seumur hidupnya dia didandani habis-habisan, duduk di sebelah pria yang paling dia cintai, dan dengan tegang mendengarkan sang pria membacakan ijab-qabul baginya. Ya, semua perempuan di dunia, dengan budaya macam apapun dia dibesarkan pastilah menginginkan dirinya suatu saat mengalami apa yang disebut dengan menikah. Dan sudah menjadi fitrah pula bahwa perempuan menginginkan pria yang benar-benar dia sayangi yang menjadi pendamping hidupnya. Begitu juga saya, saya ingin menikah, menikah dengan pria yang benar-benar saya sayangi, dan kepada orang itu lah nantinya saya akan memberikan yang terbaik. Terbaik dari mana kalau masakan yang bisa saya banggakan hanya tumis kangkung? Terbaik dari mana kalau nantinya, yang bisa saya sajikan setiap hari hanya makanan-makanan instan? Ah, bisa-bisa nanti orang yang saya klaim paling saya sayangi itu malah terkena berbagai penyakit akibat terlalu sering saya beri makanan serba instan. Ironis.

Jadi, basa-basi diatas itulah alasan mengapa saya ingin bisa memasak, masak yang sebenar-benarnya masak. Seperti yang ibu saya, dan ibu-ibu lainnya lakukan di rumah. Terlebih lagi, saya ingin menjadi pantas, ya, sejauh ini belum ada yang bisa saya banggakan dari diri saya, yang bisa menjadi alasan untuk kamu memilih saya. Menyedihkan? Tidak juga, tidak karena saat ini saya punya keinginan untuk bisa. Butuh waktu yang lama memang, tapi lihat saja, mungkin dua, tiga, atau empat tahun lagi saya akan memilikinya. Satu kemampuan yang membuat kamu akhirnya mempertimbangkan saya. Yah, semoga saja, semoga suatu saat nanti saya bisa berada di dapur rumah yang kau huni, memasak makanan kesukaanmu, mendengar kamu memuji masakanku. Bukan, bukan sebagai pembantu, ah, enak saja.
Nah, untuk tekad dan niat baik yang saya camkan dalam hati ini, marilah sama-sama kita ucapkan lagi, “ah, masak? Ah, iya! Gengsi dong kalo nggak bisa masak!” Oke, oke, memang sangat norak, hahaa, lagian mau-maunya ngikutin saya. Hahaa, salam.

Thursday, September 16, 2010

Which One Should I Believe?

Saat ini, ada dua opsi jawaban yang sedang bermain-main dalam kepala saya, keduanya saling bertolak belakang dan menimbulkan dua emosi berbeda yg sulit diidentifikasi.

Opsi pertama, spesial, satu. Di mata saya dia akan terlihat baik dan sempurna seperti sebelumnya, masalahnya, saya sendiri merasa tidak cukup pantas diperlakukan seperti itu.

Opsi kedua, tidak spesial, satu diantara banyak. Saya memang pantas diperlakukan seperti itu, karena saya sendiri memang jauh dari istimewa, masalahnya, dia akan terlihat sedikit buruk di mata saya, tak sebaik dan sesempurna sebelumnya.

Jadi apa yang harus kupercaya? Jawaban menyenangkan yang menyelimutiku dengan rasa nyaman tapi sewaktu-waktu bisa membangunkanku dengan rasa sakit yang luar biasa? Atau jawaban menyedihkan yang menyeret-nyeretku dalam kepedihan berintensitas sama, yang bisa saja membuatku kuat pada akhirnya (atau justru rapuh dan tak mampu bertahan)?

Kamu tahu jawabannya?

Suatu Subuh di Bulan Ramadhan

4 September 2010

Entah sejak kapan saya punya kebiasaan minum air banyak-banyak menjelang waktu imsak, kalau tidak minum air minimal 4 gelas saat sahur, seluruh bagian tubuh saya seperti menyesal dan berkolaborasi membentuk satu pikiran bahwa saya tidak akan kuat puasa sampai magrib, akhirnya apa yang saya lakukan selanjutnya adalah bermalas-malasan dengan alasan menghemat cairan tubuh, bahkan pernah saya menahan pipis dengan keyakinan yang tinggi bahwa air dalam urinary bladder itu dapat direarbsorpsi untuk pemakaian sehari-hari, oke ini adalah pemikiran yang salah saudara-saudara.

Tapi begitulah, sahur hari ini saya minum banyak sekali air, sampai-sampai rasanya air itu mengambang-ngambang di tengah tenggorokan. Mungkin jika saya melakukan dobel salto atau sikap lilin air itu akan mengalir begitu saja dari mulut saya, mblwueeeeh, oh tidak perlu, tidak perlu dibayangkan.

Jika sudah begini, apa yang saya rasa selanjutnya adalah mengantuk, mengantuk parah, maka saya pun mencuri-curi tidur, saya akan tidur selama sekitar 5 menit sebelum akhirnya wudhu dan sholat subuh (tapi tidak setiap hari begini loh). Jika tidak dibangunkan oleh sang mamah, biasanya rasa ingin pipis lah yang membangunkan saya.

Saya pun akhirnya bangun, 10 persen sadar, 40 persen rasa ingin pipis, dan 40 persen rasa kantuk. Berjalanlah saya ke kamar mandi, melakukan pose pipis seperti halnya yang orang lain lakukan di wc jongkok. Dan karena telah meminum banyak sekali air, maka durasi pipis saya sangatlah panjang. Tidak masuk di akal memang, tapi apa yang saya lakukan selanjutnya adalah tidur, ya, tidur sambil pipis. Saya sendiri tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi, mungkin penjelasan ilmiahnya akan sama dengan fenomena-fenomena mengompol, atau pipis dalam tidur. Entah berapa detik atau menit lamanya, saya tidur dalam pose pipis, kemudian, tuk, terbangun karena hampir jatuh ke depan. Hampir saja, hampir saja saya mempermalukan diri sendiri di depan keluarga. Apa jadinya dengan harga diri saya jika saya ditemukan oleh ibu saya dalam keadaan pingsan di kamar mandi dengan alasan tidak sengaja tidur ketika pipis, uuuh. Setelah itu barulah saya sadar penuh, menyelesaikan urusan di dalam kamar mandi (wudhu), dan segera keluar dari kamar mandi.

Selesai sholat saya selimutan lagi, sambil menceritakan kejadian dalam kamar mandi kepada ibu saya dengan setengah sadar, “Mah tadi dede hampir jatoh di kamar mandi.”

“Kenapa,” ibu saya menjawab.

“Ketiduran waktu pipis.”

“MUAHAHAHHAHAHAHHAAAA,” saya pun tertidur seiring memudarnya suara tawa ibu saya.

Jadi, hikmah yang bisa saya ambil dari cerita ini adalah…, apa? Memang ada ya? Oh sepertinya ada, kalau pun tak ada marilah kita ada-adakan saja, jadi, sholat subuhlah anda sekalian sebelum mengantuk, jangan minum berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan, dan janganlah membuang sampah sembarangan, karena pak H. Dada Rosada, mencanangkan Bandung Bermartabat sejak masa jabatan 2004-2008.

Salam hangat.

Wednesday, January 16, 2013

Tutorial Berkerudung Untuk Pemula

Assalamualaikum, salam sejahtera dan salam hangat-hangat kuku dari saya.
Pada blog post kali ini, saya akan menunjukkan langkah demi langkah pemakaian kerudung 'Neno Warisman' yang saya kenakan untuk profile picture facebook saya baru-baru ini:
yap, yap, yang ini.
Iyaa..., yang itu.
Udah dong ah, jangan diliatin terus gitu :3


Oke, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah:
1. Memakai ciput ninja.
Ciput ninja itu yang kayak gimana?
Itu loh kayak yang saya pake di atas, yang warnanya biru.
Ciput ninjanya yang biasa-biasa aja ya, ga usah yang ada tambahan bulatan di belakang/atas kepala. Soalnya, nanti mirip punuk onta, nah, dari yang saya baca, berjilbab yang mirip punuk onta atau camel-hump-hijab, menurut hadist ga dibolehin :) *belajar sedikit-sedikit, hihii


Oke, lanjut ke langkah kedua.
Eh, apa? Ada yang ga punya ciput ninja?
Mm, beli dulu gih ke Pasar Baru.
Eh, males?
Oke, kamu punya ayah, bapak kos, atau saudara laki-laki? Sip.
Kalau begitu, di tempat tinggal kamu pasti ada ini:
Yap, sarung.
Sarung bisa kita jadikan alternatif cerdas pengganti ciput ninja, seperti yang anak-anak generasi 90-an lakukan saat ninja turtles sedang berjaya, inget kan? Lingkarkan ujung bukaan sarung di atas hidung, ikatkan di belakang kepala. Buka ujung bukaan sarung yang satunya lagi, satu ditarik menuju pucuk kepala, satu lagi ditarik ke bawah, sreeet...
VOILA!
Pinter kan, kan, kan? B-)
Apa? Jelek? Ya iya sih, siapa suruh males ke Pasar Baru :/


Oke, kita lanjutin aja, yang belum punya ciput ninja, nanti nyusul ya....
Nah, yang lain, yang udah pada dipake ciput ninjanya..
Eh, eh, lagi pada ngapain itu?
Aaak, nooo, oh, nooo..
There's no need to put spiral-like-blush on your cheeks like the way Ninja Hattori does, haduuuh, hapus, hapus, ngewa ah..


Lanjut ya, serius nih ah....
Setelah ciput ninja, ada satu lagi yang penting kita punya dalam berkerudung ala-ala Nisa Warisman ini, yaitu:
Shawl bahan kaos.
Ga punya juga? Atuhlah..., jadi kamu punyanya apa? Cinta? Cinta mah ga bisa dikumpulin terus dituker sama bimoli pouch di indomaret terdekat kayak kupon belanja.
Kalo shawl bahan chiffon punya ga?
Ga punya juga?
Sok atuh beli dulu di temen saya ya, di Permata Hijab Store.


Oke, sudah siap dengan step selanjutnya? Sip.
Langkah kedua adalah:
2. Kenakan shawl-nya di kepala.
Kepala? Kepala siapa?
Ya kamu, masa iya Obama.


3. Atur supaya bagian kanan lebih panjang dari bagian kiri.
Atau kalau kamu kidal dan lebih gampang melakukan sebaliknya, lakukanlah sebaliknya.
Atau kalau kamu begitu mencintai keseimbangan dan keadilan, buatlah yang kanan sama dengan yang kiri, lalu, klik-lah tanda silang di pojok kanan atas, selamat tinggal.... Ngeyel sih :/


4. Angkat bagian yang lebih pendek (dalam gambar, yang kiri), lalu selusup-kan bagian yang lebih panjang ke bawahnya.
Pinter...


5. Angkat bagian yang panjang tadi untuk melingkari lagi kepalamu.
Jadi, akan ada dua lapis shawl di atas kepala.
Mau tiga lapis? Boleh...
Mau tujuh lapis soalnya takut masuk angin? Boleh, tiap lapis beda warna ya sekalian, atasnya kasih cream cheese sama almond nougat.


Masuk ke langkah yang paling asik.
6. Rapikan


6. Rapikan


6. Rapikan
Mm, oke, stop, muka sih ya gitu aja, ga usah dirapi-in, nggak ngaruh.


Lanjuuut.
Uuuh, agak susah nih bagian ini. 
Bukan, bukan lagi mites anak-anak kutu.
Itu lagi melakukan langkah selanjutnya:
7. Sematkan jarum pentul di atas kepala.
Tujuannya?
Supaya kerudungnya menempel kokoh di kepala, seperti holcim membangun rumah anda.
Jadi mesti ditusuk gitu jarumnya ke ubun-ubunan?
Ya nggak laaah..., unless you're sundel-bolong-like-creature yang kalo ubun-ubunnya ga ada pakunya bakal bisa terbang nembus tembok, JA-NGAN.
Boleh pake jarum-jarum lain selain jarum pentul? Yang lucu-lucu gitu loh..
Boleh, itu mah terserah aja :) Tapi tips aja ini mah, kalo kamu suka pergi-pergi pake motor, mata jarumnya jangan yang gede-gede, nanti keteken helm, sakit, it surely makes you dizzy, iya, jarum pasak tenda juga jangan.




Maka, selesaaai :D


Eh, eh, iya, tunggu dulu.
Kamu masih bisa lebih mempercantik kerudungmu.
Caranya:
 
8. Pelintirlah sisa shawl yang bagian pendek tadi ke samping telingamu, beri pin kembang-kembang lucu di sana.
Eh tapi saya juga kan ga punya pin kembang-kembang lucunya, ah, ya sudahlah....


Maka,
selesai beneran :D


Kini, kamu yang cantik berkerudung sudah siap berkeliling kota dengan delman istimewa.


Akhir kata, salam cinta semuanya, semoga agak-agak bermanfaat, assalamualaikum :)




Sunday, January 13, 2013

Teteh Sayang Lulu, Selalu


Pernah punya kucing yang begitu menggemaskan? Kucing yang sampai-sampai hampir setiap kamu melihatnya, you’ll whisper unwittingly, “you’re the cutest creature I’ve ever seen.” Pernah punya kucing yang membuat kamu merasa paling istimewa? Kucing yang jutek hampir pada setiap orang, tapi begitu manis kepadamu. Pernah punya kucing yang hampir selalu tau saat-saat berat dalam hidup kamu? Kucing yang seolah bisa merasa kesedihanmu, lalu menemanimu sambil memijit lenganmu. Pernah punya kucing yang sangat terganggu melihat kamu menangis? Kucing yang dengan panik mengeong-ngeong seolah memohon padamu untuk berhenti menangis. Pernah punya kucing yang akan mencarimu kemana pun saat mendengar suara tangis palsumu? Kucing yang berlarian ke tempat kamu berada ketika kamu mengeluarkan suara tangis palsu, seolah-olah kamu adalah anaknya yang harus dia rawat. Pernah punya kucing yang dengan mendengar suara dengkurannya akan membuat kamu merasa sangat nyaman? Kucing yang dengan rela perutnya dijadikan bantal nyaman hanya supaya kamu bisa mendengar suara dengkurnya yang lembut. Pernah punya kucing yang tidak pernah mau menggunakan cakarnya kepadamu? Kucing yang ketika diganggu bagaimana pun olehmu hanya akan menggertak dengan mengayunkan cakarnya kepadamu, lalu memasukkan kukunya tepat sebelum mengenai kulitmu. Pernah punya kucing yang membuatmu merasa penting? Kucing yang menggulung-gulung diri di pakaian kotormu ketika kamu tidak ada di rumah, kucing yang hanya mau disuapi makan olehmu ketika sakit. Pernah punya kucing yang bisa memijit lengan dan kaki? Kucing yang memijit dengan hebat, dengan dua kaki belakangnya, bukan dengan kaki depan, jadi pegal-pegal di lenganmu bisa hilang, dan cara memanggilnya untuk memiijit cukup dengan pura-pura menangis, hee.

Saya punya kucing yang seperti itu, ‘pernah’ punya, namany Lulu, dibeli di sebuah cat breeder sembilan tahun lalu dengan sepenuh usaha dan air mata. Saat itu saya masih SMP, uang jajan masih seadanya, demi mengumpulkan uang untuk membeli kucing yang (bagi saya)keterlaluan mahalnya, saya harus benar-benar berhemat, makan makanan bekal dari rumah, atau berlapar-lapar kalau perlu, demi mengadopsi kucing lucu yang kemudian saya namai Lulu (walaupun akhirnya, saya hanya berhasil menyumbangkan 1/6 dari harga Lulu, hee).

Sembilan tahun lalu, saya pernah menangis malam-malam, agak frustasi saat itu, 2 bulan usaha menabung, hanya menghasilkan uang dua ratus ribu lebih sedikit, harga kucing idaman saya saat itu rata-rata 1,2 juta, aduh, there’s still a long long long way to go through. Malam-malam di sembilan tahun setelah itu, yang saya tangisi adalah kucing yang sama, menyuapinya sambil berkata, “kamu harus sembuh Lulu.” Sekarang, drama-drama air mata untuk mendapatkan dan mempertahankan Lulu sudah berakhir, ya, Lulu sudah pergi selama-lamanya dari hidup saya.

Lulu mulai malas makan seminggu yang lalu, berlanjut terus sampai akhirnya dia pergi siang ini. Sakitnya Lulu kali ini beda, rasanya seperti sudah punya firasat bakal ditinggal selamanya. Salah satunya karena Lulu sempat menghilang dua kali selama sakitnya, mengurung diri di gudang atas yang susah dijangkau manusia, cuma bisa diakses dengan membuka genting atap rumah. Entah kenapa, semua kucing yang pernah saya pelihara selalu menghilang tiba-tiba saat akan pergi selamanya, tidak pernah mau sakit dan meninggal di depan saya, mungkin memang begitu kelakuan kucing peliharaan. Jadi ketika Lulu hilang saat sakit, saya sudah frustasi dan merasa janggal. Susah payah saya buang semua pikiran buruk, karena memang begitu kan, siapapun di dunia tidak ada yang bisa mengira-ngira tentang kematian. Maka setiap hari saya menyemangati (atau mungkin membebani) Lulu dengan berkata, “Lulu, ayo cepet sembuh,” “Lulu, kamu harus sembuh,” “Lulu, ayo dong sembuh, Lulu kan janji ga akan ninggalin teteh sebelum teteh nikah,” “Lulu, sembuh dong, inget ya, Lulu ga boleh ninggalin teteh,” “Luluuu, sembuh, kalo Lulu ga ada, teteh sama siapaaa,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya. Sampai akhirnya, malam kemarin, entah kenapa, saya ungkapkan semua yang menurut saya harus saya sampaikan ke Lulu, hal-hal yang saya ingin Lulu dengar. Bukan lagi kalimat memintanya untuk sehat, tapi kalimat-kalimat terima kasih, maaf, dan sayang. Lulu harus mendengar betapa saya berterima kasih atas keberadaan dan segala yang dia lakukan dalam hidup saya, Lulu harus mendengar betapa saya menyesal atas segala kelalaian saya dalam merawatnya selama sembilan tahun ini, Lulu harus mendengar betapa saya sangat menyayanginya, betapa dia sangat berharga dalam hidup saya. Dan entah kenapa saat itu saya juga berkata, “Lulu, kalau emang Lulu mau pergi, jangan terlalu sakit ya (sakaratul mautnya).” Sambil mendengar semuanya, Lulu sedikit-sedikit mengibaskan ekornya dengan lemah, membuat suara dengkuran pelan yang membuat hati nyaman, hal yang pastinya dilakukan Lulu dengan sisa tenaganya dan susah payah. Saya yang sudah bergelimang air mata lalu meninggalkan Lulu sebentar untuk mengambil tisu. Ketika kembali, Lulu saya dapati sudah hilang. Saya yang mengira Lulu kabur ke gudang atas lagi lalu marah, “Lulu, kamu jahat, makan ga mau, tapi bisa kabur ke atas.” Begitulah, saya merasa ditinggal olehnya. Karena begadang, saya tidur setelah subuh, tidur begitu saja tanpa tahu, Lulu tersayang sebenarnya sedang tidur tepat di bawah saya, di kolong tempat tidur. Entahlah, Lulu semacam tidak mau dilihat bagaimana dia meninggal tapi ingin ada di dekat saya. Kalau saja saya tau sebelumnya kalau Lulu tidur di bawah saya, saya mungkin akan mengangkatnya dan membuatnya tidur di samping saya, dan saya tidak perlu memanggil-manggilnya untuk turun dari gudang sambil memarahinya. Saya terbangun saat masih pagi karena mendengar sesuatu di bawah kasur, setelah memanggil-manggil, “Lulu? Lulu?” dan tidak ada reaksi lagi, saya yang setengah sadar pun tidur lagi, yep, tolol. Terbangun lagi agak siang, karena mendengar nafas tersengal di bawah kasur, langsung benar-benar bangun dan berdiri kali ini. “Lulu? Lulu?” tidak ada reaksi lagi, tapi saya yakin Lulu ada di sana. Langsung saja saya bongkar tempat tidur itu, agak lama, karena kasurnya besar dan tipikal spring bed lama, berat, belum lagi kamar yang sempit oleh barang-barang membuatnya susah untuk bergerak. Setelah lama berkutat dengan kasur, akhirnya saya melihat gumpalan bulu putih abu itu, tergeletak di bawah sana, saya raba flesh pad-nya yang lembut, dingin, Lulu sudah pergi, selama-lamanya. Saya terus terpaku di sana sampai akhirnya kakak laki-laki saya datang, menghampiri, memeluk dan menenangkan saya, membantu saya menerima kepergiannya. Iya, Lulu sudah pergi, apa lagi yang kita bisa lalukan selain menerima.

Selamat jalan Lulu, terima kasih untuk segalanya, teteh sayang Lulu, selalu.

Wednesday, March 14, 2012

Sehari Menjadi Pejuang Negeri

Sabtu, 10 Maret 2012 merupakan Yaumul Mizan bagi saya, hari dimana saya akan ditimbang. Ditimbang amal? Memangnya sudah siap? Oh bukan, bukan dengan timbangan amal, tapi dengan timbangan PMI Unit Kota Bandung untuk kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan darah dan akhirnya diputuskan boleh mendonor darah atau tidak. Menegangkan kah? Ya, bagi saya ini sama menegangkannya seperti ketika akan menjalani operasi caesar demi melahirkan anak. Memang sudah pernah operasi caesar? Belum sih, tapi sama, sama-sama ‘akan’ menegangkan, dan sama-sama belum pernah saya lakukan, hahaa. YAP! Jika lolos segala pemeriksaan, maka hari ini adalah kali pertama saya menjalani donor darah. Mengapa menganggap bahwa donor darah akan menegangkan? Karena sebelum ini saya pernah juga menjadi ‘calon’ pendonor darah, dan entah mengapa saya begitu tegang saat itu, antara takut melihat darah, atau jangan-jangan memang berhati ciut (tak apalah berhati ciut, yang penting wajahnya imut :3). Walaupun akhirnya tidak jadi mendonorkan darah karena tekanan darah tidak mencapai standard (tak apalah tekanan darah rendah, yang penting tinggi badan diatas rata-rata :3), saya jadi menyadari satu hal, bahwa saya memang takut melihat darah yang keluar dari anggota tubuh. Membayangkannya saja membuat ngilu, mungkin sama seperti orang-orang yang tidak tahan mendengar suara alumunium yang bergesekan, begitu juga saya ketika melihat darah yang keluar dari anggota tubuh, ngilu, geli-geli mematikan, hiii. Lalu, mengapa hari ini ingin mencoba donor darah lagi? Mm, entahlah, ada dorongan yang besar untuk melakukan donor darah, semacam mengambil kesempatan untuk menjadi pahlawan bangsa dengan cara yang mudah, tanpa perlu meruncingkan bambu dan menusuk-nusukkannya kepada penjajah, tanpa perlu menjahit pakaian dalam merah membara dan mengenakannya di luar celana biru ketat, tanpa perlu menumbuhkan kumis-jambang lalu terbang-terbang dengan selendang, ya, mudah, dan hmmm, berhadiah! Slllrrrp! Menurut saya—selagi mampu dan berkesempatan—justru yang tidak mau menjadi pahlawan dengan mudah dan berhadiah itu yang aneh. Iya kan?

Langsung saja, saya yang cantik jelita ini benar-benar sudah siap menjadi Gatot Kaca wanita hari ini (tanpa kumis, jambang, dan rambut keriting di betis tentu saja). Dengan gerakan pasti dan dandanan trendy, saya starter motor hitam saya untuk dikendarai menuju Aston Primera Pasteur Hotel, tempat berlangsungnya acara donor darah (oke, ternyata tanpa terbang dengan selendang juga). Karena hanya sarapan dengan teh manis dan beberapa camilan, juga tak sempat makan siang, maka saya membawa bekal berupa onde-onde isi kacang hijau untuk dimakan sambil menyetir motor. Dan ketahuilah, menyetir motor sambil makan onde-onde kacang hijau besar bukanlah perkara mudah, hanya pengendara motor mahir sekelas saya saja yang boleh melakukannya, kamu yang membaca? Ah, sebaiknya jangan.... Sambil sibuk mengunyah dan menjaga keseimbangan motor, saya menyadari satu hal, bahwa jarum yang menunjukkan isi bahan bakar sudah berada di garis merah. Khawatir bahan bakar tidak cukup sampai tujuan sambil membayangkan saya yang seksi mendorong-dorong motor ke Pasteur dengan bersimbah keringat yang mana hanya akan membuat orang-orang semakin terpikat membuat saya membelokkan motor ke SPBU terdekat. Masuklah saya ke jalur pengantri Pertamax, yang lalu disambut hangat dengan peringatan seorang petugas yang lantang berkata, “Premium antrinya sebelah sini!” Sambutan yang saaangat hangat, kelewat hangat sampai-sampai diterima otak saya sebagai perilaku sinis dan melecehkan. Huh, saya mau beli Pertamax Mas, gini-gini saya termasuk yang mendukung program pemerintah untuk tidak menerima subsidi jika mampu, yang sebenarnya adalah doa supaya saya tak pernah ada dalam golongan tidak mampu. Yang mana juga merupakan pengejawantahan ego yang dipopulerkan Sule OVJ: biar miskin yang penting sombong. Yap, sebenarnya setiap saya ke SPBU ini dan petugasnya mendapati saya yang terlihat kere ini antri di jalur Pertamax, mereka selalu bertanya, “Pertamax?” tapi selalu dengan lembut dan senyum, dan sepertinya memang seperti itulah prosedurnya. Tapi kali ini? Hiiih.... Maka saya pun dengan tegas menjawab, “Pertamax,” yang disambut dengan “Oh,” oleh petugas tadi. Demi menjunjung tinggi prinsip ‘biar miskin yang penting sombong,’ saya yang biasanya hanya membeli Pertamax seharga sepuluh ribu jadi tak segan-segan mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu bergambar pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata yang punya tahi lalat di alis kiri (perhatian ya saya? Hehee, kalo nggak percaya cek aja sendiri). Bahan bakar sudah terisi, Otto Iskandar Dinata sudah berpindah tangan, mari berangkaaat. Ah tunggu, sebelum berangkat, mari periksa dandanan, apakah kerudung masih rapi? Apakah wajah masih.... Oh tidak, siapakah gerangan wanita yang terlihat di kaca spion ini? Kumuh sekali, sekitar mulutnya... sekitar mulutnya... celemongan oleh isi onde-onde yang dimakan saat menyetir tadi, ngaaaaa, pantes aja mas-mas SPBU ini tidak menyangka bahwa saya hendak membeli bahan bakar yang sedikit lebih mahal. Diam-diam saya meminta maaf pada mas-mas SPBU itu dalam hati, “maaf ya mas, saya sempat kesal sekali padamu. Dimaafin kan mas? Iya kan? Nah, kembaliin dong uang pak Otto saya....” Eaaaaa.... (Oh iya, tulisan ini saya buat tidak dengan maksud membeda-bedakan penampilan pembeli Pertamax dan bukan pembeli Pertamax ya, maaf jika ternyata ada yang tersinggung :) )

Sampai! Sampai mana? Sampai Aston Primera Pasteur Hotel tentu saja. Wuih, jantung saya berdetak semakin kencang, tegang jenderal! Saya balik lagi aja ya, Jen! Kayaknya saya nggak kuat deh Jen! Saya kan baru makan sedikit! Duh Jen, nanti kalo saya lemes gimana Jen? Tapi Pak Jejen di dalam hati kecil saya menjawab, “jangan Nisa, kamu sudah setengah jalan menjadi pejuang, mari teruskan.” Begitulah, pergolakan antara si pengecut dan Pak Jejen dalam hati saya dimenangkan oleh Pak Jejen, mungkin Jejen Jumawa kepanjangannya, atau juga Jejen Jeniper Jaelaini, ah tak penting lah. Jangan coba-coba mengulur waktu lagi dengan memikirkan nama panjang pak Jejen Nisa, ayo masuki ballroom hotel, segera. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, bunyi langkah kaki saya, apakah saya mengenakan sepatu kuda? Oh tidak, hari ini saya mengenakan wedges tali warna coklat nan seksi, supaya keliatan pantes aja sih buat masuk hotel, hahaa, tibalah saya di meja daftar ulang. Selesai mengkonfirmasi kedatangan, saya diberikan ini:


Apa sajakah yang diberikan? Sebuah kertas dari PMI untuk diisi, yang berhubungan dengan riwayat calon pendonor, sebuah angket dari Kompas—selaku penggagas acara—yang kemudian bisa ditukar dengan sticker imut warna biru yang bertuliskan, 'Kompas,' ya iyalah, apalagi coba, masa iya sticker bertuliskan, ‘Hari gini masih oper gigi?’ Lalu ada voucher berlangganan Kompas sebesar lima puluh ribu rupiah, dan terakhir, koran. Mengapa koran? Karena koran bisa dibaca-baca saat bosan menunggu antrian donor, dan bagi saya, bisa untuk dikunyah-kunyah saat tak kuat menahan tegang. Masuklah saya ke tempat donor, sudah lumayan sepi rupanya, saya memang datang di siang hari saat itu, langsung saja antri untuk diperiksa. Timbangan, tentu saja lolos. Akhir-akhir ini saya bulat, bergelambir, dan dapat menggelinding di jalanan beraspal. Lalu tes golongan darah dan Hb, untuk itu, ujung jari saya ditusuk manja, cus, lalu darah yang keluar diambil dengan pipa kecil. “Golongan darahnya B,” itu kata petugasnya, yang lalu saya jawab manis, “iya,” yang mana sebenarnya saya jawab dalam hati dengan, “tadi juga kan udah saya bilang golongan darah saya B, nggak percaya, huh.” Setelah itu, sisa darah dalam pipa beliau kepret-kan ke dalam gelas ukur berisi larutan warna biru. “Hb-nya bagus, silakan diperiksa tekanan darah, “entah mengapa, hati saya mencelos saat pertama mencerna kalimat tadi, itu artinya saya mungkin bisa mendonor darah, itu artinya lengan saya akan ditusuk dan dikeluarkan darahnya. Sebelum otak saya mulai memainkan adegan keji seorang wanita yang ditusuk-tusuk bambu lalu memuncrat-muncratkan darah, saya langsung berjalan saja ke meja yang satunya lagi, meja pemeriksaan tekanan darah. Setelah memeriksakan darah saya, ibu pemeriksa tensi darah ini tak berkata apa-apa kecuali menuliskan data-data saya ke dalam kartu donor berwarna biru (untuk golongan darah B berwarna biru), diberi tanggal pada baris pertama, dan, tok, diberi stempel. Begini bentuk kartu itu:

kartu donor

OMG! Artinya saya lolos pemeriksaan tekanan darah juga. Dug dug dug, seketika jantung saya berkejaran, apakah berkejaran di taman berumput dengan seorang pemuda yang pandai bernyanyi dan menari? Bukan, aduuuh, ini sungguh menegangkan, Jen! Lapor Jen, saya tegaaang! Jen? Pak Jejen? Kemana kamu saat dibutuhkan? Pak Jejen yang bijak dalam hati saya saja sudah tak mampu berkata-kata, namun sayang, pintu keluar ruangan donor hanya satu dan dijaga oleh petugas, huwoooh. Tak ada pilihan lain, dengan ucapan bismillah, saya berbaring di kasur PMI, tidak empuk, tak apalah, bukankah seorang terpidana tak membutuhkan tali emas saat digantung mati? Tapi heeei, kamu bukan terpidana Nisa, kamu pejuangnya, kamu pahlawannya, dan ini medan perangmu. Cihuy! Semangatku kembali terpompa. Saya pejuang di sini!

Berbaringlah saya di kasur itu, sambil mengingat Tuhan dan mengingat mati. Saya pun jadi teringat dia yang tersayang, maka, sebelum akhirnya saya ditusuk-sedot-kuras (jadi semacam tagline penyedot WC ya? Hahaa...), saya pun menyempatkan diri menulis pesan singkat kepadanya, begini kira-kira: 

Sayang, aku kan pergi tuk berjuang. 
Jika terjadi apa-apa, 
tolong jaga cinta dan anak-anak kita, 
sekolahkan hingga S2. 
Satu lagi yang kupinta, 
jangan pernah berpikir untuk mencari pengganti, 
atau aku akan datang lagi dalam bentuk setan seksi. 

Haru saat itu, tapi... bohooong, pesan semacam itu tak pernah benar-benar saya kirim, ahahaa, yang benar saja. Yang jelas, di tepian harapan dan pulsa yang tinggal sedikit lagi itu saya memang meminta penguatan diri dan ditemani :).

“Baru pertama kali donor ya?” kata petugas yang akan mengeksekusi. “Iya,” kataku sambil menahan gemetar. Gemetar karena begitu takut? Bukan, dingin, Jenderal, hotel ini memasang pendingin ruangan berkekuatan Putri Kipas kakak ipar Sun Go Kong saya rasa. “Pantesan masih lembut, pembuluh darahnya masih jauh di dalam,“ lanjutnya. Sungguh bang, kalimatmu yang satu ini sama sekali bukan kalimat menenangkan, saya jadi membayangkan adegan si abang menusukkan jarum di lengan kiri saya, lalu dengan riang berkata, ‘ah, nggak kena!’ lalu dicabut lagi, dimasukkan lagi, lalu berpindah ke tangan kanan, dicabut lagi, dimasukkan lagi, begitu terus sampai imsak. Abang-abang itu kemudian melakukan prosedur pengambilan darah; membelit tangan saya dengan tensimeter, lalu menggerak-gerakkan lengan bawah saya turun naik berkali-kali, kalau tangan saya saat itu sedang memegang barbel kecil, mungkin saya akan terlihat seperti Agung Hercules dari kejauhan. Huh hah huh hah. Beberapa saat kemudian, si abang berkata, “tarik nafas yang dalam...,” belum sempat saya menarik nafas dengan benar, lengan saya terasa di... Haduuu, udah ditusuk aja lengan saya. Tapi ternyata tidak sakit sama sekali. Wahai orang-orang yang belum mau didonor darah karena khawatir akan sakit, ditusuk jarum itu sama sekali tidak sakit! Dan satu lagi, rumor yang mengatakan bahwa donor darah itu menggunakan jarum berdiameter setara ballpoint, itu bohong! Yap, memang tidak sakit, tapi... oh, tangan saya kesemutan, mati rasa ringan. Saya memang sadar, bahwa kesemutan ini berarti tangan saya kurang asupan darah, dan juga karena lengan atas saya terbelit kencang. Tapi, namanya juga panik, yang ada di pikiran saya saat itu adalah, bagaimana jika aliran darah ke ujung-ujung jari benar-benar terhenti, sel-selnya mati, lalu akhirnya harus diamputasi seperti penderita hipotermia yang berada di badai salju berhari-hari. Saya pun berkata dengan panik, “A, ini emang harus mati rasa ya tangannya?” Dengan sabar, abang-abang tadi memberi pengertian dan menyarankan agar saya menggerak-gerakkan jari-jari saya. Memang bakat jadi istri penurut, saya pun menuruti perintah abang-abang tadi, dan, ya, tangan saya sudah tak terlalu kesemutan lagi.

Proses pendonoran darah saya berlangsung cukup lama, daripada tenggelam dalam ketegangan mendalam, saya pun mengalihkan perhatian dengan mengabadikan diri, lagipula, melihat wajah saya adalah kesenangan tersendiri bagi saya, hahaa...

tetap manis meski sedang mendonorkan darah

Tiga puluh menit, kira-kira selama itulah proses pendonoran darah saya, terbilang lama, karena sempat macet darahnya (dan sempat membuat saya sangat panik). Setelah selesai mendonor dan diplester, lalu, aha, inilah yang saya tunggu-tunggu, pembagian souvenir, muihihii :3 Inilah yang saya dapatkan setelah mendonor darah di sana:

dua buah goodie bag, Kompas dan J&C

Apa saja isinya? Tentu saja macam-macam, ini isinya:


Yap, itulah isi dari dua buah goodie bag tadi, dan jika dikelompokkan berdasarkan golongan fungsi, isi goodie bag tersebut adalah:

1. bacaan

Yap, golongan pertama adalah bacaan, dalam hal ini berupa tabloid, yang mana fungsinya adalah memberi informasi dan juga dapat dibaca ketika senggang.

2. makanan

Yang kedua adalah golongan makanan, golongan yang paling saya nikmati dan syukuri. Fungsinya? Ya untuk dimakan, diminum, atau jika merupakan pemamah biak, bisa untuk dikunyah-telan-lepeh-kunyah lagi-telan lagi, yiks.

3. voucher XXI

Yang ketiga adalah voucher XXI, golongan yang juga sangat saya syukuri keberadaannya di dalam goodie bag, tentu saja untuk bisa menonton gratis/separuh harga di 21 dan XXI manapun, cihuy!

4. obat-obatan

Yang keempat adalah obat-obatan, lumayan juga, bisa dicoba saat sakit dan kebetulan tak ada obat di rumah. Alhamdulillah.

5. tisu saku

Golongan kelima berupa tisu, tisu saku, bentuknya praktis, aerodinamis, dan bisa dibawa kemana-mana. Fungsinya? Hmm..., aha! Bisa dibakar untuk kemudian menghipnotis siapapun yang duduk di sebelah kita.

6. brosur

Yang keenam adalah golongan brosur, ya, ada berbagai brosur yang dimasukkan di dalam kedua goodie bag yang ada. Dan ini, ini yang paling saya tak mengerti fungsinya apa, karena selama 23 tahun saya hidup berumah tangga, tak pernah sekalipun saya menjadikan brosur sebagai camilan di saat senggang.

Puas mengamati isi goodie bag yang saya terima, saya pun masuk ke ruangan di sebelahnya, ruang di mana hiburan bagi pendonor berlangsung. Yang sedang tampil di panggung adalah Fun-tastic String Ensemble, keren sekali mereka, saat sedang diambil darahnya tadi pun saya bisa mendengar mereka beraksi, memainkan lagu ‘Nobody-Wonder Girls’ yang begitu Pop dengan gaya mereka yang hampir orkestra, wuw! Saya pun jadi tak ragu untuk duduk di ruang itu, menikmati musik yang dimainkan mereka.

Fun-tastic String Ensemble di atas panggung

Di akhir pertunjukan, saya sama sekali tak menyangka, mereka membawakan lagu nasional 'Tanah Air', leader-nya meminta kami semua berdiri dan menyanyi bersama. Menurutmu, kami akan bagaimana? Yap, kami semua serentak berdiri, tua, muda, Sunda, China, semuanya, kami semua menyanyikan lagu yang sama, Tanah Air.


Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh, tidakkan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai. Walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku rasa senang, tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan.

Benar-benar terharu saya saat itu, dan percaya atau tidak, saya sempat menitikkan air mata, ya, kami semua yang berdiri di sini, sedang menunjukkan cinta yang nyata, untuk Indonesia. 

Acara diambil alih kembali oleh MC, saatnya games sekarang, dan oh, saya yang sedang duduk-duduk sambil mengamati kembali isi goodie bag, tiba-tiba dipanggil ke depan oleh MC wanita, “teteh kerudung kuning, meuni geulis, ayo ke atas panggung teh.” Dengar itu Indonesia! Dengar, ternyata pesona catikku tak hanya diterima oleh kaum Adam saja, tapi juga kaum Hawa, dan kaum diantara keduanya, cihuy! Saya pun naik ke panggung bersama empat orang lainnya yang juga dijadikan tumbal demi serunya acara sore itu. Coba, coba tebak, apa yang harus saya lakukan di atas panggung itu? Ngesot sodara! Ngesot dari ujung panggung lalu minum susu kotak yang sudah disiapkan diujung panggung yang satunya lagi. Hoh, seketika saya berpikir bahwa orang-orang yang berada di ruangan ini adalah orang paling beruntung se-Bandung Barat Daya, bayangkan saja, mereka bisa melihat secara langsung bagaimana seorang Zooey Deschanel mengesot dengan gemulai, kapan lagi coba?

MC yang sedang menyiapkan susu kotak untuk diminum oleh kami =="

Satelah berhasil menyelesaikan permainan, saya pun mendapatkan ini:

voucher XXI (lagi)

Sebuah voucher XXI lagi, hooray! Aku jadi punya dua voucher, kini aku bisa mengajak serta dia yang tersayang, handai taulan, ataupun tetangga dekat untuk menonton bersama. Atau bisa jadi, jika dua voucher XXI yang saya punya ini digabungkan, maka akan bisa ditukarkan dengan BLT dan raskin, ahiy! *duh, bisa jadi memang beginilah gambaran rakyat saat ini, perpayah-payah mengesot dahulu, baru mendapat bantuan kemudian, jangan sampai...

Setelah itu, acara memasuki puncaknya, yaitu... tamtararamtamtaaam... penarikan pemenang doorprize utama, berupa kulkas Electrolux. Pemenang pun didapatkan.


Dan coba tebak, apa yang terjadi pada seluruh peserta setelah penarikan doorprize ini? Ngabuuur, hahaa, hampir serentak seluruh peserta keluar dari ruangan saat pemenang kulkas naik ke atas panggung, ahahaa, kentara sekali ya, bahwa yang menahan mereka di sana adalah hadiah doorprize utama. Tapi, make sense juga sih, toh acara sudah benar-benar selesai, terus untuk apa lagi peserta tinggal di tempat? Bantu petugas bersih-bersih gelas? Bantu lepasin back drop? Bantu MC cewek bersihin dandanan? 

Bagaimana dengan saya? Saya juga hendak pulang tentu saja, tapi... kepala saya tiba-tiba pusing, pusing berat. Saya harus bagaimana? Ah, saya tetap pulang saja. Kenapa? Coba deh bayangin, saya duduk sebentar aja tiba-tiba disuruh naik ke atas panggung dan ngesot, gimana kalo saya duduk lama-lama di sini? Mungkin akan disuruh naik ke atas panggung dan salto-salto sampai tempat parkir, hih, ogah. 

Pulang aja nih? Iya pulang. Maka berkendaralah saya, terus, lurus, tanpa banyak berpikir, yang malah membuat saya... MARMUT! NGAPAIN SAYA NAIK FLY OVER? Iya, karena begitu minimnya kemampuan berpikir otak saya saat itu, saya salah jalan, saya jadi naik jembatan Pasopati. Ihik, semakin jauh saja jalan saya menuju pulang, dan pusing-pusing mau pingsan ini masih menyerang. Sisa kecerdasan saya mengatakan bahwa saya harus berhenti di suatu tempat makan, beristirahat dan makan di sana, sampai pusing ini berkurang. Maka saya pun turun fly over di Taman Sari, lurus sedikit ke Taman Cikapayang dan belok kiri menuju Dago, yang terpikir oleh saya saat itu adalah food court Imam Bonjol. Huuuh, untung saya selamat sampai tujuan, langsung saya duduk di sana, dan memesan lomie. Lomie seolah menjadi asupan penyelamat bagi saya saat itu, ya, setelah makan lomie, mata saya menjadi cerah kembali, pusing di kepala saya tak terlalu mengganggu lagi. Berikut saya sertakan foto saya, sebelum dan sesudah makan lomie:

foto saya sebelum dan sesudah makan lomie

Setelah merasa cukup dan siap untuk melanjutkan perjalanan, saya pun pulang dan mengendarai lagi si motor hitam kesayangan. Di tengah jalan, ternyata pusing mendera lagi, tapi sampai juga akhirnya saya di rumah, alhamdulillah. Karena merasa sangat lemas, setelah sholat saya pun langsung tidur, tidur lamaaa sekali. Sebelum tidur saya berjanji, akan donor darah lagi di kemudian hari.

P.s.: Setelah donor darah, nafsu makan saya jadi barbar. Yang tadinya saya cukup kenyang dengan porsi sarapan princess, yaitu sepotong gehu dan bala-bala (yeah, there's a thin line between princess and 'kere', hahaa...), namun sampai beberapa hari setelahnya, saya jadi cepat lapar, sarapan pun harus dengan bubur-ayam-plus-hati-ayam-plus-telor-ayam-rebus. Tapi tak apa, bukankan kita harus bangga telah menjadi pejuang? :)

Sampai jumpa di-posting-an berikutnya! :D

Wednesday, March 7, 2012

Andai Aku Kucing



Lihat kucing itu, berguling, berlari, menggaruk, mengeong. Mm, tapi kamu tidak senyum, mana senyummu hai kucing? Ah, tak senyum pun kamu pasti bahagia kan? Andai aku kucing, walau tak bisa senyum, aku selalu bahagia. Tanpa harus memalsukan senyum, semesta tahu aku bahagia.

Lihat kucing itu, menjilat rambut dengan tekun, sesekali digigit-gigitnya sejumput rambut dengan gemas, hihii, ada kutu rupanya. Andai aku kucing, satu-satunya masalah serius yang pernah melintas di pikiranku hanyalah cara menumpas kutu yang bersembunyi di bagian tengkukku. Jika majikanku perhatian dan rajin, maka masalah yang ada hanya bagaimana agar selalu makan enak tanpa kegendutan dan susah berjalan, ah, mungkin juga hal ini tak jadi pikiranku, mungkin aku terlalu bahagia untuk berpikir.

Lihat kucing itu, mendengkur di pangkuan seorang gadis kecil, nyaman sekali tidurnya. Andai aku kucing, tak perlu aku risau akan hidupku esok hari, gadis kecil ini akan datang setiap hari, memberi makan, memberi seperempat gelas susu yang tak dia habiskan saat sarapan, mengelus dagu, dan sesekali menggelitik perutku. Ah, satu lagi favoritku, jika dia tak dijemput pulang ibunya yang menyuruh belajar, akan ada waktu untukku tidur di pangkuannya yang hangat.

Andai aku kucing, aku akan berguling, berlari, menggaruk, dan mengeong. Berjalan menyusuri jalanan berumput, lalu berguling di tumpukan pasir, menggaruk tumpukan sampah ketika lapar, dan..., oh, mana makananku? Bukankah biasanya tempat sampah di warung makan ini menyediakan banyak tulang ikan untukku, sekarang mana? Ah, aku mengeong saja! Hai kamu yang manusia, tahukah bahwa eongan ini berarti aku lapar? Ah iya, aku kucing..., membahasakan maksudku saja aku tak mampu. Bekerja? Mana mungkin, keterampilan yang aku miliki adalah melompati atap dan pagar, bukan mencuci piring di rumah makan ini demi mendapatkan sisa tongkol. Lalu bagaimana? Tidur saja, berharap tidak mati, dan kembali lagi esok hari.

Andai aku kucing, aku hanya akan sibuk menjilat rambut, dan jika beruntung, kraus, tergigit kutu yang melintas di punggungku, senangnyaaa. Tapi menggigit kutu tak akan membuatku kenyang kan? AHA! Majikan! Tunggu, aku tak cukup lucu untuk punya majikan yang mencukupi kebutuhan makanku, apalagi menjaga lembut rambutku. Oh iya, ada ibu! Umurku baru satu, bolehlah kuminta makan pada ibu. Itu ibu! Ya, itu ibu, ibu yang sibuk mengurusi adikku, aku hanya akan diusirnya jika mendekat, disangka akan mengganggu adikku. Bukan adik sebenarnya, tapi adik-adik, ya, adikku kembar lima, diizinkan mendekat pun ibu tak akan lagi mengenalku, anaknya terlalu banyak.

Andai aku kucing, aku akan mendengkur sepanjang hari, tak usah pikirkan esok. Pekerjaan rumah, tugas kuliah, tumpukan pekerjaan, aku tak punya, mari bersiap tidur, satu, dua, tiga, tarik selimutnyaaa. Eh, aku kan kucing, jangankan selimut di malam yang dingin, hari hujan pun aku akan tetap tidur di sini, tanah yang basah dan berbau lumpur. Tak apa, tak apa, aku sudah makan dan hari tidak hujan, sepoi angin ini akan mengantarku jauh terlelap. Nyem, nyem, mungkin ini yang namanya mimpi, ada suara anak kecil di sini, pastilah gadis kecil itu, sudah dua hari dia tak menghampiri. Ah, mungkin ini bukan mimpi, karena suaranya semakin dekat, tunggu saja, sebentar lagi dia akan mengelus lembut punggungku. Nah, sudah mulai disentuhnya aku, nyamaan, EH, apa ini, bukan, bukan begini cara mengangkat tubuhku, bukan dengan menggenggam ekorku, sakit, dan lagi, ini bukan gadis manis itu, siapa kamu? Uh, sulit sekali mencakarmu. Lagi-lagi aku mengeong, keras kali ini, mungkin akan ada yang membantuku, kulihat ada sekumpulan anak lain di sana, mungkin mereka akan membelaku, mereka datang, syukurlah, mereka sudah dekat, dan kini.. menertawakanku. Ada gunting di tangan salah satu yang memakai baju biru, kres kres kres, renyah sekali suara kumisku dicukurnya. Aku gigit saja tangannya, kucakar kuat lengannya, tapi, ugh, aku malah ditendang yang berbaju ungu, tapi tak apa, sudah cukup puas aku melihat luka gores di lengannya, semoga menjadi pengingat untuk tak lagi mengganggu sesamaku. Aku bebas sekarang, aku tidur lagi saja. Di sini? Tidak, lebih baik mencari tempat berteduh lain yang lebih aman, di teras rumah seorang nenek di seberang lorong itu saja, ayo jalan. Ah, mengapa jalanku sedikit limbung, mm, mungkin hanya perasaanku saja, toh setelah menyusur lorong, aku bisa tidur damai, hup... mm, duh, apakah tersangkut di lorong juga hanya perasaanku saja? Tidak, ini bukan hanya sekedar perasaan, aku kesulitan menerka ruang, betul juga, kumisku sudah tak ada.

Andai aku kucing.. Ah tidak, aku bahagia jadi manusia, bersyukur atas apa yang aku punya, bersyukur atas apa yang aku bisa lakukan.

Monday, February 27, 2012

Mengetahui Kepribadian Pria Melalui Kukunya

Ini tulisan saya saat SMA dulu, kebetulan nemu beberapa hari yang lalu di sebuah binder tempat saya mencurahkan hati dan pikiran labil saya masa itu, hahaa. Karena lumayan menarik, saya jadi tertarik mengetiknya di blog ini. Jadi, jika menemukan beberapa atau banyak kata yang tidak pantas, yaaah, namanya juga anak muda :P Selamat membaca! :D


Mengetahui Kepribadian Pria Melalui Kukunya

Kuku Bersih, Terawat, dan Tercukur Rapi
Dia pintar mengurus diri, anak, dan istri. Senantiasa menjaga kebersihan gigi dan mencuci kolor setiap hari. Disiplin diri tinggi, juga baik hati.

Kuku Bersih, Terawat, dan Merah Muda
Merah muda? Hoh! Anda patut curiga ketika mendapati pria yang mewarnai kukunya dengan merah muda.


Kuku Kecil, Langsing, dan Panjang

Orang dengan kuku tipe ini memiliki kecenderungan mengupil yang sangat tinggi.

Kuku Besar-Pendek-Kotak-Bantat
Percaya dirinya besar, badan lebar, wajah bundar, dan berpribadi barbar. Mudah beradaptasi, berpotensi mendapat banyak teman dan relasi.

Kuku Lebih Besar dari Jempol Kaki
Bukan kuku, pakai kacamata anda dan pastikan yang anda lihat adalah kulit jengkol muda.

Satu atau Dua Kukunya Patah
Mungkin dia mengemban pekerjaan berat sebagai kuli angkut atau buruh tani, pekerjaan yang mulia.... Tapi sebaiknya tanya dulu penghasilannya sebelum memutuskan untuk menikah.

Hanya Punya Satu Kuku di Tiap Tangan dan Kaki
KUDA! Kalau pun memang berjenis pria, tapi ini pria kuda. Jangan pernah berpikir untuk menikah dengannya.


p.s.: demikianlah arti kepribadian pria melalui kuku hasil cenayang Nisa. Kini anda tak lagi bimbang dalam memilih dan menilai pasangan. Semoga bermanfaat.

Monday, September 20, 2010

Ah MASAK, Ah Iya, Gengsi Dong!

17 September 2010
Ah MASAK, Ah Iya, Gengsi Dong!
Kamu yang seumuran saya pasti tau dong kalimat di atas penggalan dari lagu apa? Hahahaa, ya, itu penggalan lagu pengiring permainan anak-anak. Aneh memang (dan memang semua lagu pengiring permainan anak di Indonesia berlirik aneh sepertinya =_=”), tapi untuk tulisan saya yang satu ini, mungkin akan cukup mewakili. Mengapa? Karena saya akan membahas tentang suatu pekerjaan bernama: MASAK. Oh, cukup, cukup, tak usah ada efek petir ketika saya menyebutkan kata MASAK. Jadi, kalau boleh dihubung-hubungkan dengan judul tulisannya, saya akan berkata begini, “ah, masak? Ah iya! Gengsi dong kalo nggak bisa masak.” Ya, ya, oke, memang judul tulisan yang sedikit maksa ternyata, tapi tak apalah, langsung saja kita bahas mengenai masak itu sendiri.
Masak. Kamu bisa masak? Masakan apa saja yang bisa kamu buat? Apa masakanmu yang paling kamu banggakan? Sejak kapan bisa masak? Sejak kapan ingin bisa masak?
Wuw. Kalau saya yang ditanya dengan sejumlah pertanyaan di atas maka akan saya jawab:
Bisa masak?
  • Bisa dong. Oke, bisa sedikit. Ya, ya, ya, saya jujur, kemampuan memasak saya saat ini hanya lebih sedikit saja dari angka nol.
Masakan yang bisa dibuat?
  • Banyak, mie instan—kuah dan goreng, sarden instan, marsh potato instan, spaghetti instan (yang tentunya sudah dilengkapi saus), kentang goreng, telur dadar, telur mata sapi, tempe goreng, tahu goreng, tempe kecap, sosis kecap, dan tumis kangkung. Oh lihat, cukup banyak bukan? Dan cukup bodoh untuk perempuan seusia saya.
Masakan yang dibanggakan?
  • Tumis kangkung.
Sejak kapan bisa masak?
  • Kalau membuat mie instan benar-benar bisa dikatakan kegiatan memasak, maka dengan bangga akan saya jawab: SEJAK SD! YEAH!
Sejak kapan ingin bisa masak?
  • Sejak saya berpikir bahwa suatu saat nanti saya akan menikah.
Saya yakin bahwa hanya akan ada 1 dari 100 atau mungkin 1 dari 10.000 perempuan di dunia ini yang tidak menginginkan bahwa satu kali dalam seumur hidupnya dia didandani habis-habisan, duduk di sebelah pria yang paling dia cintai, dan dengan tegang mendengarkan sang pria membacakan ijab-qabul baginya. Ya, semua perempuan di dunia, dengan budaya macam apapun dia dibesarkan pastilah menginginkan dirinya suatu saat mengalami apa yang disebut dengan menikah. Dan sudah menjadi fitrah pula bahwa perempuan menginginkan pria yang benar-benar dia sayangi yang menjadi pendamping hidupnya. Begitu juga saya, saya ingin menikah, menikah dengan pria yang benar-benar saya sayangi, dan kepada orang itu lah nantinya saya akan memberikan yang terbaik. Terbaik dari mana kalau masakan yang bisa saya banggakan hanya tumis kangkung? Terbaik dari mana kalau nantinya, yang bisa saya sajikan setiap hari hanya makanan-makanan instan? Ah, bisa-bisa nanti orang yang saya klaim paling saya sayangi itu malah terkena berbagai penyakit akibat terlalu sering saya beri makanan serba instan. Ironis.

Jadi, basa-basi diatas itulah alasan mengapa saya ingin bisa memasak, masak yang sebenar-benarnya masak. Seperti yang ibu saya, dan ibu-ibu lainnya lakukan di rumah. Terlebih lagi, saya ingin menjadi pantas, ya, sejauh ini belum ada yang bisa saya banggakan dari diri saya, yang bisa menjadi alasan untuk kamu memilih saya. Menyedihkan? Tidak juga, tidak karena saat ini saya punya keinginan untuk bisa. Butuh waktu yang lama memang, tapi lihat saja, mungkin dua, tiga, atau empat tahun lagi saya akan memilikinya. Satu kemampuan yang membuat kamu akhirnya mempertimbangkan saya. Yah, semoga saja, semoga suatu saat nanti saya bisa berada di dapur rumah yang kau huni, memasak makanan kesukaanmu, mendengar kamu memuji masakanku. Bukan, bukan sebagai pembantu, ah, enak saja.
Nah, untuk tekad dan niat baik yang saya camkan dalam hati ini, marilah sama-sama kita ucapkan lagi, “ah, masak? Ah, iya! Gengsi dong kalo nggak bisa masak!” Oke, oke, memang sangat norak, hahaa, lagian mau-maunya ngikutin saya. Hahaa, salam.

Thursday, September 16, 2010

Which One Should I Believe?

Saat ini, ada dua opsi jawaban yang sedang bermain-main dalam kepala saya, keduanya saling bertolak belakang dan menimbulkan dua emosi berbeda yg sulit diidentifikasi.

Opsi pertama, spesial, satu. Di mata saya dia akan terlihat baik dan sempurna seperti sebelumnya, masalahnya, saya sendiri merasa tidak cukup pantas diperlakukan seperti itu.

Opsi kedua, tidak spesial, satu diantara banyak. Saya memang pantas diperlakukan seperti itu, karena saya sendiri memang jauh dari istimewa, masalahnya, dia akan terlihat sedikit buruk di mata saya, tak sebaik dan sesempurna sebelumnya.

Jadi apa yang harus kupercaya? Jawaban menyenangkan yang menyelimutiku dengan rasa nyaman tapi sewaktu-waktu bisa membangunkanku dengan rasa sakit yang luar biasa? Atau jawaban menyedihkan yang menyeret-nyeretku dalam kepedihan berintensitas sama, yang bisa saja membuatku kuat pada akhirnya (atau justru rapuh dan tak mampu bertahan)?

Kamu tahu jawabannya?

Suatu Subuh di Bulan Ramadhan

4 September 2010

Entah sejak kapan saya punya kebiasaan minum air banyak-banyak menjelang waktu imsak, kalau tidak minum air minimal 4 gelas saat sahur, seluruh bagian tubuh saya seperti menyesal dan berkolaborasi membentuk satu pikiran bahwa saya tidak akan kuat puasa sampai magrib, akhirnya apa yang saya lakukan selanjutnya adalah bermalas-malasan dengan alasan menghemat cairan tubuh, bahkan pernah saya menahan pipis dengan keyakinan yang tinggi bahwa air dalam urinary bladder itu dapat direarbsorpsi untuk pemakaian sehari-hari, oke ini adalah pemikiran yang salah saudara-saudara.

Tapi begitulah, sahur hari ini saya minum banyak sekali air, sampai-sampai rasanya air itu mengambang-ngambang di tengah tenggorokan. Mungkin jika saya melakukan dobel salto atau sikap lilin air itu akan mengalir begitu saja dari mulut saya, mblwueeeeh, oh tidak perlu, tidak perlu dibayangkan.

Jika sudah begini, apa yang saya rasa selanjutnya adalah mengantuk, mengantuk parah, maka saya pun mencuri-curi tidur, saya akan tidur selama sekitar 5 menit sebelum akhirnya wudhu dan sholat subuh (tapi tidak setiap hari begini loh). Jika tidak dibangunkan oleh sang mamah, biasanya rasa ingin pipis lah yang membangunkan saya.

Saya pun akhirnya bangun, 10 persen sadar, 40 persen rasa ingin pipis, dan 40 persen rasa kantuk. Berjalanlah saya ke kamar mandi, melakukan pose pipis seperti halnya yang orang lain lakukan di wc jongkok. Dan karena telah meminum banyak sekali air, maka durasi pipis saya sangatlah panjang. Tidak masuk di akal memang, tapi apa yang saya lakukan selanjutnya adalah tidur, ya, tidur sambil pipis. Saya sendiri tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi, mungkin penjelasan ilmiahnya akan sama dengan fenomena-fenomena mengompol, atau pipis dalam tidur. Entah berapa detik atau menit lamanya, saya tidur dalam pose pipis, kemudian, tuk, terbangun karena hampir jatuh ke depan. Hampir saja, hampir saja saya mempermalukan diri sendiri di depan keluarga. Apa jadinya dengan harga diri saya jika saya ditemukan oleh ibu saya dalam keadaan pingsan di kamar mandi dengan alasan tidak sengaja tidur ketika pipis, uuuh. Setelah itu barulah saya sadar penuh, menyelesaikan urusan di dalam kamar mandi (wudhu), dan segera keluar dari kamar mandi.

Selesai sholat saya selimutan lagi, sambil menceritakan kejadian dalam kamar mandi kepada ibu saya dengan setengah sadar, “Mah tadi dede hampir jatoh di kamar mandi.”

“Kenapa,” ibu saya menjawab.

“Ketiduran waktu pipis.”

“MUAHAHAHHAHAHAHHAAAA,” saya pun tertidur seiring memudarnya suara tawa ibu saya.

Jadi, hikmah yang bisa saya ambil dari cerita ini adalah…, apa? Memang ada ya? Oh sepertinya ada, kalau pun tak ada marilah kita ada-adakan saja, jadi, sholat subuhlah anda sekalian sebelum mengantuk, jangan minum berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan, dan janganlah membuang sampah sembarangan, karena pak H. Dada Rosada, mencanangkan Bandung Bermartabat sejak masa jabatan 2004-2008.

Salam hangat.